Thursday, July 28, 2011

Pink

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

-Pada Suatu Pagi Hari, Sapardi Djoko Damono, 1973-

...

Akhir-akhir ini saya sering menangis tiba-tiba. Saya menangis di dapur saat hendak memasak, saya menangis di depan pintu kamar mandi saat baru selesai wudhu, saya bahkan menangis saat melihat kalender. Kemarin malam saya terjaga dan mendapati diri saya sedang menangis terisak-isak, dan meneruskan tangis (bahkan lebih keras) ketika teringat bahwa dalam mimpi itu saya bertemu Ibu.

Saya kangen Ibu. Sesungguhnya tiada hari tanpa kangen Ibu. Tapi ini kangen yang jauh lebih kental, lebih pekat, lebih sunyi dari sebelumnya. Setahun yang lalu Ibu masih bersama kami. Biasanya menjelang ramadhan seperti ini Ibu sibuk menceritakan rencana-rencananya pada saya, dengan suaranya yang melengking dan ceria itu. Menu-menu puasa, kue-kue yang akan dibuat untuk Lebaran, dan apa yang akan dibelikannya untuk ayah saya.

"Belikan sandal atau sarung ya, Ret? Sarung kan baru beli bulan kemarin. Masa beli lagi kayak anak kecil aja."
"Sandal aja, Bu. Nanti deh Retno yang beliin."
"Eh, bilang sama kakakmu, Ibu bikinkan lapis surabaya saja. Jangan bolu. Nggak aneh."
"Besok kita jadi beli gorden baru nggak, Bu?"
"Nggak usah. Pakai yang lama aja. Masih bagus. Suruh si Yayah nyuci sampe bersih. Uang buat beli gorden mendingan buat beli baju anak-anak si Yayah."

Malam itu, dalam mimpi saya Ibu datang. Masuk ke kamar saya dan ikut memilih-milih tas. Entah kenapa tiba-tiba seperti itu jalan ceritanya. Lalu Ibu beranjak dan bilang akan pergi lagi. Saya ingin ikut. Saat itu saya hanya merasa Ibu akan pergi ke pasar atau apa.

"Nggak boleh," jawab Ibu. Saya masih ingat wajahnya yang tersenyum sedih saat mengatakan itu. "Kamu di sini saja. Ibu nggak bisa ngajak kamu."

Lalu Ibu melangkah ke pintu. Di sana, di depan pintu, Ibu menoleh lagi dan tersenyum lebar. Cantik sekali. Saat itulah saya menyadari bahwa Ibu sudah meninggal. Bahwa Ibu tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Saya mulai menangis. Mulanya terisak-isak.

Tapi Ibu terus melangkah keluar pintu itu dan saya meraung. Menjerit-jerit memanggil Ibu. Berlari mengejar dan menggapai-gapai, tapi Ibu sudah tak kelihatan. Menghilang ke dalam kabut. Saat itulah saya terbangun, masih dalam keadaan menangis. Dan semakin keras ketika menyadari bahwa begitu putus asanya saya merindukan Ibu.

Lita bilang aura saya pink. Seperti yang menempel di aksesori-aksesori anak-anak perempuan pra-remaja, di kaus-kaus centil yang dipakai para abege, pada hiasan-hiasan ponsel atau stationery. Warna yang mengesankan lembut, manis, feminin dan cantik. Meskipun saya tidak merasa seperti kesan itu.

Aura saya pink, mungkin itu sebabnya saya mudah menangis? Kata Lita, hati saya mudah luluh. Disadari atau tidak, jauh di dalam sana saya adalah orang yang mudah terluka.

Pink. Atau apapun warna aura saya, saya memang mudah menangis akhir-akhir ini. Karena sedih, karena marah, karena bosan. Hari itu Lita menelpon saya ketika saya sedang menangis karena marah. Di hari yang lain, pembantu saya memergoki saya mengusap mata yang membasah saat menemukan sandal jepit kesayangan Ibu di bawah lemari.

Mungkin saya benar-benar pink sejati. Yang mudah terluka dan rapuh. Menutupinya dengan gelak tawa dan sikap tabah pura-pura.

Saya pink, dan saya rindu Ibu. Rindu sekali.

*mengusap mata yang membasah*


pict from here



Image and video hosting by TinyPic

18 comments:

maya said...

salah satu kebiasaan kawanku, yg sudah sejak kecil ditinggal ibunya, kalo kangen sm ibunya adl menjenguk kubur si ibu.

kalau aku, bila saat itu tiba dan walopun aku tak pernah siap, aku akan memandang fotonya krn jarak kota yg jauh dan tak memgkan aku srg2 menjenguk kubur.

yg mana satu, kurasa bs jd saran :)

tugas kita yg ditinggal adl berjuang melepas kepergian mrka dan mengobati rasa rindu yg mendalam. be tough.

gloriaputri said...

:)
pengen ngegodain mba enno koq orangnya lg nangis yaaaa....xixixixi

cup2 honeyyy....stop crying please :) i have a candy for you..it's okay, mommy just wait outside to pick u up later (kata2ku tiap pagi di kelas, toddler)

ganbatte mbaaaa...*pelukkkk

gloriaputri said...

ah iya...aq juga pernah mimpi serupa kayak gn, minta ikut tp gak boleh sama papa, sudah mbaaaa....aq anggap papa mau aq tegar hidup di duniaa...km juga tegar yaaaaa...

*kiss

rona-nauli said...

rindu tak kenal apa warna auramu, No. rindu cuma tau, kau mencinta. itu saja :). aku kuning, dan mudah menangis juga :).

nanti, No. Insya Allah berkumpul ibu lagi. kita minta sungguh-sungguh ya...#pelukpeluk

Apisindica said...

orang yang beraura hitam sekalipun, pasti akan terisak apabila teringat ibunya yang telah pergi.

Saya belum kehilangan ibu, tapi saya bisa mereka apa yang akan saya rasakan apabila sosok itu hilang dari hidup saya selamanya. Tidak akan mudah, tidak akan gampang.

Saya ikut berempati yah tetehku. Mungkin tidak membantu mengusir rindu itu tapi setidaknya teteh tahu aku bakal ada menemani dari jauh.

Jangan nangis lagi ah, ayo tersenyum! kita ngobrol panjang lagi nanti yah! #peluuk

Hoeda Manis said...

"Jauh di dalam sana, saya adalah orang yang mudah terluka."

Dalam hal itu, mungkin kita sama.
Aku masih memiliki ibu, tapi ayahku sudah tiada. Dan aku menangis berhari-hari sejak meninggalnya, bahkan masih ingin menangis hingga hari ini setiap kali mengingatnya.

Eh, tolong pinjam tisunya. :)

Augustine Merriska said...

Ka enno sabar yaaaaaa. aku jadi pengen nangis juga bacanya. :'(

mayank said...

mba enno aku bacanya aja nangis :'(

ga tau mau bilang apa, aku sendiri aja ga tau kalo diposisi mb enno gmn, soalnya aku cuma merantau aja kadang malem-malem kebangun nangis inget ibu.

pasti mb enno udah berusaha kuat dan sabar. #BIGHUG <3

Arman said...

aduh no... jadi sedih gua...
pasti kangen banget ya no ama ibu lu... apalagi menjelang ramadhan begini... :(

be strong ya...

deeo said...

SEMANGAT mbak , jadi ikutan sedih dan sangat bersyukur masih bisa ketemu dan ngobrol ma ibu sampai saat ini , tapi mbak , percaya deh , Ibu mbak gak pernah jauh dari mbak , dan beliau pun sedang kangen ma mbak , sperti mbak yg selalu meridukan Ibu , makanya beliau datang menyapa lewat mimpi.....SEMANGAT mbak!

ika puspitaria said...

mbak enno...sedihhh
kau membuatku menangis..
aku bukan pink tapi aku juga rindu ibu...
ibuku meninggalnya sehabis lebaran jadi klo ramadhan gini rasa sedihku semakin menjadi jadi...
aku tau rasanya...
pedih,perih dan menyesakkan...

Belo Elbetawi said...

Mbak Enno... yang kuat ya sayang.. sakit emang kalo orang yang kita kangenin tapi gak bisa kita sentuh lagi..:(

Meida said...

kalo aku kangen nenekku banget!!! :(
lebaran ga pernah sama lagi rasanya kaya dulu.


anyway, aku mau coba pasang SCM music kaya mba enno, gagal total mulu.. huh! ga bisa-bisa... *tambah sedih* lho?! :D

Deacy said...

baru malam2 kemarin aku menagis teringat ibu...ramadan kali ini begitu berbeda dengan tahun sebelumnya.... :`((

Annesya said...

jadi teringat eyang kakung saya. setiap muncul di mimpi, saya selalu minta ikut, tapi ujung2nya saya ditinggal sendiri.
keep fight mbaak

Enno said...

hai semuanya...

makasih ya... makasih banyak sudah meluangkan waktu menghibur aku...
dan kalian berhasil!

aku udah gak terlalu sedih lagi sekarang.

kalian memang teman2 terbaik!

*bighugs*

Ceritaeka said...

No... :(
Peluks

btw aura gue apaan ya?

Enno said...

eka, aura lu belang2 zebra

wkwkwk

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...