Wednesday, October 12, 2011

[Kisah Abe] Melacak Nova

Abe selalu bilang, teman kami yang bernama Nova itu pembual. Pembohong besar. Aneh dan agak sinting. Tapi saya, yang tidak tega menuduh teman sendiri sinting, selalu menimpuk bahunya dengan tas saya kalau ia berkata begitu.

"Nggak sinting ah!"
"Sinting!" Abe masih ngotot. "Coba aja, mana pernah dia bisa ngebuktiin semua omongannya yang tinggi itu!"

Nova memang fenomenal. Setidaknya bagi lingkaran pertemanan kami. Anaknya pendek gemuk, berkulit hitam dan berambut keriting. Lingkaran pertemanan kami adalah sekumpulan anak-anak dari beberapa kelas yang sering pulang sekolah bareng naik angkot dengan rute yang sama.

Di dalam angkot, setiap hari, ia bercerita tentang rumahnya yang besar dengan kolam renang di halaman belakang. Tentang ayahnya yang tentara berpangkat brigjen. Tentang empat buah mobil mewahnya.

Ia juga bilang cerpen-cerpennya sering dimuat di majalah.

"Wah hebat ya," celetuk saya iseng. "Boleh liat dong majalahnya. Besok lu bawa ya!"
"Iya bawa ya, Nov! Bawa ya!" Teman-teman yang lain menimpali.
"Iya deh, besok gue bawa," janjinya.
Lalu besoknya, ketika kami pulang dalam satu angkot lagi, ia mengeluarkan sebuah majalah dan menunjukkan halaman dimana cerpen itu berada. Kami heboh berebutan ingin melihat. Ketika majalah itu akhirnya sampai di tangan saya, terlihatlah nama seorang cerpenis... dan itu adalah cerpenis favorit saya, yang pernah saya dengar wawancaranya di sebuah radio. Jelas bukan Nova.
"Ini nama pena lu, Nov?"
"Iya dong. Baca deh cerpennya. Kata orang-orang bagus lho." Senyumnya lebar, penuh kebanggaan.
Saya menahan tawa yang nyaris meledak.

Kali berikutnya ia heboh bercerita tentang kursus bahasa Inggrisnya. Lalu suatu hari ia mulai menyebut-nyebut dua nama cowok yang katanya rebutan naksir dia.
"Eh, siapa namanya Nov?"
"Ardy sama Bayu."
"Oh. Emang rumahnya dimana mereka?"
"Katanya sih deket pertigaan itu lho."
Ring ring! Alarm di otak saya berdering. "Ardy sama Bayu orangnya kayak gimana?"
"Ganteng-ganteng dong. Yang satu tinggi, yang satu kayak Arab."
"Oh!" Saya manggut-manggut. Akhirnya saya paham.

Sampai di rumah, saya melempar tas dan lari lagi keluar, ke rumah sebelah. Langsung masuk lewat pintu belakang karena memang begitulah kebiasaan kami sesama anak tetangga.
"Bayu!" Saya nyelonong ke kamarnya yang pintunya terbuka. Ia, baru pulang sekolah juga-masih berseragam, sedang membaca sesuatu sambil duduk di lantai.
"Apaan?" Matanya tak teralihkan dari bukunya.
Saya duduk di atas tempat tidurnya yang berantakan. "Lu kenal Nova di tempat kursus bahasa Inggris lu nggak?"
"Nova?" Ia mengingat-ingat sebentar. "Oh, iya. Gendut-item-ganjen kan?"
"Yup."
"Dia anak sekolahan lu kan? Sekelas?"
"Nggak sekelas sih. Tapi sering pulang seangkot. Tebak, dia ngomong apa hari ini!" Saya nyengir lebar.
"Mana gue tau."
Saya melemparnya dengan bantal. "Katanya lu sama Ardy naksir dia! Wahahahaha selamat ya guys!" Saya ngakak guling-guling, tak bisa bertahan lagi. "Ternyata selera kalian.... hahahahaha..."
"Apaaaa?" Bayu langsung bangkit. "Gue? Gue naksir dia? Idih!"
"Oh, Ardy kalau gitu ya?"
Kali ini Bayu ikut ngakak. "Eh yuk kita ke rumah si Ardy! Asik juga kayaknya ngeledekin dia."
Kami beranjak ke rumah Ardy masih sambil cekakak cekikik.

Yang tidak pernah diketahui Nova sampai sekarang adalah Ardy dan Bayu itu tetangga saya. Kami satu kompleks, teman main sejak kecil, dan dua-duanya naksir saya, bukan dia.

.........................................

Di sekolah kami mulai penasaran pada Nova. Anak siapa sih sebenarnya dia ini? Banyak sekali kebohongannya yang terbongkar, tapi ia terus saja mengarang kebohongan-kebohongan baru tanpa merasa malu. Tetapi kami juga tidak ingin menuduh tergesa-gesa, karena setiap pulang bareng, angkot yang kami tumpangi selalu menurunkannya di depan sebuah rumah besar.

"Itu kan rumahnya," kata Amel, salah satu teman seangkot kami. "Bukan anak tajir gimana? Rumahnya bagus gitu." Tapi kebanyakan dari kami ragu-ragu.

Lalu Abe mengajak saya menyelidiki Nova.
"Nyelidikin gimana? Kayak detektif gitu? Ih kurang kerjaan banget lu. Ntar kalo ketauan gimana?"
"Ya jangan sampe ketauan dong. Tenang aja. Gue bawa motor bokap deh. Kita ngebuntutin dia naik motor. Dia nggak bakal ngenalin kita deh, kan gue nggak pernah bawa motor ke sekolah."
Mungkin karena saya sama isengnya dengan Abe, dan penasaran juga, akhirnya saya setuju.

Jadi hari itu Abe membawa motor papanya ke sekolah. Ia sudah menunggu saya di parkiran saat jam pulang sekolah, menyodorkan sebuah helm dan menyuruh saya segera naik. Kami membuntuti angkot yang biasa saya tumpangi dengan Nova dan teman-teman yang lain dalam jarak aman. Angkot itu berhenti di depan rumah besar yang sama dan Nova turun.

Abe menghentikan motornya tak jauh dari sana. Di tepi jalan, agak terlindung oleh tiang listrik, kami mengawasi.

Nova bersandar di pagar, melambai-lambaikan tangan pada anak-anak lain di dalam angkot. Ketika angkot sudah menjauh dan tidak kelihatan lagi, tiba-tiba ia berbalik dan berjalan menuju sebuah gang di dekat situ dan menghilang tak kelihatan lagi. Saya melongo, Abe terkekeh.

"Gue bilang juga apa."
"Jadi itu bukan rumahnya?"
"Kalo rumahnya, ngapain dia masuk gang?"
"Lu mau ngikutin dia ke gang itu, Be?"
"Nggak usah. Ntar malah ketauan. Kita tunggu aja dulu. Kalo nggak balik lagi berarti rumahnya emang bukan yang ini."

Kami masih menunggu sepuluh menit kemudian. Tapi Nova tak pernah muncul lagi. Abe tertawa, menyuruh saya naik ke boncengannya lagi dan mengantar saya pulang ke rumah.

Ya sih, memang kami kurang kerjaan banget menyelidiki Nova seperti itu. Tapi kami tidak pernah menyebarkan cerita itu pada siapa-siapa, kecuali pada Dinda dan Teddy, sahabat-sahabat kami yang lain. Biarlah Nova dengan hobi membualnya. Selama itu membuatnya bahagia dan tidak merugikan orang lain, begitu kata Abe.

........................

Abe memarkir motornya persis di depan rumah.
"Mampir dulu nggak?" Ajak saya.
Di balik helmnya matanya menyipit tanda tersenyum. "Lain kali ya. Motornya mau dipake Alex nih. Udah lu masuk aja sana."
"Lu aja duluan yang pulang. Ntar gue baru masuk."

Ia membalikkan arah motornya. Memutar kunci kontak dan mesin motornya menyala dengan derum pelan.

"Eh!" Tiba-tiba dia menoleh. "Kayaknya gue harus lebih sering bawa motor ke sekolah deh."
"Emang kenapa?"
"Biar bisa boncengin lu."
"Apa anehnya boncengin gue?" Saya masih belum paham.
"Lu nggak nendang gue, nggak nimpuk gue, nggak ngejitak gue... Lu malah meluk pinggang gue. Jadi cewek beneran. Dan itu amazing."

Mata itu menyipit lagi, kini menjadi tinggal segaris. Tanda ia nyengir lebar. Lalu motornya dengan cepat meninggalkan halaman rumah saya. Meninggalkan diri saya yang tertegun dengan pipi yang perlahan-lahan menghangat :)

____________

Dear Abe's fans and all readers, ini untuk kalian. Cerita terakhir saya untuk kalian. Nggak tahu kapan saya bisa muncul di sini lagi.

That's all. Just take care ya!







Image and video hosting by TinyPic

15 comments:

Clara Canceriana said...

rasanya saya juga pernah bertemu tipikal manusia macam ini ^ ^

Arman said...

no... moga2 gak lama2 ya galaunya... hope everything's gonna be okay with you..

ditunggu untuk nulis lagi di blog ya!!!

May said...

semoga akan segera baik-baik saja ya Mbak, I'm gonna miss your stories..

Medicine Of Herbal said...

lagi galau y ??

Nature-Pills said...

saya tunggu postingan baru mas

mainelyequal said...

sabar ...

fika said...

mbak jangan berhenti nulis donk please.....

puntung rokok said...

Salam kenal mba...
Cepaaat kembali, jangan berlama-lama di tempat gelap..^^

Gloria Putri said...

Abe :)
kata2nya pas mau pulang itu mirip kayak yg diucapin seseorg dehhh :P
tp aq ga membual kayak nova loooo
wkwkwkwkkw

mbaaaa....br kmrn aq bilang kangen, knp skrng km STOP nulis?
mba enno jahattttttttt
#nangiss

Gloria Putri said...

Abe :)
kata2nya pas mau pulang itu mirip kayak yg diucapin seseorg dehhh :P
tp aq ga membual kayak nova loooo
wkwkwkwkkw

mbaaaa....br kmrn aq bilang kangen, knp skrng km STOP nulis?
mba enno jahattttttttt
#nangiss

gelar said...

Hai... no apa kabar..? Gue baru tau kalo lo mau pergi..! Moga cepet kembali yah.. Sory selam neh gue cuman jadi 'silent reader'..heheh

Canty Gracella Lamandasa's blog said...

selamat malam mba :)

mungkin saya telat bgt baca kisah abe ini, lantas setelah saya baca posting kisah abe mengenai melacak nova, saya tertarik, merasa diri ditarik untuk membaca cerita sebelumnya, dan gilaaa speechless saya mbak, karna cerita ini natural bgt, dari true story lagi. dan setelah liat2 di google ttg abraham lee'abe' banyak sekali. aih... semoga mbak bisa membukukan kisah persahabatan ini. daaaan berharap semoga mbak sukses selalu sehingga novel dari kisah ini diterbitkan. AMIN :)

makasih! dan salam kenal mbak

Enno said...

@clara: memang yg spt ini byk... dimana2 pasti ada :)

@arman: thx man, lo sll support gw :)

@may: makasih juga may, akhirnya mau komen2 ;)

@fika: iya deh :)

@puntung rokok: halo salam kenal juga :)

@glo: siapa yg ngomong gitu? sasha ya? :P

@gelar: hai hai... jgn silent dong.. muncul ke permukaan biar bisa disapa :P

@canty: salam kenal juga canty... aw makasih ya udah bela2in baca semua...iya ini lg dinovelkan.. doain yaaa... :)

Iin Nindy said...

baru buka blognya mbak enno,waktu habis baca novelnya mbak. Dan itu baru beberapa menit lalu loh mbak,saya bacanya cuma beberapa jam doang gak sampe sehari saking penasarannya sama ending ceritanya. Malahan teman sy ada yg sampe tergila-gila sama sosoknya Abe. BTW salam kenal yah mbak :))

Enno said...

Hai Iin..

makasih ya udah baca novelku trus main ke blog ini.
siapa sih yg ga tergila2 sama co so sweet kyk Abe, ya gak?
salam ya buat temennya itu...

:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...