Tuesday, December 20, 2011

Cover Both Sides

Dulu sekali. Bertahun-tahun ke belakang, mendiang Ibu pernah membuat saya syok. Diawali ketika seorang kerabat memperlakukan saya tak semestinya, Ibu tahu dan murka. Ibu saya yang biasanya tak pernah mengumbar marah apalagi berkata kasar pada orang lain, hari itu mengamuk pada sang kerabat. Dengan kata-kata kasar, dengan emosi meluap-luap.

Saking terkejutnya saya bercerita pada seorang sahabat. Saya ingat kata-kata sahabat saya itu. "Orangtua akan melakukan apa saja untuk anaknya, No. Dan kalau anaknya disakiti, orangtua ikut merasa sakit, bahkan lebih sakit."
Sejak hari itu saya mencatat kata-katanya dalam benak saya. Menunggu hal itu terbukti kelak jika saya sudah menjadi orangtua.

Kemudian setelahnya, saya tidak pernah merasa terlalu heran jika ada orangtua yang murka demi membela anaknya. Ketika orang-orang ribut menghujat ayah Mega, 'suster ngesot' yang ditendang satpam itu, saya malah memakluminya. Oke, si ayah mungkin arogan, sombong dan lebay. Mentang-mentang punya uang dan bersikap uang bisa membeli segalanya. Tapi reaksinya itu adalah reaksi yang sama dengan ibu saya dulu. Membela anaknya. Apalagi anaknya jelas-jelas terluka.

Jujur ya, saya heran dengan kecenderungan orang-orang sekarang yang suka menyamakan pendapat beramai-ramai  tanpa dipikir dalam-dalam. Opini publik tidak lagi atas hasil pemikiran masing-masing pribadi, melainkan pengaruh mayoritas yang kemudian dijadikan trend. Akhirnya tidak ada lagi tempat buat orang yang berpikir dari dua sisi demi keadilan.

Saya bukannya membela Mega dan ayahnya. Mega salah dan konyol karena melakukan jebakan seperti itu di properti umum tanpa meminta izin pada pengelolanya. Ayah Mega juga terlalu berlebihan karena membawa-bawa investasi batubaranya untuk mengancam pemerintah, yang mana hal itu tidak ada korelasinya dengan kasus ini sama sekali. Tapi adakah yang berpendapat bahwa pak satpam itu juga salah?

Tidak ada? Yakin? Oke, kalau begitu mungkin cuma saya sendiri di dunia ini yang berpendapat bahwa satpam itu juga bersalah.

Saya sudah melihat rekaman kamera CCTV itu. Orang-orang satu suara semua, berpendapat bahwa itu reaksi refleks. Oh, saya tidak akan buru-buru bilang begitu karena saya tidak ada di tempat itu. Rekaman itu diambil dari belakang, bukan dari depan. Mungkin akan lebih jelas jika rekaman itu diambil dari depan. Lagipula topik refleks saja sudah simpang siur. Satpam mengaku itu reaksi refleks, Mega dan teman-temannya di lift mengaku satpam sengaja karena ada kemungkinan sudah melihat dari kamera pengawas di ruang keamanan.

Tapi mari kita tinggalkan perdebatan itu. Saya, yang juga sudah melihat rekaman CCTV itu (di Youtube seperti kebanyakan Anda sekalian tentunya), menganggap Pak Satpam sudah menyusahkan dirinya sendiri.

Katakanlah itu memang reaksi refleks, tapi begitu semua anak-anak muda itu menjelaskan padanya bahwa itu teman mereka, manusia, berjenis kelamin perempuan, dan jelas-jelas langsung pingsan begitu kena tendang, kenapa Pak Satpam malah pergi begitu saja? Padahal anak-anak muda itu tampak sekali berusaha menjelaskan duduk persoalannya dan minta bantuan karena temannya pingsan. Pak Satpam kelihatan menggelengkan kepala beberapa kali, mengangkat tangan tanda menolak atau tidak mau ikut campur, dan pergi ke dalam lift, kemudian tidak pernah muncul lagi ke muka bumi, kecuali ketika dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan.

Pak Satpam tidak akan diperkarakan ayah Mega kalau saja begitu tahu yang ditendangnya itu manusia (anak perempuan, sampai pingsan pula) segera dihampirinya. Minta maaf bisa belakangan, tapi setidaknya ia bisa membantu anak-anak itu membawa suster ngesot yang pingsan itu ke kamar apartemennya. Bukankah itu lebih menunjukkan sikap arif? Ia memang harus, wajib memarahi anak-anak bodoh itu karena permainannya tidak lucu dan berbahaya bagi orang lain, tapi jika ia tidak sengaja menendang seorang gadis remaja sampai pingsan, masa sih nuraninya tidak tergerak sedikitpun untuk menyesal dan buru-buru menolong?

Ia berkilah buru-buru pergi untuk melapor pada manajemen gedung. Baiklah, Pak. Melaporlah. Tapi setidaknya Anda bisa kembali lagi untuk menengok anak perempuan yang Anda tendang, kan? Kenapa malah sembunyi? Dan kenapa juga Anda mau disembunyikan oleh pihak perusahaan Anda? Jika Bapak sedikit saja bersikap ksatria saat hari naas itu, masalahnya tidak akan serumit ini.

Saya percaya kok, sangat percaya, seandainya saat itu Pak Satpam meminta maaf pada Mega dan orangtuanya tak berapa lama setelah kejadian, ia tidak akan diperkarakan. Dan seandainya pihak perusahaan atau manajemen gedung atau apalah itu yang tersangkut masalah ini juga tidak memperkeruh suasana dengan ngotot dan menyembunyikan Pak Satpam, orangtua Mega tidak akan murka dan melapor ke polisi. Toh bagaimana pun anaknya dan teman-temannya memang salah, kan?

Apapun persoalan seharusnya dilihat dari dua sisi supaya adil. Bukannya hanya dari satu sisi, hanya karena terlihat membela kebenaran dan mengandung unsur heroik, tapi sesungguhnya mengabaikan rasa keadilan. Itu fanatisme buta namanya.

Sungguh, saya kasihan pada Pak Satpam. Bagaimana pun hati saya berpihak padanya dan berharap kasus ini diselesaikan dengan perdamaian bukan peradilan. Ia cuma orang kecil yang mencari nafkah untuk keluarganya dan malam itu ia berusaha menjalankan tugasnya dengan baik, meskipun sedikit salah langkah.

Tulisan ini cuma pendapat pribadi saya dengan segala keterbatasan saya (nggak bisa baca semua berita karena pekerjaan akhir tahun menumpuk hehe). Saya cuma kepingin mengajak teman-teman bersikap adil. Tidak ikut main hujat hanya karena orang lain menghujat dan tidak asal main dukung hanya karena orang lain mendukung.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cerdas! Iya kan? Iya kan? Hehehe.
Peace!

"Justice cannot be for one side alone, but must be for both."
-Eleanor Roosevelt


pict from here

Image and video hosting by TinyPic

16 comments:

Lita said...

kasus yang konyol sebenarnya. Naas di kedua sisi, satu kena tendang, satu kena sidik, hanya karena mau nakut2in orang, dan mau menghalau hantu.
Wkwkwkw...

Enno said...

hehe iya bener lit, kasus konyol yg harusnya diselesaikan secara damai aja :P

Gloria Putri said...

aq baca ini berasa kayak baca tulisannya kak maya...
berat n berbobot ga galau juga...hahhahahahaa

bedewe, aq uda lama sering ktinggalan info, kasus mega kasus apaan sihh? #nasib_ga_pernah_nonton_TV
#ngulik2youtube

Sassy Enno said...

aku selalu nulis kyk gini utk kerjaan kantor. makananku sehari2, nyaris 20 halaman per edisi, belum lagi editing yg lain2. bkn cuma sekedar selingan di blog :)

sekarang kutulis yg beginian di blog gara2 ada yg ngecap aku cuma bisa galau dan curcol :|

ini sih gak berat, glo...
tulisanku buat kerjaan lebih berat krn biasanya aku nulis tentang hukum, politik & ekonomi.

hayo sana baca berita dirapel biar gak bingung! hehe...

Brigadirkopi said...

satpamnya apes :) si bocah ABGnya apes bin ceroboh :) saya lebih kasian si satpam T_T

Hikmah said...

wah, blognya mbak enno baru tampilannya :D
suka banget, apalagi backsong-nya

Farrel Fortunatus said...

analisis yang sangat berimbang. harusnya jurnalis tuh pemikirannya kaya kamu ya.

Jang said...

Kalau saya sih, tetep, dukung pak satpam. asalkan... pak satpam bener2 sudah minta maaf dan menyesal atas hasil dari spontanitasnya, dan si suster ngesot juga minta maaf dan menyesal melakukan skenario tersebut dengan persiapan yang belum matang.

hidup pak satpam! :D

FeraSuliyanto said...

aku malah baru tau duduk persoalan "suster ngesot" yg sempet booming itu ternyata begini. hehehe. Jadi inget mata kuliah "Dasar-dasar jurnalisme" waktu semester awal. Cover both sides --> biasanya gak berlaku bagi media yang mengutamakan rating. :D

Arman said...

ternyata masalah suster ngesot ini masih berlanjut ya no...
gua gak ngikutin lagi. hehehe.

jelas satpamnya salah. tapi jelas si mega juga salah.
jadi karena sama2 salah ya udah lah harusnya ya... ngapain diperpanjang lagi... :P

Enno said...

@brigadir kopi: hehe iya emang ini adalah apes story.. aku jg lbh kasian ke satpamnya klo udh kyk gini. tp analisa berimbang tetap harus kan? :)

@hikmah: idih malah komen soal layout blog wkwkwk thx ah :)

@farrel: hehe aku kn memang jurnalis, dan byk kok temen2 jurnalis yg masih berusaha berimbang klo nulis berita :)

@jang: mudah2an diselesaikan secara kekeluargaan ya. kasian kalo satpamnya sampe diadili...

@fera: media televisi mksdnya? haha iya, emang kok. media cetak jg kdg ada yg nakal gitu. tp klo media cetak biasanya lbh hati2 krn lbh mudah utk disomasi/dituntut :)

@arman: iya setuju... mbokya pd salaman trus damai. bokapnya mega lebay, perusahaan sekuritas satpam itu jg lebay...capedeee...

Annesya said...

eh, aku juga sebel sama tuh satpam yang ga segera minta maaf. tahu dia menjalankan tugas. tapi apa salahnya sih minta maaf nendang orang sampe pingsan gitu, cewek pula, kalau anak perempuannya sediri digituin orang gimana??? loh kok gue malah marah2??? ahahahaha *kabur*

ammie said...

setuju bgt mba eno... :) coba smua org pemikirannya ky mba eno..damai deh dunia,,,heheheh

Enno said...

@annesya: nes, nyebut nes... ngamuk2 dimari hahaha :D

@ammie: ah ... masa gara2 nyaranin satpam minta maap, dunia jd damai hihi.. :P

Mayya said...

wah gitu ya ceritanya *manggut-manggut
malah tau dari Enno nih ceritanya hahaha... *akibathidupdijamanbatu

si mega salah, krn gak minta poconggg nemanin tuh

si satpam juga salah, soalnya gk periksa KTP dulu sebelum ditendang hehehe

becandaaaa.....

bener juga ya, seharusnya segala masalah itu dilihat dari dua sisi...gimana kita bisa menempatkan diri pada sudut pandang orang lain...thanks ya tulisannya loh...mengingatkan pada hal2 prinsipil yang sempat terlupakan... ^_^

Enno said...

hihihi... iya ya mestinya tugas satpam itu lbh dulu tanya KTP... begitu kan ya juklaknya? :P

pokoknya mudah2an pak satpam yg ini gak diperadilankan. kasian...

:P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...