Monday, February 22, 2010

Kisah Monyet Abu-abu, Babi Gemuk, dan Seekor Katak Malang

Ini tentang seekor katak hijau yang terusir dari kolam tempat ia tinggal dan mencari makan. Katak yang belum dewasa dan agak kurang bertanggung jawab, tapi rajin, jujur dan berhati tulus.

Penguasa kolam itu adalah seekor monyet berbulu abu-abu kusam yang tinggal di atas pohon, jauh di seberang kolam. Dialah yang mengawasi kehidupan di kolam itu, melompat dari dahan yang satu ke dahan yang lain sambil meneriakkan perintah-perintah. Kadang-kadang ia melempari para penghuni kolam yang terdiri dari katak, angsa, ikan mas, siput dan laba-laba air dengan jambu-jambu busuk hanya untuk iseng. Menyipratkan air kolam ke tepian, membuat mereka lari lintang pukang.

Monyet itu tinggal bersama anaknya, seekor monyet betina muda yang manja, yang terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya, dengan pengaruh ayahnya yang berkuasa.

Di bawah pohon jambu itu, ada segerombol semak belukar tempat bersarang seekor babi gemuk. Keberadaannya di tempat itu tampak ganjil, karena tentu saja biasanya seekor babi berada di peternakan. Biarpun begitu, Babi Gemuk adalah tangan kanan si monyet abu-abu. Pekerjaannya mengendus kesana kemari, mencari-cari kesalahan penghuni kolam, sambil mengintip para angsa cantik dan ikan-ikan mas berenang-renang.

Si babi tidak menyukai Katak Hijau. Mungkin karena si katak adalah mahluk paling populer di kolam itu. Sifatnya yang baik hati dan suka menolong membuat ia disukai para angsa dan ikan-ikan mas. Seekor angsa putih yang paling cantik menjadi kekasihnya, dan seekor ikan mas yang siripnya paling lebar dan perenang paling lincah adalah sahabatnya.

Mungkin juga Babi Gemuk tidak menyukai si katak karena cemburu. Si babi jatuh cinta pada si ikan mas lincah. Ia pernah menyatakan perasaannya pada si ikan mas. Apa jawab si ikan mas? Tidak, terima kasih. Kamu terlalu gemuk untuk menjadi pacarku, apalagi jika dibandingkan sahabatku si Katak Hijau.

Kehidupan di kolam tampak tentram dan damai. Tetapi itu hanya di permukaannya saja. Sampai tibalah suatu hari ketika si monyet betina muda berkata pada ayahnya bahwa ia jatuh cinta pada Katak Hijau. Maka dalam rangka menyenangkan hati anaknya, Monyet Abu-Abu menitahkan si katak menerima cinta anaknya.

"Maaf, Tuanku," ujar Katak Hijau. "Tetapi saya sudah memiliki kekasih. Angsa Putih yang cantik dan baik, yang suka berenang-renang di kolam."
"Tapi anakku jatuh cinta padamu. Kamu akan kubuatkan kolam besar yang indah di bawah pohon jambu. Di sana, kamu bisa lebih bebas bermain dan mencari makan. Kau tidak perlu khawatir, jika pada akhirnya kau tak cocok lagi dengannya, kau boleh memutuskan hubungan kalian berdua."

Tapi Katak Hijau tetap bilang tidak. Ia mencintai Angsa Putih dan sudah berikrar sehidup semati dengannya. Meskipun ia dan monyet betina muda itu sangat akrab, ia hanya bisa menganggap si monyet betina itu teman. Dan mungkinkah jika ia menjadi kekasih si monyet betina ia bisa memutuskannya begitu saja? Tak ada jaminan bahwa ayahnya tak akan murka, bukan?

Si Babi Gemuk yang berdiri tak jauh dari tuannya berbisik-bisik.
"Tuan," desisnya sambil melirik Katak Hijau dengan tatapan dengki. "Kalau dia tidak mau menurut suruh saja dia pergi dari kolam ini. Ia mengganggu ketentraman di kolam ini. Menggoda para angsa dan ikan-ikan mas itu, mengecewakan tuan puteri dan menolak perintah tuanku. Saya tak tahu apa maunya dia ini. Gayanya seperti pangeran saja."

Maka, turunlah keputusan itu. Monyet berbulu abu-abu jelek itu mengusir Katak Hijau dari kolam yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Dan pergilah si Katak Hijau, meski tak tahu hendak kemana. Ia meninggalkan semua hal yang pernah sangat berarti baginya di kolam itu. Teman-teman, para sahabat, dan segala hal yang telah ia curahkan habis-habisan kini bagaikan sia-sia belaka.

Tapi ia tidak menyesal pergi dari sana. Dari kolam yang menzaliminya itu.

_________________________

Well, I spare you the details. Because you said you are his fellow.


Image and video hosting by TinyPic

14 comments:

denny said...

i know who play as the pig..

really look a like.
hahahahaha....



hh,,
meaningles lah udah sekarang.
tak perlu disesali.
:D

Wiwit said...

ini kisah tentang siapa aku nggak tahu, tapi sepertinya penggambaran kehidupan kita

like this post

Elsa said...

hehehe... selalu saja tulisannya bisa dinikmati keindahannya.

salut!

Gendhis said...

Aku sih gak begitu ngerti ini tentang siapa-siapa, but still a nice post Mba... ;)

dita_actually said...

That's quite a metaphors
I believe the green frog can live better in another pond ^ ^

Arman said...

buat si angsa putih: kejar si katak dong!!! keluar dari kolam itu juga!!

readhermind-dy said...

suka cara ceritanya..^^

-Gek- said...

penuh simbol, teka-teki.. Enno banget.. :)

Pohonku Sepi Sendiri said...

hehe..
banyak makna tersirat dalam cerita, seperti layaknya sebuah panggung sandiwara..
nice story, mbak.. :)

Rava said...

Kasian banget si kodok nya yah...
tapi itu pilihan yang gentle-lah.
Emangnya mau dibeli dan menggadaikan cinta..? huff...untung si kodok tidak seperti itu. Yang namanya rejeki itu ada aja dimana aja kita berada. So, jangan takut yah buat si kodok...

Sari said...

Aku sedang mikir ini tentang apa & siapa, kira2 perkiraanku bener ga ya? :P

Blink Blink said...

salut yah buat si kodok ijo, kan jaman sekarang jarang ada yang kayak gitu

Hutan Hujan said...

blognya keren, pls add me

http://aderain.blog.com


aderain

Enno said...

@all: hanya Tuhan yg tahu ini ttg apa dan siapa... thx komen2nya yaaa....

semoga tulisan ini ada hikmahnya

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...