Friday, October 30, 2009

Gifslangen

"Tungguin! Woy!"
Aku menoleh ke bawah. Amir si tambun bersandar di dinding besi pelat itu, terengah-engah kehabisan napas.
"Siapa yang tadi nantangin gue naik ke atas?" Aku tertawa dan melanjutkan langkah. Meniti tangga memutar yang sangat curam.

Baru separuh jalan. Napasku nyaris putus.


Perempuan itu cantik sekali. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih. Wajahnya yang bulat telur dihiasi hidung bangir, mata bak buah badam, bibir yang mungil dan sepasang lesung pipi yang muncul ketika ia bicara. Sang Sultan terkesima. Perempuan itu adalah mahluk paling cantik yang pernah dilihatnya.
"Siapa namamu?" Tanya sang Sultan.
"Fatimah, Tuanku."
Saat itu juga Sultan Zainul Arifin yang jatuh cinta memutuskan untuk menikahinya.



"Tungguiiiin!!!" Di bawah kudengar lagi teriakan Amir yang nyaris kehabisan napas.

Ada 270 anak tangga yang harus ditapaki dan 12 tingkat yang harus dilalui sampai akhirnya kami tiba di tingkat ke-13, dimana ruang lampu berada. Kami menatap lurus ke depan, pada pemandangan menakjubkan di luar sana. Lautan luas dan lepas. Amboy! Kami merasa begitu tinggi, begitu berkuasa dengan lampu besar menyala yang menunjukkan jalan bagi pelaut yang tersesat.

Mercusuar itu berada di Pulau Edam atau Damar Besar, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Seribu. Dibangun tahun 1879, setinggi 52 meter dari tanah, salah satu sisa kejayaan masa kolonial Belanda. Pulau ini juga pernah menjadi garis depan pertahanan tentara pendudukan Jepang. Aku dan teman-temanku sengaja datang ke sana untuk membuat sebuah tulisan feature tentang Kepulauan Seribu.

Aku kembali ke Kepulauan Seribu, kali ini tidak dengan kapal phinisi, melainkan perahu motor nelayan yang disewa untuk seharian. Kami hanya berempat. Aku, Amir, Ida dan Ludfi.


Armada laut kesultanan Banten yang terkenal kuat sejak zaman Sultan Ageng Tirtayasa membuat Belanda cemas. Sementara di suatu tempat di tengah Pulau Jawa ada kerajaan Mataram yang sama kuatnya. Utusan mereka telah berkali-kali datang ke Banten untuk menjalin kerja sama.

Di masa pemerintahan Sultan Zainul Arifin banyak terjadi pemberontakan rakyat, karena ketidakpuasan mereka terhadap kompeni yang memberlakukan kerja rodi, tanam paksa dan lainnya.

Belanda berpikir, apa jadinya jika Kesultanan Banten (dan armada lautnya yang kuat) bekerja sama dengan Kesultanan Mataram (dan pasukan daratnya yang tangguh) mengusir mereka dari tanah jajahan yang makmur ini?

Sebuah strategi harus diambil. Rencana mereka harus dipercepat.



Sebetulnya mercusuar itu bukan untuk umum. Selain karena kondisi tangga yang rapuh, di puncak menaranya ada instalasi pemancar pesawat terbang. Ada seorang penjaga yang ditempatkan di sana untuk menyalakan lampu besar setiap malam. Ia berjaga bergiliran dengan beberapa rekannya setiap enam bulan sekali.

"Enam bulan sekali?" Seru Ida. "Bapak berada di pulau ini selama 6 bulan tanpa siapa-siapa?"
Pak Nanang, penjaga yang kami temui tersenyum. "Kami sudah biasa, Neng."

Kami menemukan reruntuhan sebuah benteng mirip benteng yang ada di Pulau Kelor. Hanya saja benteng di Damar Besar kondisinya rusak parah. Bangunan inti berbentuk kerucut terpancung, berfungsi sebagai tanggul meriam. Temboknya sudah penuh dengan lumut dan tertutupi tanaman menjalar.

Bangunan inti sebagian padat dan sebagian berongga. Bagian yang berongga merupakan ruang bawah tanah atau bungker. Kondisinya sudah tertutup tanah dan akar pohon.

"Ada apa ya di dalam sana?" Amir berbisik padaku.
"Harta karun?" Aku balik bertanya.
"Senjata VOC kali ya? Lumayan tuh barang antik."
"Hm, mungkin tulang belulang serdadu kompeni?"
Amir bergidik. Dasar penakut!

"Kalian tidak mau melihat makam di sana?" Tanya Pak Nanang. Ia menunjuk ke tengah pepohonan. "Adanya di balik sana."
"Makam siapa Pak?"
"Ratu Banten dan pengikutnya."
"Kesana yuk!" Ida menggamitku. Kami meninggalkan mercusuar, berjalan menerobos hutan.

Tiba-tiba seekor ular melintas cepat di jalan setapak.
"Aaaaah!" Ida menjerit.
"Cuma numpang lewaaat." Ludfi nyengir.
"Yakin?"
"Yakiiiin..."

Ular itu simbol pengkhianatan kan?


Sebelum menikah dengan Sultan, perempuan keturunan Arab itu seorang janda. Mendiang suaminya yang pertama adalah seorang letnan VOC berdarah Melayu di Batavia. ia datang ke Banten dengan misi khusus.
"Laat de sultan verleid door u, Fatimah 1)," ujar Gubernur Jenderal Van Imhoff.
"Ja, meneer. Ik zaal kijken wat ik voor je kan doen." 2)


Makam itu tak seperti yang kami bayangkan. Bukan makam tua berlumut yang nisannya nyaris runtuh, melainkan dipagari tembok dan teralis besi. Ada lima makam, salah satunya paling besar, diberi atap dan berlantai keramik. Syarifah Fatimah, wali Sultan Banten, dikebumikan disini.

"Siapa sih dia?" Amir bertanya padaku, seolah-olah aku si segala tahu.


"Benarkah apa yang engkau katakan itu, Fatimah?" Sultan menatap permaisuri tercintanya dengan marah.
"Tuanku sudah mendengarkan saksi-saksi yang saya bawa ke hadapan Tuanku. Pangeran Gusti merencanakan perebutan kekuasaan terhadap Tuanku."

Sultan yang murka menyuruh putra mahkotanya, Pangeran Gusti, menyingkir dari istana dan pergi ke Batavia. Namun atas desakan Fatimah, Pangeran Gusti diserahkan pada Belanda dan kemudian diasingkan ke Srilanka. Sebagai ganti putra mahkota, diangkatlah Pangeran Syarif Abdullah, menantu Fatimah dari mendiang suaminya yang pertama.



"Orang-orang yang berziarah kesini dan minta berkah itu bodoh dan syirik. Udah menduakan Allah, salah paham pula. Ngapain minta berkah ke perempuan ini. Dia nggak suci. Pengkhianat, tau."


Perempuan itu telah mengkhianatinya mentah-mentah, demikian yang dipikirkan Sultan Zainul Arifin dalam selnya yang sempit dan kotor. Ia bukan lagi penguasa Banten. Fatimah memfitnahnya sehingga orang-orang mengira ia gila dan mengurungnya.
Singgasananya kini dikuasai menantu Fatimah, yang kini bergelar Sultan Syarifuddin Ratu Wakil. Namun siapapun tahu, ia hanya sultan boneka. Fatimahlah yang sebenarnya berkuasa. Sejak dulu, sejak ia masih bertahta. Ia membiarkannya karena ia begitu mencintai Fatimah, sehingga bersedia melakukan apa saja untuknya.


Jadi inilah makam mata-mata VOC itu. Kami berdiri mengelilingi cungkup makamnya. Tak satupun dari kami ingin duduk bersimpuh dan memanjatkan doa.
Amir mendengus. Balik badan dan menjauh.

Sultan Zainul Arifin, seperti yang pernah kubaca, dibuang Belanda ke Halmahera. Dan itu menimbulkan kemurkaan rakyat Banten. Tahun 1750, dibawah pimpinan Ki Tapa dan Ratu Bagus Buang, rakyat menyerbu keraton. Pasukan VOC yang didatangkan untuk menghalau mereka bahkan berhasil dipukul mundur.

Fatimah meminta suaka pada VOC, yang kemudian mengungsikannya ke Pulau Damar Besar.


Pulau itu sunyi dan kosong sejak dijangkiti wabah malaria. Tempat peristirahatan yang dibangun Gubernur Jenderal Johannes Champhuis sudah lama ditinggalkan, menyisakan puing-puing. Ia merasa dirinya terasing dan terbuang.

Tapi bukankah itu memang benar? Ia sudah dibuang. Syarifah Fatimah, permaisuri yang pernah sangat berkuasa di kesultanan Banten kini menghabiskan hari-harinya bersama nyamuk-nyamuk, kawanan ular dan badai yang sesekali datang dari laut.

"Geen jorgen. Als er iets ergs gebeurt, we zullen helpen 3)." Demikian janji sang Gubernur Jenderal kepadanya di Batavia dulu.

Ia tahu itu bohong.


_____________

Terjemahan:

Gifslangen: ular berbisa

1) Biarkan sultan tergoda olehmu, Fatimah.
2) Ya Tuan, akan saya lihat apa yang bisa saya lakukan untuk Anda.
3) Jangan khawatir. Jika hal buruk terjadi, kami akan menolong.

Image and video hosting by TinyPic

23 comments:

Arman said...

wow.. bagus no!!! keren!!!

gile itu lu riset dulu atau emang lu hafal sejarah2nya?? hebatt!!!!

Enno said...

hehe kan gue pernah nulis ini buat feature... ada yg masih keinget dikit, dibantu riset kilat dikit...

gitu deh :)

boodee said...

waw.. keren..!

kisahnya seperti di film..

atau cerita film yang meniru kisah nyata ya??

ah.. sudahlah..

Alil said...

ih bagus banget gaya berceritanya...
gw seperti tersedot ke masa lalu...
kereeeeennn....

harusnya buku2 sejarah ditulis ulang kayak gini kali ya...
jadi betah bacanya...

*Alil suka Enno...

t.e.3.k.4 said...

bagus ceritanya enno..

Azhar said...

berniat bikin buku ga no???

gw orang yg pertama yg ngantri dapetin buku lo

Enno said...

@boodee: hihihi entar deh gue bikin pelemnya kalo udah jd sutradara ya :P

@alil: aih alil, enno juga suka alil :P

@te3ka: makasih ya...

@azhar: aduuuh ipul, thx ya support-nya... iya ini lagi ancang2... beli 100 eksemplar ya? hihihi

denny said...

mantab bah
cenayang braksi..
yah aku sih maklum ya
nyai dasima bisa komunikasi sama ratu banten.. :P

*ayolah nyai dasima, kita jalan2... pening kali aku bah.. dah stressssssss berat

rizky said...

nice post ;D

sejarah yg menarik.. bisa buat tambah ilmu sayah

Elsa said...

tulisanya mantab euy!!!
belajar dimana Jeng nulis kayak gitu??
hehehehhee
ajarin dong.



iya, kemaren ke SG ketemu sama Yuyus. sempat jalan-jalan juga. dia gak nitip apapun tuh buat Enno. hehehehe... emang Enno nitip apaan???

Enno said...

@denny: cenayang mana? aku gak ngobrol sm hantu2an tau! :P

@rizky: makasih...

@elsa: belajar sendiri, sa hehe...aku nitip cowok ganteng... :P

Sari said...

Enn, seandainya buku sejarah punya gaya cerita kayak gini, murid2 kan ga perlu ngantuk bacanya...
Kamu cetak buku sejarah aja, kasih gambar2 yang keren, pasti laku deh :P

Enno said...

@sari: wehehehe.... emoh ah! tar sejarahnya malah kuselewengkan jd sejarah percintaan
hihihi

:P

adhi said...

yahhhh,,kirain cerita horor lagi..hhehe..padahal udah seru bacanya...

mau dong yang horor2 lagi mbak..hehehe..

ayolahh,,buat yang horor!!!hihi

PuTLie said...

nice story sist :)

Enno said...

@adhi: entar kudatengin aja hantunya ke situ ya dhi? mau? mau dooong... :))

@putlie: hey, udah ga bete lagi kan? :)

yanuar catur rastafara said...

aih,,
oanjang juga yah sejarahnya
bagus..bagus..bagus
semngatt..

Enno said...

@yanuar: makasiiih :)

Freya said...

gile hebaaaaaat.

Pake riset segala? ckckckckc

Makin ngepens aye ama kk enno.

Minta tanda tangannya doooongs. hehehe

adhi said...

makasih2.. tapi aku lebih milih cerita nnya aja..

mau dong buatin!! awas gak mau ya!!??

hahaha

Henny Y.Caprestya said...

hah?ternyata henny blom komen di postingan yang ini ya?
jadi bingung.. *garuk-garuk kepala*

Gogo Caroselle said...

mba enski bagus pisan iki mba...
huh fatimah, biar tau rasa... ada yang benar2 mencintainya kok yah dihianati, suka aneh de.. dasar delilah...

Enno said...

@freya: kalo gak riset entar sejarahnya jd ngaco kan? duuh dia ngefans sm aye? berasa seleb ih! wakakakak

@adhi: kirim aja hantunya kesitu deh ya :P

@henny: hahaha kemana aja neeeng? :P

@gogo: iya biar tau rasa! aku jg bete!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...