Wednesday, March 5, 2008

Sepenggal Hari

Siapakah yang menjemputnya suatu pagi. Ketika matahari baru saja bangkit dari peraduan, dan embun-embun masih bertahan di dedaunan. Ia yang wajahnya seringkali sedingin angin utara, sudah menunggu di sofa merah tua.
“Aku sudah di bawah.” Ia mengirim pesan pendek itu ke penghuni kamar di lantai tiga.
“Sebentar lagi aku turun.” Pesan pendek balasan segera tiba.
Lalu sang puteri muncul di ujung tangga. Berseri-seri baru selesai mandi.
“Duh, pagi sekali! Sepagi ini kita harus berangkat?”
Pria Hujan tersenyum. Angin utara pun sirna dari wajahnya.
“Aku kan harus mengecek mobil dulu.”
“Jadi kita pakai jip tua di halaman itu?”
“Hey, itu masih bisa dipakai sampai kota tetangga!”
“Iya deh! Ayo cek sekarang. Semoga saja memang bisa jalan.”

Tentu saja jip tua itu melaju tersendat-sendat. Padahal mereka akan pergi melintasi cakrawala. Untuk menyusuri rahasia gelap di kaki bukit-bukit cadas.
Pria Hujan memutuskan menukar mobil.
“Ini pasti gara-gara kemarin kamu mengajak aku dugem.” Ia menoleh. Pura-pura kesal.
“Hey, itu kan supaya kamu tidak terlalu kuno!” Bunga Rumput mendelik. “Siapa suruh mau. Awas ya, jangan coba-coba salahkan aku.”
“Iya deh. Tidak. Bukan salahmu kok.”

Mobil yang baru jalannya lancar. Pria Hujan menyetir dengan tenang. Bunga Rumput duduk di sebelahnya, asyik berdendang.
“Bisa tirukan ketukan drumnya?” Bunga Rumput menggoda.
“Uhm? Tentu saja.”
“Ah, apa sih yang tidak kamu bisa?”
“Tertawa lepas. Seperti tawamu yang menular itu.”

Dan siapakah yang berjalan di depannya dalam kegelapan perut bumi. Ketika mereka menyusuri gemericik sungai rahasia itu. Mengagumi dinding-dinding masif dan kegigihan air yang menjadikannya pilar-pilar dalam kesunyian abadi.
“Kamu lelah?”
“Tidak. Ayo jalan saja.”

Mengapa ia gemetar menatap mata yang bersinar-sinar dalam kegelapan itu? Mengapa ia ingin merengkuh punggung yang memandunya menuju cahaya terang di ujung terowongan?
Pria Hujan-nya menoleh sekali lagi. Mengulurkan tangannya yang kokoh kepadanya. Ia menyambutnya. Genggaman itu selalu membuatnya merasa aman.
“Masih kuat?”
“Ya. Selalu. Jika bersamamu.”

______________________________________

Tolonglah, hari ini jangan lewat sini. Memutar saja lewat benak yang lain. Pintu sini kupalang saja. Aku penat. Pedih melihatmu melintas-lintas…

2 comments:

Anonymous said...

mbak..
baru sadar aku ada di bagian "p".. hahahah..

ini postingan mbak, bersambung yah?

Enno said...

nah lo, jangan cari di huruf C... kan bukan Cocok namanya bukan? hehe

iya ini bersambung :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...