Sunday, June 28, 2009

Did You Ever Know A Mother ...


Did you ever know a mother
Who could change a rainy
By letting you invite your friends
For hours and hours of play?

Did you ever know a mother
Who'd pretend she was a nurse
When someone got a sliver
Or a nasty scrape or worse?
A mother who'd jump rope with you to alligator purse?

Did you ever know a mother
Not one bit afraid of mice?
A mom who thinks that puppy dogs
And polliwogs are nice?

Did you ever know a mother
Who could sort of understand
That a person sometimes has to be
A drummer in a band?
A motiff with a lot of
Noisy, nice, old pots on hand?

Did you ever know a mother
Who was all that grand?
If you know of such a mother,
And I'm pretty sure you do,
Tell her how much you love her
The whole year through.

.....

Belakangan saya dan Ussy sedikit bertentangan. Saya mengkritik caranya mendidik anak yang menurut saya menyebalkan. Terlalu memanjakan, terlalu melindungi dan terlalu mendikte.

Ia berniat membelikan anaknya yang masih kelas satu SMA sebuah blackberry.
"Buat apa?" Tanya saya. "Memangnya anak sebesar itu mendapat ratusan email setiap hari? Kalau cuma untuk main fesbuk, masih bisa pakai ponselnya yang sekarang."
Ussy masih bersikeras, meskipun saya menyarankan menyimpan saja uangnya untuk menambah tabungan kuliah anaknya.
"Baiklah," ujar saya. "Terserahmu saja Kak. Rupanya kau sudah kebanyakan uang."

Setiap hari ia mendiktekan buku-buku pelajaran yang harus dibawa anaknya ke sekolah. Suatu malam saya melihatnya mengerjakan pekerjaan rumah anaknya satu buku penuh.
"Apa-apaan ini!" Saya masuk ke kamar anaknya dan memelototinya. "Kenapa ibumu yang mengerjakan PR-mu? Kamu bukan anak idiot. Kerjakan sendiri!"

Setiap pagi, Ussy sangat bawel mewanti-wanti anaknya yang berangkat naik motor. "Hati-hati ya sayang. Jangan ngebut. Buku-bukumu sudah lengkap? Alat-alat tulismu? Buku PR-mu? Dompetmu? Ponselmu?" Lalu ia akan terbirit-birit mengambilkan barang apa saja yang terlupa. Ketika anaknya berangkat, ia masih saja berteriak. "Sayang! Jangan ngebut ya!" Halah!

"Sampai kapan anakmu kau perlakukan seperti bayi, Kak?" Tanya saya. "Biarkan ia bertanggung jawab sendiri atas keperluannya. Ia harus belajar menerima konsekuensi kelalaiannya."

Kemarin saya mendengar anaknya mengumpat. "Rio, bahasa apa itu?" Tegur saya. "Kamu kok seperti preman terminal. Jaga mulut kamu itu." Dan harus selalu saya yang menegurnya, karena ibunya diam saja. Beralasan anaknya bandel tidak mau mendengar nasehatnya.

Masih hari yang sama, Ussy bertengkar dengan anaknya. Ia memaksa anaknya ikut bimbingan belajar menghadapi UMPTN dua tahun lagi. Anaknya ingin menunggu sampai kelas tiga.

"Jangan dipaksa," ujar saya. "Rio tidak akan mengikuti bimbel dengan benar nanti. Pasti banyak bolosnya. Uang jutaan yang kau bayarkan untuk bimbel itu akan sia-sia."
"Biar dia pintar," sergah Ussy.
"Astaga Kak, Rio selama ini selalu peringkat pertama di sekolahnya! Ikut bimbel di kelas tiga lebih efektif. Sekarang biarkan ia menikmati masa pubernya. Jangan kau paksa-paksa. Nanti dia malah berontak."

Rio ingin kuliah di Institut Teknologi Bandung. Saya menyarankannya ikut kursus bahasa Jerman selain Inggris, karena banyak literatur teknik yang berbahasa Jerman. Ussy bahkan tidak tahu manfaatnya. Untung saja akhirnya ia setuju.

.......

Denny: kalau kau punya rumah, kau mau yang seperti apa Mok?
Enno: yang biasa saja. dengan meja-meja yang tidak bersudut runcing. dan dapur yang lapang.
Denny: memang kenapa?
Enno: supaya anak-anakku tidak terbentur.
Denny: wah ternyata kau keibuan juga, Mok. aku takjub!
Enno: ah itu kan cuma sekedar praktis. nanti moodku memasak terganggu anak yang menangis.
Denny: hahaha... kau Mok! dibalik keibuanmu ada kegalakan.

.......

Saya memang bukan seorang ibu. Belum. Dan barangkali nanti bukan ibu yang sempurna. Tapi sejak sekarang saya janji tidak akan menjadi seorang ibu seperti Ussy. Ia terlalu melindungi dan memanjakan anaknya, tak sadar hal itu akan merusaknya.


Image and video hosting by TinyPic

8 comments:

Arman said...

Hehehe let's wait and see what happen pas lu ntar punya anak ya no... :)

Jadi parents emang kadang dilema. Antara mau marah dan gak tega kalo udh urusan ama anak.

Gw baca ini jd ikut tersindir sebenernya. Gw juga dulu bertekad gak akan memanjakan anak. Tapi mana buktinya... Skrg gw suka diomelin bokap karena andrew terlalu dimanja.

Yah emang mulai keliatan adatnya. Dia jadi tau bgt kalo dia mulai nangis dikit, gw jadi gak tega. Nangisnya jadi senjata. Gw nyadar sih tapi suka gak tega.

Yah berusaha sih untuk lebih tegas ama si andrew... Moga2 aja berhasil dah. Hehehe.

Sari Maniez said...

Aku juga blom jadi Ibu, tapi...aku juga ga mau jadi Ibu kayak Ussy yang sampe ngerjain PR anaknya...Anakku harus jadi anak mandiri yang pasti bisa mandi sendiri hehe ;p

Rintjez said...

Bosyet, bahagia banget gw kalo ibu yang ngerjain PR gw dulu jaman sekolah! hahahaha!

Setuju ama lo say!
Jangan terlalu manjain anak, karena ntar gedenya mereka ga punya fighting spirit gara2 semua yang diminta dipenuhin :)

mudah-mudahan elo menjadi ibu yang baik nantinya :)

Enno said...

@arman: hahaha.... klo masih sebesar andrew sih masih lucu, asal jgn sampe besar aja... ayo, ayo hrs tegas!
masa sih aku bakalan terkena dilema juga? aduh, semoga aku bs pegang prinsip
;)

@sari: iyalah masa sampe besar dimandiin :P

@rintjez: jeng loe kemana aja? hahaha emang paling males ngerjain pe-er itu ya :P
amin, makasih doanya... semoga loe juga :)

Elsa said...

susahnya mendidik anak...adalah: gak ada rumusnya!!!

gak ada buku panduannya.
gak ada teori pastinya.
jadi setiap orang berbeda cara mendidik anak-anaknya.

itu anak mereka, ya terserah mereka mau kasih makan apa, mau disekolahin dimana...sampe mau dimanjain atau nggak.
aku juga sering gitu, protes lihat cara Kakak mendidik anaknya.

tapi, Nothing i can do, ya kan??
hehehehe... bener tuh kata Arman.

let's wait and see what happen pas lu ntar punya anak ya no... :)


sama.

Enno said...

ahahaha.... pada bilang wait n see sama gueee...!
kekekek

iya deh, wait n see yak!

;)

Lina Jenie said...

Hai Enno, salam kenal dan numpang ngoceh ya.....
Sebagai ortu, yg paling penting harus ingat, di luar rumah adalah hutan rimba yg penuh dg aneka mahluk dg segala sifatnya, baik s/d buruk. Makanya anak hrs disiapkan utk bisa menghadapi itu semua. Di rumah apapun yg anak lakukan, ortu masih bisa menerima, tp di luar rumah berbeda, bnyak yg akan menolak....

Enno said...

halo salam kenal lina! thx komennya...
sudah jadi ibu ya?

:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...