Tuesday, March 12, 2013

Rain Journey: Oud Soerabaia


"This is a slightly shabby colonial villa that still has a twinkle of charm and grandeur. Rooms are plain but clean, and have some lovely touches including Mediterranean-style shuttered windows and front porches with chairs. The helpful managers speak English and Dutch."

-  Lonely Planet's Review about Paviljoen Hostel


Pacar saya yang mengusulkan saya untuk menginap di Hostel Paviljoen, di Jalan Genteng Besar. Kami menemukannya nggak sengaja di search engine dengan kata kunci penginapan murah di Surabaya. Taraaa! Saya menemukan foto hostel ini dengan eksterior dan interior tempo dulu. Langsung ngiler.

Si pacar menelepon ke sana, menanyakan kamar kosong. Saya beruntung. Begitu akhirnya touchdown in Surabaya, saya pergi ke hostel itu untuk menanyakan kamar. Dapat, sodara-sodara! Hahaha...

Hostel ini dibangun tahun 1917 oleh orang Perancis. Kemudian kepemilikannya berpindah-pindah ke orang-orang Eropa lainnya, diantaranya warga negara Jerman dan Belanda. Sejak awal didirikan, bangunan ini memang diperuntukkan sebagai losmen.

Hostel ini punya 21 kamar. Sebagian menghadap ke taman di bagian tengah bangunan. Di depan kamar ada kursi dan meja untuk duduk-duduk. Menginap di sini berasa kayak menginap di rumah seseorang. Suasananya nyaman, sepi dan rumahan banget! Sewa per malamnya juga murah. Kamar dengan kipas angin Rp 137 ribu. Yang ber-AC antara Rp 165 ribu - Rp 196 ribu. Semua kamar punya kamar mandi dalam. Trus setiap pagi dapat sarapan teh manis dan setangkup roti dengan selai dan mentega. Lumayan. By the way, rotinya roti gandum lho.

Jangan salah, biarpun murah, hostel ini nggak murahan. Nama baiknya terjaga. Warga asli Surabaya nggak bisa menginap di sini untuk short time. Sori ye. Syarat menginap di sini, tamu harus menitipkan KTP, dan yang ber-KTP Surabaya langsung ditolak.

Hostel ini juga terkenal di mancanegara. Tuh, buktinya direview Lonely Planet. Orang-orang bule, terutama backpacker, banyak yang menginap di sini, bahkan sampai sebulan (udah kayak kost). Seperti saya bilang kan, suasananya nyaman dan hommy. Recommended lah pokoknya.

Hostel Paviljoen cuma berjarak 10 meter dengan Jalan Tunjungan. Saya dan si pacar jalan kaki ke sana untuk memotret. Lumayan, dapat beberapa obyek foto menarik, meski tak sempat berjalan lebih jauh ke arah Hotel Majapahit yang dulu bernama Hotel Yamato di mana insiden perobekan bendera Belanda di atapnya terjadi. Ingat kan?

Nah, ini beberapa foto hasil perburuan saya di sudut-sudut kota selama di Surabaya. Selain pergi ke Kya Kya dan Jalan Tunjungan, kami menelusuri kota sampai ke kawasan Jalan KH Mansyur yang di sepanjang jalannya berderet bangunan-bangunan cagar budaya, yang sayangnya beberapa dibiarkan tak terurus.

By the way, foto-fotonya sengaja diedit jadi vintage hahaha...

Salah satu bangunan cagar budaya di Jl. KH. Mansyur, yang kosong tak terawat.

Hotel Kemadjoean, Jl. KH Mansyur No. 96.
Salah satu heritage building di kawasan ini. Jari si pacar di sudut kanan bawah, sengaja gak dicrop hahaha...

Kemadjoean Hotel since 1928


Ini Jalan Gula. Terkenal sebagai tempat untuk berfoto dengan latar belakang vintage.
Dua bangunan dalam gambar tadinya bekas pabrik kain dan pabrik sepatu sejak zaman Belanda.

Salah satu rumah lama di kawasan Pecinan Surabaya.
Di jalan Dukuh ini ada Klenteng Hong Tiek Hian, klenteng tertua di Surabaya. Tapi lupa nggak mampir ke situ :(

Salah satu bangunan heritage di Jalan Tunjungan

Dibangun tahun 1912

Rumah cagar budaya milik keluarga Oesman Naban di Jl. KH. Mansyur

Oesman Nabhan adalah tokoh pergerakan kaum Arab di Surabaya

Ruang tamu Hostel Paviljoen, tempat saya menginap :)

...........................

Note:

Tadi siang, waktu kamu bilang sedang kangen aku, 
aku sudah punya banyak persediaan rindu kepadamu.
Sebelum kamu mengatakannya, barangkali sambil mendekap angan
aku punya banyak rahasia yang kusimpan.
Tentang hujan
Tentang kalimat-kalimat yang kurangkai saat sunyi
Tentang malam yang dipeluk mimpi
Tentang kamu dalam cahaya, sepanjang aku terjaga...



Image and video hosting by TinyPic

7 comments:

riyanto perdana said...

Ngomong ttg hotel murah di sby, besok2 cobain hotel sparkling, hotel khusus backpacker di depan jalan Kayun. Harganya murah sekitar 150 rb perhari. Ada ac, tv kabel dan wifi. Kalo mau ke plasa Delta tinggal jalan kaki. Deket sama monkasel, gubeng dan kantor walikota.

Selfish Jean said...

Huahaha. Asoyyy. Mayan. Buat referensi jalan ke Surabaya nanti. Murah euyyyy.

Enno said...

@riyanto: tdnya mo nyobain disitu mas arik, tp ga jd krn dgr2 agak kotor. Akhirnya sblm cus ke bromo, nginep dlu di Providence Homestay samping mal ciputra. Bersih dan sepi. Cm 90 rb pulak. Strategis jg hehe..

@mon: tapi di paviljoen gak ada hot waternya mon... Di providence jg. Di sby kan panas, masa mandi pake aer anget? Heu.. :p

Anonymous said...

baca postingan ini dengan soundtrack lagu yg disediakan blog ini membuat hari kamisku syahdu merindu.....kangen kangen dan kangen


-ika puspita-

sHaa said...

kakaaaaaaa..

duh!
rasanya udah seabad ga blog walking kesini! :D
gimana kabarnya ka?
btw thanks for the hostel info, kebetulan lagi nyari" referensi penginepan di sby nih, hehe.

anuu..
ituu sha mauuuu doongg novelnyaa kakaa, pengen bacaa :((

save my new blog's link ya ka,
abis pindahan rumah nih,
hhe.

xoxo,
*SHA

PS. backsound-nya ini lagu sapa ka? kok kereeennn! huhuhu.. #heboh

Dongeng Denu said...

hostelnya nampak enakkk...
suka deh dgn kota2 tua itu, slalu nampak eksotis klo di foto, ihihihi..

Enno said...

@ika: cieee kangen sm sapa tuuu? :))

@sha: hai dek... Sibuk yaaa... Novelku msh ada kok di tokbuk.. Hehe.. Itu lagunya Jed Madela, Only Reminds Me of You. Iya linknya disave ;))

@denu: bener bgt, eksotis dan misterius ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...