Thursday, August 6, 2009

Namanya Bukan Bram

: Elisa

Namanya bukan Bram, Lis. Laki-laki yang sering kita lihat di pemakaman Tanah Kusir kalau sedang ziarah sebelum Ramadhan. Tetapi kamu tetap saja ngotot bilang kalau itu Bramantyo, kekasihmu dulu. Cinta pertamamu yang menghilang belasan tahun lalu.

Aku pernah menyuruhmu menghampirinya dan menyapanya. Bertanya saja padanya, apakah benar ia Bram yang selalu menghantui pikiranmu itu. Tapi kau tak mau. Alasanmu malu. Kenapa harus malu, kalau akhirnya di mobil kau menangis terisak-isak di bahuku sambil memanggil-manggil nama lelaki itu.

Ia pasti bukan Bram, ujarku sok tahu. Karena kupikir aku pernah mengenalnya sekilas waktu kita remaja dulu. Anak lelaki jangkung yang suka menenteng gitar kemana-mana. Suka menyanyikan lagu-lagu The Beatles dengan suaranya yang fals. Cinta pertamamu yang menurutku sangat menyebalkan dan tidak sopan.

Kau bilang kalian saling mencintai dan berjanji akan tetap mencintai sampai kapanpun. Lantas kenapa si satria bergitar yang konyol dan tengil itu tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi? Ayo jawab, Lis. Cinta macam apa itu? Setelah kalian pacaran empat tahun lalu tiba-tiba ia pergi tanpa memberitahumu. Sejak dulu pun aku tak pernah mempercayai si Bram itu.

"Setahuku Bram dulu punya pacar di SMA 20," kata Edu. Kau ingat Edu, kan? Ia cukup akrab dengan Bram sejak SMP. Mereka sering main band bersama anak-anak SMA lain.

Kamu tetap saja tidak percaya. Meskipun akhirnya kita bertemu juga dengan gadis itu tanpa sengaja di ulang tahun seorang teman. Kau malah melarangku bertanya padanya. Kau tetap yakin, kaulah satu-satunya pacar Bram. Ah, Lis! Kau ini aneh! Kan bisa saja Bram punya pacar lain. Kita tidak akan tahu karena kita tidak satu sekolah dengannya.

Aku tetap yakin, ia bukan Bram. Laki-laki yang sering berziarah sendirian ke sebuah makam. Menaburkan bunga dan menyiramkan air mawar ke batu nisan sambil menunduk dalam hening. Kau menarik-narik tanganku, mencegahku menghampirinya untuk bertanya. Kenapa kau begitu takut menerima kenyataan buruk seandainya ternyata ia bukan Bram? Bukankah kau selama ini dihantui mimpi buruk karena kehilangan dirinya? Sudahi saja sekarang. Biarkan aku bertanya! Uh, kau malah menangis.

Lis, lama-lama aku capek menghadapi sikap anehmu berkaitan dengan anak lelaki tengil yang kita kenal di masa remaja itu. Sejak mengenalnya kamu jadi aneh. Kamu menangisi Bram yang menghilang, apa kau pikir aku tidak menangisimu ketika tiba-tiba kau menghilang setahun ke Surabaya?

Pindah sekolah, katamu dalam surat yang diantarkan pembantumu. Maafkan aku, sengaja kuberitahukan mendadak supaya kita tidak bertangis-tangisan dulu. Nanti aku jadi berat untuk pergi. Begitu alasanmu.

Setahun kemudian tiba-tiba kau muncul lagi di Jakarta. Kita kembali satu kota meski jadi berbeda sekolah. Kau masih tetap Elisa yang kukenal dulu, tak berubah. Agak sedikit lebih gemuk dan lebih ceria. Aku bersyukur kau tak murung lagi.

Lalu kau menjadi aneh lagi ketika kita mulai melihat laki-laki mirip Bram itu.

Lis, ia bukan Bram. Aku berani bersumpah. Karena aku sudah bertanya padanya. Kami bertemu tak sengaja di sebuah kafe tenda. Aku mendekatinya dan bertanya, apakah namanya Bram. Ia bilang bukan. Namanya Sam. Ternyata ia adik Bram.

"Ada hubungan apa dengan kakak saya?" Tanyanya.
Lalu kuceritakan tentang masa remaja kita, tentang hubungan kalian dan hatimu yang sulit melupakan Bram.

Dan kau tahu Lis? Bram memang sudah pergi. Dan ia tak akan kembali. Coba kau kunjungi makam yang sering didatangi laki-laki itu. Tak pernah terpikir oleh kita untuk melakukannya bukan? Seandainya saja kita menghampiri makam itu, Lis, maka akan terbaca nama yang tertera di nisannya. Bramantyo Bimo Setiawan.

Bram sudah meninggal, Lis. Over dosis. Itu sebabnya kematiannya dirahasiakan, karena keluarganya tak ingin mendapat malu.

Kau masih tak percaya juga, Lis? Aku mengatakan yang sebenarnya. Ya, aku memang paling cerewet menyuruhmu melupakan lelaki itu. Tetapi aku tak akan melakukannya dengan cara membohongimu. Pergilah ke sana, Lis. Pergi ke makam itu. Aku sudah mengunjunginya bersama Edu.

Ayolah, Lis. Buka matamu dan hadapi kenyataan. Agar kau tak terus membohongi dirimu dan anakmu, bahwa ayahnya sedang bertualang ke negeri seberang.

Ya, Lis. Aku sudah tahu kenapa dulu kau menghilang ke Surabaya. Kau menyembunyikan kehamilanmu dan melahirkan anakmu di sana.


Image and video hosting by TinyPic

20 comments:

Galuh Riyadi said...

DAHSYAT!!!
LOVE U FULL MBAK ENNO....

Sari Maniez said...

Ikut prihatin untuk Elisa. Jadi perempuan yang kuat yak...
Tetap Semangat !!!

Mbak Enno yang baik hati, boleh minta ID YM-nya ga? *ngarep*

:P

plainpage said...

waw! tragis yah

sayang sekali.

Elsa said...

Bramantyo...
nama yang familiar

Enno said...

@galuh: sini tak gendong luh! :P

@sari: iya semangats!!! :P

@plainpage: ya begitulah...

@elsa: pasti inget sama hanung bramantyo ya? hihihi... :)

nie said...

ih..mbacanya jd tambah sedih..

lilliperry said...

terbawa alur ceritanya..

ah, lirisme.. :)

Azhar said...

alur dan cerita hidup tak akan ada yg tahu akan seperti apa endingnya

Rachel said...

Lagi kesal pada siapa teman?..btw mampir nih sambil kenalan.

patahati said...

here I am, patahati....

Arman said...

kasian lis...

ini cerita beneran atau fiksi?

kalo beneran, moga2 lis tabah ya...

Enno said...

@nie: cup cup cup... :)

@lilliperry: hahaha sotoy! ini bkn puisi kok lirisme :P

@azhar: semoga yang terbaik :)

@rachel: salam kenal juga

@patahati: sambung lagi hatinya :)

@arman: coba tebak... :D

ijal said...

ah mb enno plg jago deh nulis yg sedih2..

Bintang said...

aduh kaki saya sedang Bram, tolongin dong mbak enno....

*kaburrrrrr.....tertatih-tatih argh Bram sialan*

denny said...

bram bali??

atau bram madiun mok??

hehehe,,,
kendalikan pacarmu mok,
please,
aku semalam lembur sampe jam 2,
ini hari ke 4

Enno said...

@ijal: ah kebetulan aja ada kasus menyedihkan... :P

@bintang: iya ya bram sialan :)

@denny: makanyaaa... kalo kerja jangan sambil nonton maria ozawa dan chit chat sm ce2! rasain tuh! ayo kerja yg bener! sapa juga yg mau nolongin... kan semakin cpt kau selesai smkn cpt kalian kesini! asik asik asik!

*goyang pinggul kiri-kanan*

:))

lagi usil said...

hmm, wah keren ceritanya, menghanyutkan alurnya, surprise endingnya. suka sama o'henry yah?

Enno said...

@lagi usil: makasih... jarang baca O'henry. tapi memang dia terkenal dengan twist di ending cerita ya :)

BrenciA KerenS said...

gILA.. MANTEBS...

mbak, kereenn banget.... apa lagi ya, bener2 bagus alurnya mbak, ga nyangka....

Enno said...

hehehe makasih makasih...

:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...