Thursday, May 24, 2012

Perempuan dan Lelaki Itu

Ia bahkan sudah tahu, ini adalah perpisahan, ketika melihat lelaki itu berjalan hampir melewati dirinya yang berdiri di sisi pintu keluar. Lelaki yang berwajah lelah dan tersenyum ragu itu berdiri dengan canggung di depannya.
"Baru keluar dari gua, langsung naik kereta api ke sini."
"Aku tau."
"Tau dari mana?"
Perempuan itu tertawa pelan, menunjuk si lelaki dari bawah ke atas sambil mengerucutkan bibirnya. "Kamu masih pakai fesyen outdoor-mu, dan masih agak bau guano."
"Masa? Perasaan aku sempat mandi kok."
"Di sungai bawah tanah? Nggak pake sabun karena memang nggak boleh? Ya sama aja bohong."
Lelaki itu terkekeh.

Mereka naik bus menuju tempat tinggal perempuan itu. Sepanjang jalan si lelaki memandanginya sambil tersenyum.
"Kenapa ngeliatin terus?"
"Aku kangen."
"Aku enggak tuh."
"Masa?" Wajah lelaki itu agak berubah. Kecewa.
"Kamu masih percaya aja ya kalo kubohongin?" Perempuan itu tergelak.
"Kesinikan tangannya."
"Mau ngapain?"
"Ayo kesinikan!" Dengan heran perempuan itu mengulurkan telapak tangannya, yang langsung digenggam erat oleh lelaki di sebelahnya.
"Terus?"
"Nggak apa-apa. Aku mau tidur sambil pegang tanganmu." Lelaki itu bersandar di kursinya dan mulai memejamkan mata. Tangan perempuan itu dibawanya ke dadanya. Didekap erat, dan ia mulai terlelap.
Perempuan itu tersenyum. Bahagia dan pedih bercampur jadi satu.

"Aku tau kamu kesini mau apa..."
"Kamu memang selalu tau. Selalu ngerti."
"Sudah kupikirkan baik-baik. Kalau kita putus, mungkin itu yang terbaik."
"Kamu benar-benar sudah tau."
"I'm your girl friend. Setidaknya sampai hari ini."
"I'm sorry."
"Nggak. Yang salah itu aku."
"Bukan. Kamu nggak salah sediikit pun."

Lalu perempuan itu mulai sibuk menghapus air matanya yang tiba-tiba mendesak berjatuhan.

"Don't cry, baby.. please... I'm so sorry."
Lelaki itu memeluk si perempuan yang isaknya semakin keras. Air matanya membasahi kemeja flanelnya. Terasa pedih meresap ke hatinya.

Di tepi jalan.
Perempuan itu berdiri di sebelahnya sampai sebuah bus datang dan berhenti untuk membawanya pergi.
"Aku pulang."
"Ya. Hati-hati."
Perempuan itu tiba-tiba meraih lengannya, menariknya mendekat, dan mencium pipinya, disaksikan seluruh penumpang di dalam bus dan seluruh calon penumpang di tepi jalan itu.
Ia tertegun ketika perempuan itu berbisik. "You gotta be happy..."

“One of the keys to happiness is a bad memory.” 
― Rita Mae Brown 

pict from here




Image and video hosting by TinyPic

9 comments:

Arman said...

kenapa harus putus?

Anonymous said...

request ku cerita yg romantis walau sedih....
- ikq-

nita said...

siang mba enno :) mba,mbok ya bwt cerita jgn sedih trs gini to! he..he..

chici said...

sediiiiih :(

enno said...

@arman: spt jwbn artis2 klo ditanya: perbedaan prinsip ...wkwkwkwk tolong jgn jitak gw! :))

@ika: oh aku malah lupa rekuesmu ka hehe.. ini mendadak aja dpt ilham :p

@nita: wah... semua org yg mampir mintanya tulisan mellow gini nih. kamu doang yg enggak haha

@chici: cup cup... hahaha

nopri said...

: as always, love it.. It looks like enno know my story #halah nyama2in:p

Enno said...

@nopri: wew! ada yg nyaris curcol hahaha :D

Gloria Putri said...

iini sama yg mana mba? hujan? wkwkwkwkwk

enno said...

bukaaan... :P

gak terlabel dia mah hehe..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...