Wednesday, December 31, 2008

A Sad Love Story


[The night is shattered and he is not with me]

--Darius

Kudengar suara adzan menggema jauh dari masjid di kampung tepi hutan. Subuh tiba. Hari baru berganti lagi. Hasan keluar dari kamarnya menuju perigi. Kudengar suara timba dan percik air. Tengah berwudhu ia. Berguling resah di dipan kayu keras, aku memikirkanmu, Aisya. Wajah bulat kekanakan dengan senyum nakal dan kerling mata genit jenaka. Kekeh tawa dan keluh manja. Jauh di pulau seberang sana, kamu pasti juga tengah menunaikan sholat subuh dengan khusyuk.

”Darius, sudah bangun? Ayo sini, kopi sudah kubuat!”
“Ah, Hasan. Bukankah sekarang giliranku?”

Sang Waktu yang bergulir di sini tak pernah menyisakan celah bagiku untuk berhenti sejenak agar aku bisa memikirkanmu, Aisya. Menembus hutan setiap hari bersama Hasan dan anggota tim yang lain. Menganalisa tanah, mencocokkan data satelit, dan aku tenggelam berhitung dengan program rumit di komputerku. Beginilah hidupku setelah jauh darimu. Melukai ibu bumi, begitu istilahmu.

Serambi Mekah kini aman, Sayangku. Tak ada lagi gerakan separatis yang dulu begitu sadis, juga tentara-tentara dengan bedil terkokang. Aku ingat matamu yang menatap cemas meski bibirmu tersenyum ceria di bandara saat keberangkatanku.

”Harus hati-hati. Janji?”
Tidak cukupkah anggukanku waktu itu, Aisya? Bukankah kau tahu aku memang tak selalu banyak bicara jika di dekatmu.
”Kenapa kamu diam saja?”

Aku selalu kehilangan kata saat bersamamu. Aku hanya ingin meresapi keberadaanmu. Menikmati rasanya mencintaimu. Karena aku tak tahu sampai kapan kita bisa bersama seperti ini.

”Kamu harus bilang janji,” rajukmu.
”Ya. Aku janji.”

Dan aku berjanji padamu. Aku tidak akan pernah mencari penggantimu sebelum kamu mendapatkan penggantiku.

Tetapi kamu tak pernah membuka hatimu untuk yang lain, Aisya. Berat rasanya melihat matamu selalu penuh airmata, suaramu yang serak dan kedukaan yang menghempaskan kesehatanmu. Jangan membuat aku risau, Aisya. Aku harus berkonsentrasi menyelesaikan tugas-tugasku di hutan belantara ini. Bergembiralah. Nikmati hidup dan terimalah semua kekaguman kaum adam di sekitarmu. Makan yang banyak, Sayang. Jangan jatuh sakit, karena aku tak bisa berada di sampingmu.

--Aisya

Kapan hujan turun mengguyur kota yang riuh ini? Kapan matahari bersembunyi di balik awan tebal barang sebentar sampai aku tiba di kantor? Kemacetan lalu lintas yang membuat gila. Rasanya ingin menepi sejenak ke sebuah tempat. Di ujung dunia.

”Blok M! Blok M! Ya tarik terus!”

Oh, lihat itu! Debu dan gumpalan asap knalpot menghambur ke arahku. Siap meracuni paru-paruku. Jangan! Aku tak ingin cepat mati! Aku tak ingin meninggalkan seseorang yang kucintai. Ah, Darius... sedang apa kamu di hutan sana?

Berapa abad telah berlalu saat terakhir kali aku menatapmu di Bandara Soekarno Hatta? Kita mengobrol dua jam sebelum take off. Lalu kamu menuju antrian. Menoleh padaku empat kali, memastikan keberadaanku di pagar pembatas. Kamu berdiri di ambang pintu. Tersenyum padaku. Memberi isyarat telepon dengan tanganmu.

Tahukah kamu, aku menangis diam-diam di dalam bus setelah itu?

Kini rindu dan cemasku tak terkatakan. Aku tak bisa menghubungimu selama dua minggu ini. Kenapa ponselmu selalu tak aktif? Tak adakah sinyal di hutan sana? Atau kamu tak punya waktu untuk mengingatku barang sejenak saja? Baik-baik kah kamu di sana, Sayangku?

Sungguh. Tidurku tak lagi nyenyak. Aku baru saja cuti seminggu. Aku sakit, Sayang. Aku tahu kamu akan marah kalau berada di sini. Matamu yang setajam elang akan menatapku lama sekali. Dan suaramu yang biasanya hangat dan lembut akan berubah tegas dan menyalahkan.

“Jangan membuatku cemas begini, Aisya. Aku tidak bisa selalu disampingmu. Jaga kesehatanmu. Jangan menyiksa diri, karena itu sama saja dengan menyiksa diriku juga.”

Maafkan aku, Darius. Aku tak pernah sengaja menyiksa diri. Jika ada kesedihan dan kedukaan, itu datang sendiri. Aku mencintaimu, dan aku tak bisa melepaskanmu. Kalau kau pergi selamanya dan tak bisa kumiliki, Darius, itu tak akan tertanggungkan.

Aku ingin bersama denganmu selamanya, Darius. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana cara yang adil dan tak menyakiti siapapun? Aku sungguh tak tahu, Sayangku. Tahukah kamu?

--Darius

Aku teringat di bandara saat keberangkatanku. Kamu bersandar di pagar pembatas. Mungil, langsing, dan rapuh. Tersenyum ceria dan melambaikan tangan padaku. Sebening dan serapuh kaca.
Aku mencintaimu, Aisya. Aku ingin menjadi ksatria berbaju besi yang melindungimu sepanjang hidupku. Aku ingin hidup disampingmu. Tetapi sungguh, aku masih belum tahu cara yang adil dan tak menyakiti siapapun.

4 comments:

kita said...

wah,,keren!!!saya sampai berkaca2 membacanya!!!hahahah..

keren!keren!keren!

kapan ya saya punya cewe yang sesetia aisya??hemm..

Enno said...

someday you will be :)

Andi Eriawan said...

enno, ini "aisya adinda kita"?
sepertinya saya kenal...

Enno said...

haha bukan ndi... ini tulisan lama di blog ini trus dipublish lagi... namanya mirip nama 'calon anak' kamu ya hehe... punten atuh :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...