Wednesday, March 21, 2012

Dua Pasang Benak

[1]

Jadi di sinilah aku. Mengikutimu sampai ke ujung dunia. Sebab tanpamu hidupku tak akan sama. Sejak dulu. Sejak kita masih suka bermain hujan di halaman rumah nenekku. Sejak kau memukul jatuh anak tetangga yang menggangguku. Sejak senyummu yang lebar di foto itu kemudian menghantuiku.

Kau adalah samudera, dan aku sungai berarus kecil yang diam-diam menuju padamu. Kusembunyikan darimu gelora hati. Denyar yang meriak permukaan, membentuk kumparankumparan membesar lalu lenyap. Setiap menyesap senyummu dan berkaca pada matamu.

Di sinilah aku. Tunggang langgang mencari jawaban. Siapakah aku bagimu? Karena bagiku kau adalah segala yang menjadikan tiada. Hanya ada kau, ketika aku tak butuh tangan yang lain untuk meraihku.

Di sinilah aku. Menunggumu mengatakan apa yang seharusnya dikatakan sejak dua bocah bertelanjang kaki dalam hujan itu dewasa dalam kesepian.


[2]

Aku bahkan tak mengenalmu, tetapi dirimu seperti wangi garam yang menempel di rambut sepulang bermain di pantai. Lekat. Pekat. Meninggalkan kesan bebas sekaligus kebas. Apa yang kau simpan di balik ocehanmu yang tanpa jeda dan kaki-kaki kecil yang melangkah riang di antara ilalang?

Bahwa aku menyelipkan secuil hatiku di sakumu, diam-diam, sejak kita bertemu tanpa sengaja kala itu. Bahwa kamu bahkan tak peduli untuk meninggalkan satu huruf pun dari ejaan namamu.

Kamu siapa? Aku selalu bertanya, bahkan setelah ku tahu namamu dari kisah itu.
Kamu siapa? Tolong kembalikan hatiku.

[3]

Aku sayang padamu, darling. Sayang. Cinta. Aku tak bisa memberikanmu pada yang lain. Siapa pun itu akan menyesal di akhir nanti.

Jangan pergi. Jangan melebur dengan sungai kecil yang tak mengerti kemana arah menuju. Sudah kupasang jeram di sana, agar tak lagi ia bisa membuat kumparan untuk meraihmu.

[4]

Lalu kau datang menawarkan kisah termanis yang nyaris kulupakan. Tidak, bagaimana aku bisa mengabaikannya? Kau selalu menjadi prioritas sejak semula. Tetapi mengapa ada bimbang bersarang dalam otakku yang pepat?

Aku bukan samudera. Aku hanya malam. Ketika bulan bertahta di atasnya dan matahari terlupa dalam beledu hitamnya.

pict from here

Image and video hosting by TinyPic

7 comments:

Fenty Fahminnansih said...

#pakcik itu apa sih, no ? *komen nggak nyambung* :p

fika said...

"Aku bukan samudera. Aku hanya malam. Ketika bulan bertahta di atasnya dan matahari terlupa dalam beledu hitamnya"ini kata2 nya dalem banget mba en...

chici said...

Daleeeem mbak...

Annesya said...

Aku bukan samudera. Aku hanya... gadis cantik imut baik hati yang selalu galau kalau mau komen di blog ini... -__-" (=3=)

Gloria Putri said...

Abe mana Abeeeee? Abraham Yosafat Lee......
#edisikomenganyambung

Enno said...

@fenty: pakcik itu artinya 'paman', itu kode panggilanku buat seseorg :)

@fika: sedalem lautan? :P

@chici: cangkul lagiii :))

@annesya: kasian kamu nduk *pukpuk annesya*

@glo: ketularan annesya kayaknya nih :P

outbound training di malang said...

kunjungan ..
salam sukses selalu ..:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...