Tuesday, May 26, 2009

Apatis


Saya tidak peduli pada wajahnya yang distel sedih dan pedih. Matanya merah tanda kurang tidur. Agak sembab, seperti habis menangis. Ada kerut merut mendadak di dahinya yang biasanya licin. Kedua sudut bibirnya bahkan membentuk lengkungan sempurna ke arah dagu. Saya tetap tidak peduli ketika ia menghembuskan napasnya keras-keras, seolah melepas beban teramat berat dari punggungnya.

Saya tidak peduli. Tetapi ia masih saja mencurahkan isi hatinya kepada saya.

“Siapa yang harus saya pilih?” Itu pertanyaan yang sama, yang keduapuluh kalinya saya dengar.
Saya pura-pura tidak mendengar. Memfokuskan diri pada layar komputer, bermain game Feeding Frenzy. Ikan saya sudah sebesar hiu sekarang dan sedang menghindari ranjau-ranjau.
Ia mencolek lengan saya. “Saya bingung. Saya harus bagaimana?”
“Hmm…” Cuma itu tanggapan saya.
“Kamu nggak kasihan sama saya?”
“Nggak.”
“Jahat banget.”
“Memang.”
”Enno, saya pusing nih.”
“Ya minum obat dong. Panadol kek, Bodrex kek, atau racun serangga sekalian.”
“Serius? Kamu menyuruh saya bunuh diri?”
“Sejak tadi kamu bercerita kepada saya seolah-olah kamu orang paling suci di dunia. Kalau kamu suci seharusnya nggak takut mati. Langsung masuk surga kan?”
“Ah, tampaknya saya salah memilih tempat curhat.”
“Memang.”

Ia duduk termangu di sebelah saya. Berkali-kali memijit keningnya, mengusap wajahnya, dan menghembuskan napas berat. Apakah saya jatuh iba? Tidak tuh.

“Belum pernah ada perempuan yang mencintai saya sedalam itu. Lala tidak mau putus dari saya. Tapi saya juga mencintai Nina, dan saya tidak bisa memutuskan hubungan dengannya. Saya harus memilih, tetapi saya bingung. Saya tidak mau menyakiti perempuan, No.”

Saya mem-pause-kan game saya, lalu menoleh padanya.
“Kamu tidak mau menyakiti perempuan ya?”
Ia mengangguk dengan khidmat.
“Lalu, isterimu di rumah itu bukan perempuan? Pernahkah terpikir oleh hatimu yang welas asih itu bagaimana perasaan isteri yang sudah memberimu tiga anak itu, kalau ia tahu kamu berselingkuh? Dengan dua perempuan sekaligus?”
“Tapi…”
“Tapi itu memang bukan urusan saya. Saya tahu kok. Masih butuh saran saya?”
Ia menatap saya.
“Saya nggak akan kasih saran apa-apa untuk tukang selingkuh seperti kamu.” Saya mengibaskan tangan saya, tanda menutup topik pembicaraan yang menyebalkan itu. “Sudah sana! Ikan saya sudah hampir dapat bonus!”

Apakah saya kasihan padanya? Tidak tuh.

6 comments:

denny said...

wah wah..
kejam kali mok...


:)

inilah yg bikin aku senang punya kakak macam kau,
:P

Enno said...

ck ck ck.... pdhl udah merasakan kekejamanku, tapi kau malah ketagihan!

Elsa said...

btw, sapinya cakep bener!!
pake pose melet kaya gitu...
hihiihi

J O N K said...

mantapppppp :)

keren lho mba ...

lam kenal buat mba enno deh :)

qq said...

emang jerapah udah berubah jadi sapi ya?? hihi.... emong si gembil ini punya nilai kekejaman yg hrs di acungin jempol...

Enno said...

@elsa: iya... bagus kan? :P

@JONK: makasih, salam kenal juga :)

@qq: hmm... loe tau kan sapa yg punya pacar dua ini? hehehe :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...