Thursday, December 22, 2011

Love and Hate

Aku iri, kata saya pada Rona, suatu hari. Gara-gara melihat status teman di YM yang mengucapkan selamat ulang tahun pada ayahnya. 'Happy birthday, Papa. I love you. I love you. I love you.'

Saya iri karena memang tahu bahwa hubungannya dengan kedua orangtuanya memang semesra itu. Seolah-olah mereka tak pernah bertengkar habis-habisan, tidak pernah berdebat, tidak pernah ada sesuatu hal pun yang membuatnya harus membantah atau membangkang. Tidak seperti saya, dia anak baik memang. Penurut, patuh, dan saya iri.

Hubungan saya dengan kedua orangtua saya baik. Saya mencintai mereka, menghormati dan mengagumi pengorbanan yang sudah mereka berikan agar saya bisa seperti ini. Mengirim dua anaknya ke universitas di luar kota, luar provinsi bahkan, bukanlah hal mudah bagi orangtua saya yang ekonominya biasa-biasa saja.

Ayah saya sampai harus bekerja part-time sepulang kantor di Hewlett-Packard untuk memasang puluhan elemen radio telekomunikasi buatan mereka, membeli angkot dan menyisihkan gaji PNS-nya yang tidak seberapa untuk biaya hidup saya dan adik saya di rantau. Ibu saya seringkali harus menggadaikan perhiasannya jika saya butuh keperluan lebih untuk buku atau kegiatan. Baru hari-hari ini, setelah ayah memasuki pensiun dan kami sudah bekerja, hidup mereka lebih nyaman meski tetap sederhana.

Bukan saya tidak berterima kasih, tetapi di antara saya dan kedua orangtua saya ada dinding yang kasat mata. Saya tidak bisa menceritakan detail apa sebabnya. Ini berkaitan dengan masa kecil saya yang penuh tekanan, sakit-sakitan dan perlakuan tak adil kakek saya yang terang-terangan. Waktu masih kecil saya adalah anak perempuan paling pendiam di muka bumi. Saya bisa tertawa, berlari-lari, berceloteh riang dan punya banyak teman (anak laki-laki). Tetapi tetap saja saya lebih sering sendirian dengan buku-buku cerita, mainan figurin plastik (kebun binatang, sebatalyon prajurit tempur, dan sepasukan cowboy-Indian), dan kucing-kucing. Saya lebih suka bersembunyi di belakang daun pintu atau kolong meja makan sampai Ibu memanggil menyuruh makan atau menjaga adik. Begitulah kemudian saya tumbuh menjadi orang yang kemudian dianggap berbeda oleh semua orang.

Ibu saya mengikuti gaya kakek saya (ayahnya) dalam mendidik kami. Keras, spartan, disiplin, meski bukan berarti dia tidak bisa lembut dan pengertian. Saya dibiarkan tidak rutin puasa dan sholat sampai kelas lima SD. Tetapi begitu naik kelas enam dan Ibu tahu sebentar lagi saya pasti akan mendapat haid pertama, dua rukun Islam itu menjadi wajib. Kalau saya tidak segera bangun untuk sholat subuh, muka saya diperciki air langsung dari gayung.

Sejak dulu, diantara kedua saudara saya, sayalah yang paling dituntut untuk sempurna. Saya tidak tahu kenapa. Saya harus lebih pintar (padahal jelas-jelas otak kakak saya yang lebih cemerlang tanpa dia harus susah payah belajar), saya harus lebih rajin (padahal adik saya yang nakalnya bukan main selalu susah disuruh mengerjakan PR), saya harus lebih pandai mengaji (dan wajib hukumnya bagi saya mengawasi adik saya mendaras Qur'an sementara Ibu mendengarkan dan membetulkan pengucapan sambil memasak di dapur), saya harus begini, begitu, dan semuanya masih berlanjut sampai saya sedewasa ini, ketika Ibu masih ada.

Jauh-jauh di Jakarta, ditelpon hanya untuk diberi nasehat. Kadang-kadang didesak kapan menikah. Lebih sering lagi diingatkan waktunya puasa-puasa sunnah. Yang paling menjengkelkan adalah telpon di jam sibuk hanya untuk menyuruh saya mengambil kertas dan pena dan menuliskan ayat yang dibacakan Ibu, untuk diamalkan sehabis sholat. Nanti malam ya Bu, sibuk nih, tawar saya. Sekarang aja nanti Ibu lupa, desak ibu saya. Begitulah.

Kadang-kadang saya benci, kenapa saya melulu yang dituntut untuk sempurna. Kenapa bukan kakak saya si sulung, atau adik saya anak lelaki yang harusnya menjadi pelindung keluarga setelah ayah saya menua? Saya cuma anak tengah, yang lebih suka menyendiri, tidak suka diganggu dan tidak mau jadi orang sempurna. Itu membuat saya sering membangkang dan memicu pertengkaran. Lebih sering antara saya dan Ibu, dan ayah saya cuma jadi penonton.

Saya tidak suka didikte Ibu, dan kenapa ayah saya cuma menonton saja bukannya membela? Itu yang membuat saya menyimpan marah pada mereka. Itu yang membuat saya tidak bisa mendayu-dayu bilang I love you, seperti teman saya itu. Perasaan saya pada kedua orangtua saya adalah 'love and hate feeling.'

Terlalu banyak tekanan. Terlalu banyak tuntutan. Waktu kecil saya bahkan pernah kepingin mati saja. Kadang-kadang saya merasa menjadi korban. Ada yang salah dalam cara mereka mendidik saya.
Saya memang tumbuh menjadi orang baik-baik. Tetapi saya tidak pernah seratus persen bahagia. Setidaknya ketika saya mengingat masa kecil saya, warnanya selalu pias dan abu-abu.

Mohon jangan salah paham. Saya tetap mencintai orangtua saya. Di luar kekurangan mereka sebagai orangtua, menjadikan saya orang baik sebenarnya sudah cukup. Tulisan ini hanya refleksi bahwa apa yang orangtua anggap baik untuk kebahagiaan anaknya, dalam prosesnya kadang-kadang bisa saja tidak membuatnya bahagia dan membekas seumur hidupnya.

Kata Kahlil Gibran, 'Anakmu bukan anakmu.' Begitulah :)
Ah, saya jadi kangen mendiang Ibu. Happy Mother Day, teman-teman!


"Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life's longing for itself"
-Kahlil Gibran



Ini persis adegan saya waktu kecil. Ibu membaca, saya ikut-ikutan.
pict from here

Image and video hosting by TinyPic

23 comments:

Arman said...

setiap orang tua pasti punya caranya sendiri2 dalam mendidik anak. karena emang mendidik dan membesarkan anak itu gak gampang! mesti dicoba2, cari sela nya untuk nyari yang pas untuk masing2 anak.

makanya perlakuan orang tua ke tiap anak pun jatohnya berbeda. karena perlakuan yang sama bisa berefek beda di anak yang beda.

kadang ini disalahartikan oleh anak2 dengan menganggap ortu nya gak adil. padahal gak!

intinya, emang walaupun susah dimengerti, apalagi waktu kita masih anak2, tapi harus percaya bahwa ortu kita pasti akan selalu mengusahakan memberikan yang terbaik buat kita. :)

Annesya said...

dan nanti kita yang akan belajar jadi "orang tua yang baik bagi anak-anak kita". auuuuuuuu...
happy mother day :DD

adhelputriwulandari said...

seperti itu jga saya.. bhkn enggan sekali bilang i love you.. terutama bpk :)

1mmanuel'Z-Note5 said...

keras bukan berarti kasar... itu kata2 yangpertama kali kudengar dari seorang blogger. dan kayaknya itu cocok juga buat ibumu.... sabar yah..

happy mother's day...

mevi said...

mirip sama aku mbak.. ahh.. memang apa yang dipandang baik menurut orang, belum tentu benar-benar baik untuk diri sendiri. Kadang.. merasakan dampak dari ketidaknyamanan yang berlangsung cukup lama, butuh waktu yang hampir setara (atau bahkan lebih) dari perlakuan yang pernah kita terima.
Kapan cerita lagi? :D
Selamat hari ibu, buat bu Enno ;)

Hikmah said...

aku baca ini jadi inget ibu sama bapak yang ada di kampung. --a

sebenernya mereka melakukan itu hanya untuk menyayangi kita mbak, karena aku anak tunggal orangtuaku jadi overprotektif sama aku. rasanya dikekang oleh mereka. tapi sebenarnya mereka itu sayang sama aku dan takut kehilangan. (pandangan seorang anak tunggal terhadap orang tuanya)

O ya, Happy mother day mbak Enno :)

Gloria Putri said...

selamat hari ibu juga mbaa...
hehehehe

ngga mau ah ngajak km nyalon :p yg ada tar malah minta cpt2 pulang :p mending nyalon sama mamaku aja :p
hehehehehhe

Enno said...

@arman: hahaha... iya deh papi... iya emang ga gampang jd ortu. gw ngurusin ponakan aja dah ribet, apalagi anak sendiri :P

@annesya: ga hrs pake auuuu kali nes... wkwkwk

@adhel: mungkin bkn enggan, mgkn krn gak biasa aja? :)

@imanuel: itu bener bgt. thx :)

@mevi: ini juga bener... hehe :)

@hikmah: oh anak tunggal ya? wah pasti diprotek banget ya :D

@glo: oh blum tau critanya ya bhw aku ini ratu salon? di jkt tiap minggu aku ke salon lho... dr cuma keramas sampe spa... hahaha

Andy said...

setiap dari kita termasuk kita kelak menjadi orang tua,sudah punya cara mendidik anak dalam bentuk halus maupun sedikit kasar
tapi percayalah,bahwa semua itu demi kebaikan anak juga
karena orang tua yang paling tahu karakter kita,bukan pacar kita atau teman kita

Annesya said...

saya kan manusia serigala mbak. waktunya berubah! ciah! *power ranger kuning* ngooook...

selamat hari ibu, bagi ibu-ibu keren di dunia. dan ibu-ibu keren yang sudah berada di surga. ^^

Wuri SweetY said...

@ glo : wahhh glo, km mst liat agenda mbak enno wktu di jkt dulu dech, pnh jdwl nyalon.

@mbk enno :iyo ora mbak?

"km koq mirip masku yg tengah ya?merasa dirinya dibedain ma mas2ku yg lain. atau emng bgtu nasib anak tengah?"
Pengalaman kita jd anak Insya ALLAH akan membuat kita menjadi ortu yg lbh baik. Aminnn

Enno said...

@andy: iya, pasti utk kebaikan anaknya... meskipun kdg subyektif sih.. dan gak merhatiin apakah proses itu membahagiakan atau malah menyakiti anaknya :)

@annesya: oh saya power ranger pink! toss dlu atuuuh! hihihi podho kenthire :))

@wuri: haha masih inget aja ya sama curcol jadwal nyalonku biyen wkwkwk... aku tersiksa nih, ga ada salon keren disinih... btw aku pgn toss sama masmu yg tengah ah! senasib rupanya hehe

Rakyan Widhowati Tanjung said...

entah mengapa ada sesuatu yang hilang ketika membaca ini mbak :')

[L]ain said...

Kondisinya sama kaya saya. Sayang orangtua, tapi nggak bisa ngungkapin itu blak-blakan, seolah ada sesuatu yang membatasi.

Enno said...

@rakyan: waduh apa itu? *nyari2 di kolong meja* :)

@(L)ain: iya sih bbrp temen ternyata jg kondisinya spt itu, kirain cm aku aja :)

vita masli said...

Mama saya jg sering gedor2 pintu kalo sy kesiangan (versi beliau). Beliau jg nuntut sy lebih rapih, lebih sering di rumah tapi tetap bangga luar biasa dgn aktifitas2 saya.

Ibu2 kita itu mencintai kita dengan caranya sendiri..

:)

Enno said...

masalahnya vit... gak ada yg bangga dgn profesi aku...

malah mereka menghina :)

Mayya said...

Perasaan yang sama bangeeettt -_-

I love them but i hate them....
Sudah terlalu banyak makian dan pukulan mewarnai hidup...

Bersumpah ke diri sendiri, anak2ku kelak gak akan mengalami hal yang sama...mereka harus bahagia dengan cara mereka sendiri...

Semangat enno!!!

Enno said...

ternyata oh ternyata...
ada yg punya perasaan yg sama.

semangat juga ya may! :)

Variani's said...

Setiap orangtua akan memberikan tak kurang dari yang terbaik.. Terbaik bagi setiap anak, sesuai dengan cara yang mereka tau.. Karena mereka cinta, mereka hanya lupa mengajarkan kita cara mencintai mereka..

Just say it darling.. As easy as you wrote it..
Love you dad.. Hehehe..
#pengalaman setelah jadi emak2..

Enno said...

hehe bener juga van, mrk lupa ngajarin kita cara mencintai mrk malah ya...

hmmm... susah ngomongnya.. aku dibesarkan dgn metode orang Timur kuno soalnya, bkn org barat yg baru bangun tidur aja udah tereak2 i love you mom, i love you dad, i love you everybody! :D

lagian ada byk ganjalan psikologis di masa lalu. kpn2 kucritain personal deh ya bu psikolog...
*asiiik konsul gretong!*

wkwkwkwk

mevi said...

aku juga mau konsul gratis dong mbakkk.. :D *pelissssss*

Anonymous said...

enno, mungkin pertanyaan "kenapa" perlu kamu lontarkan kepada ayah. tentu dengan cara yang baik. kalo dengan bicara langsung terasa sulit, mungkin kamu bisa mencoba lewat tulisan.

aku sendiri pernah melewati masa kanak2 yang berat, tapi aku terselamatkan dengan hidup di luar kota sejak smp. karena jarak yang jauh, yang terasa adalah kangen.

kini setelah dewasa aku sadar apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan, cuman caranya saja yang mungkin kurang tepat (main fisik).

-luki-

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...