Monday, December 15, 2008

Kupu-Kupu Hilang Warna

Aku menyusuri lorong sempit dan gelap itu. Sinar matahari bahkan tak tembus ke tanah yang kupijak, karena begitu rapatnya bangunan di sisi kiri dan kanan. Hanya papan-papan bekas yang dirangkai bagai puzzle seadanya, menjadi sederet kubus tanpa jendela dan ventilasi. Tak ada bunyi. Suara-suara terkubur sepi.

Lalu ada tangga-tangga kayu yang mulai melapuk, mengarah ke atas. Nyaris tegak lurus, dengan pijakan sempit tak sampai selebar telapak kaki.
Panjatlah tangga itu dan engkau akan menemukan dunia lain. Dunia atap yang beraroma uap panas seng. Dengan deretan pintu-pintu tripleks bekas dan dengkur halus yang terdengar samar di baliknya. Kau tahu, bahkan kandang merpati pun jauh lebih baik dari ini.

Aku mengetuk salah satu pintu, lalu seorang gadis berwajah pucat terhuyung membuka pintu. Matanya masih mengantuk, masih tampak sisa make up yang meluntur di wajahnya.
"Cari siapa?"
"Eli ada?"
"Eli di bawah."
"Oh maaf ya mengganggu."
Ia hanya mengangguk dan kembali menutup pintu.
Aku kembali ke dunia bawah. Akhirnya menemukan orang yang kucari di salah satu kubus papan itu.

Dan Eli membukakan pintu. Dunia luar seolah menghilang ketika aku melangkah masuk ke dalam kubus itu. Hawa terasa pengap. Udara tersekap. Oksigen yang dihasilkan hanya dari sebuah kipas angin yang ditempel di dinding. Sebuah ranjang kayu di sudut gelap ditiduri tiga orang gadis remaja, berhimpitan. Masih dengan pakaian semalam dan make up tebal yang telah luntur.

Eli mengajakku duduk di lantai. Lalu mulai bercerita tentang hidupnya yang kelabu. Tentang tanah kerontang dan tandus di desanya. Tentang keluarganya yang miskin dan selusin anak orangtuanya yang mesti diberi makan. Tentang kedatangan seorang laki-laki dari kota yang menjanjikan pekerjaan di restoran besar. Lalu tentang dunia yang runtuh ketika ia malah terjebak di sebuah tempat prostitusi dan kegadisannya direnggut seorang pelanggan warung minumnya di dalam mobil.

Air matanya mengalir di wajahnya yang manis. Usianya belum lagi dua belas tahun ketika itu terjadi. Kini, lima tahun telah berlalu dan ia masih berkubang di dunia yang sama.

"Biarlah begini saja. Uangnya bisa dikirim ke kampung untuk sekolah adik-adik. Mereka harus bisa tamat SMA. Jangan seperti saya yang ijazah SD pun tak punya."
"Tapi kamu tidak bisa seperti ini terus. Jalan hidupmu masih panjang. Belajarlah ketrampilan lain. Cari pekerjaan yang halal."
Eli tersenyum getir. "Apakah orang-orang masih mau menerima seorang pelacur seperti saya?"

Ia bangkit dan duduk tercenung di pinggir ranjang. Menatap teman-temannya yang masih terlelap.

Kesedihan menyergapku. Diam-diam aku menangis bersamanya. Kutatap mereka satu persatu. Gadis-gadis belia, bak kupu-kupu tersesat yang terbang di gelap malam. Sayap-sayap mereka pucat. Hilang warna.
________________

Catatan:

Ini adalah sepenggal hasil investigasi untuk liputan tentang perdagangan anak dan perempuan (trafficking). Lokasi: Prumpung, Jakarta Timur. Hasil investigasi faktualnya rencananya akan diserahkan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan agar bisa segera disusun program anti- trafficking.

2 comments:

hari Lazuardi said...

Kupu-kupu itu masih memiliki sayap yang berwarna-warni seperti hamparan warna semesta yang indah, hanya saja kini ia terbang di tengah hujan debu yang begitu pekat dan terjerembab serta berkubang lumpur hitam yang menyedot bak arus kuat, jadi tak terlihatlah warnanya...

Sayap yang indah itu masih ada, menunggu terbebas dari segala hitam yang menggelapkan, terbang kembali di tengah cerah...

Poppus said...

no, udah pernah baca CEDAW?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...