Monday, June 22, 2009

I Miss You Badly


Saya kangen kamu. Rasanya nyaris gila. Segala yang indah di sini jadi tidak berarti apa-apa.
Gunung di belakang rumah yang setiap pagi saya pandangi, angin semilir yang membelai tengkuk, elang yang terbang tinggi sambil berteriak nyaring, dan ikan-ikan di kolam yang muncul ke permukaan ketika saya hampiri. Semuanya tidak lagi sempurna.

Saya rindu segala keruwetan yang kamu timbulkan. Segala kemarahan dan kejengkelan. Dan kamu yang bergeming seolah tak bersalah. Saya habiskan segala perasaan untukmu yang tak pernah tuntas membalas. Saya curahkan energi untuk mengejar setiap detik yang tertinggal, agar selalu bisa seiring langkah.

Tidakkah kamu tahu, setiap perpisahan adalah luka dan setiap perjumpaan adalah surga?

When we two parted
In silence and tears,
Half broken-hearted
To sever the years,
Pale grew thy cheek and cold,
thy kiss;
Truly that hour foretold
Sorrow to this.

Saya bekukan semua kenangan tentangmu selagi saya di sini menghentikan waktu. Tetapi selalu saja kamu melintas-lintas, menohok benak dengan keras. Kamu seolah tak rela saya meninggalkanmu dengan bergegas.

Saya kangen kamu. Kehilangan segala yang indah tentangmu. Saya dilanda kebosanan kronis, kehilangan harapan dan kehangatan.
Di sana, apakah kamu punya perasaan yang sama?

The dew of the morning
Sunk, chill on my brow,
It felt like the warning
Of what I feel now.
Thy vows are all broken,
And light is thy fame;
I hear thy name spoken,
And share in its shame.

Sungguh. Saya kangen kamu. Sementara di sana kamu pasti sibuk dan tak sempat mengingatku.
Berapa banyak gadis-gadis yang mengelilingimu? Berapa ribu godaan menghapus jejak keberadaanku yang sejenak?

They name thee before me,
A knell to mine ear;
A shudder comes o'er me...
Why wert thou so dear?
They know not I knew thee,
Who knew thee too well..
Long, long shall I rue thee,
Too deeply to tell.

Apalah artinya saya bagimu? Hanya sebaris nama di kolom yang tak terbaca, di kertas yang tertempel entah di mana, di daftar yang terlupakan. Hanya debu yang mengapung di atas monumen-monumen dikarati polusi. Atau barangkali sayalah polusi itu sendiri.

In secret we met
In silence I grieve
That thy heart could forget,
Thy spirit deceive.
If I should meet thee
After long years,
How should I greet thee?
With silence and tears.

Entah berapa lama harus menunggu. Saya ingin bertemu. Tak bisa tidur dan nyaris gila. Jakarta, saya kangen kamu!

_____________

Happy birthday to my beloved city :)

*the poem: When We Two Parted by Lord Byron


Image and video hosting by TinyPic

4 comments:

denny said...

wahahahahaha.....



gak mutu...
aku tertipu..

ku kira..

ahh,,,, mok..

Enno said...

hehehe... pasti kau kira buat ultraman yak?

gotcha! :P

Sari Maniez said...

Ya ampyunnnn....kangennya buat Jakarta tho? Beruntung banget tuh Jakrta, mentang2 lagi ultah trus dikangenin sama Jeng Enno :)

Enno said...

@sari: iya dong, emang dikira buat sapa gitu? :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...