Saturday, May 23, 2009

Azizah


Namanya bagus, Azizah. Artinya wanita yang kuat dalam bahasa Arab. Tetapi semua orang memanggilnya Ijah. Lebih mudah diingat, lebih gampang disebut dan terdengar tidak terlalu muluk untuk lingkungan tempat tinggalnya. Sebuah perkampungan kumuh sangat padat di pinggir sebuah tempat pembuangan akhir sampah ibukota.

Gadis kecil sebelas tahun itu selalu berdiri di depan mushola serba guna semi permanen setengah tembok setengah papan, yang kami pergunakan untuk mengajari anak-anak kampung membaca, menulis, menyanyi dan menggambar. Ijah akan berlari menyambutku dan teman-temanku sesama pengajar sukarela. Ia mengulurkan tangan-tangan kurusnya yang hitam dekil, menggenggam tanganku dan menyentuhkannya ke dahinya.

“Selamat sore, Bu Guru.”

Setiap hari Minggu sore adalah jadwal kami mengajar anak-anak keluarga pemulung di kampung itu.

Dibandingkan teman-temannya yang lain, Ijah lebih menonjol. Ia pandai dalam segala pelajaran. Sebagian besar murid-muridku belajar di sekolah umum, membagi waktunya dengan membantu pekerjaan orangtua mereka sebagai pemulung. Sebagian lainnya putus sekolah. Tetapi mereka semua sangat bersemangat menghadiri pelajaran mingguan di mushola.

Kalau aku bertanya di depan kelas darurat itu, Ijah selalu mengacungkan tangan lebih dulu dari anak-anak lain. Jawabannya selalu benar, tentu saja. Aku dan teman-temanku yakin masa depannya akan sangat cerah jika bisa melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi.

“Ijah mau belajar di kampus, Bu Guru. Supaya nanti bisa kerja di kantor. Punya uang untuk membeli rumah buat Bapak dan Emak. Kasihan kalau terus tinggal di rumah jelek.”

Masalahnya, kedua orangtuanya bukan orang mampu. Mereka hanya pemulung dan memiliki pandangan yang sempit.

“Sebentar lagi juga saya kawinkan, Neng,” kata emaknya padaku, suatu hari sehabis usai pelajaran.
“Sayang Bu. Ijah pintar. Kalau sekolah sampai tinggi pasti maju.”
“Biayanya dari mana, Neng. Kan si Neng tahu sendiri hidup kami nggak gampang. Cari makan aja sekarang susah, Neng. Lulus SD saja sudah untung.”
“Anak sepintar Ijah bisa dapat beasiswa dengan mudah, Bu.”
“Ah, kalau sudah sekolah tinggi-tinggi nanti cari kerjanya malah susah. Pengangguran dimana-mana, iya kan Neng?”

Kami tidak bisa melunakkan hati orangtuanya. Keputusan mereka sudah bulat. Lulus SD sudah cukup buat Ijah dan kedua adiknya.

Tiga tahun yang lalu aku berhenti menjadi pengajar di sekolah darurat itu. Kesibukanku di kantor amat menyita waktu. Kadang-kadang hari liburku pun tersita oleh lembur. Aku masih sering merindukan anak-anak itu. Wajah-wajah dekil ceria, yang berlari-lari menyambutku sambil berteriak-teriak. “Ada Bu Guru! Ada Bu Guru!”

Dan Ijah. Matanya yang berbinar cerdas penuh rasa ingin tahu di wajah manis yang berlumur debu-debu sampah. Dialah yang paling kurindukan.

“Bu Guru….?” Sebuah suara melengking dari luar jendela bus yang kutumpangi membuatku menoleh. Seraut wajah tersenyum ragu padaku di bawah jendela.

“Ya Allah, Ijah ya?” Aku menegakkan tubuhku, mengamatinya dengan gembira.

Ijah dengan pakaian yang tetap lusuh. Wajah yang tetap manis dan mata yang bersinar-sinar. Ia menjadi lebih tinggi sedikit dari yang kuingat. Tangannya menggenggam kecrekan, perkusi yang biasa dibuat pengamen dari sebatang kayu pendek yang disangkuti tutup-tutup botol minuman ringan. Dalam pelukannya ada seorang bayi mungil. Tersembunyi dalam kain gendongan kumal.

Bus yang kutumpangi melaju. Aku ingin turun lagi, tapi padatnya penumpang yang berdiri membuat niatku urung. Tidak mungkin sempat. Semua bus di depan lampu merah sekarang melaju, berlomba-lomba start lebih dulu.

Di luar sana, Ijah melambai-lambaikan tangannya sambil menunjuk-nunjuk bayi dalam gendongannya.

Apa maksudnya? Mungkinkah ia ingin mengatakan itu anaknya? Bisa jadi itu memang anaknya. Dia pasti sudah lulus SD tiga tahun yang lalu. Emaknya bilang ia sudah menjodohkan anaknya dengan orang sekampung.

Aku mencarinya lagi di terminal itu. Berharap bertemu lagi dengannya, mengobrol dan menikmati keceriaannya yang dulu. Tetapi ia tak pernah kulihat lagi. Aku kembali ke perkampungan kumuh itu, ternyata keluarganya sudah tak tinggal lagi disitu.

Azizah, muridku yang cerdas itu, hanya salah satu dari anak-anak tak beruntung di luar sana. Yang tak bisa mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Yang terpaksa memprioritaskan isi perut, karena kemiskinan telah membuat mereka lebih takut pada kelaparan daripada kebodohan.

“Bu Guru, kalau Ijah harus kawin juga nggak apa-apa kok. Yang penting Bapak dan Emak nggak repot lagi.” Begitu katanya sambil memelukku, tiga tahun yang lalu.

5 comments:

chrysanti said...

Seandainya ijah tau kalo banyak beasiswa yang tersedia untuknya..

Rie Rie said...

mengharukan, sungguh.
dan salut kepada mbak yang bersedia menjadi sukarelawan guru...
lam kenal!

denny said...

enno?
bu guru???

guru bok*p???
guru apaan??

hehehe...

bu guru, jangan galak2...

masih heran, guru, suka PMS...???

Elsa said...

azizah...
namanya sama kayak adikku.
tapi nasibnya sungguh jauh berbeda ya...
subhanallah.

Enno said...

@chrysanti: orangtuanya susah dikasih pengertian :)

@Rie Rie: terima kasih, salam kenal juga :)

@denny: guru bokep kan pak rudy :P

@elsa: iya, memang kasian banget ya elsa...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...