Sunday, July 17, 2011

[Kisah Abe] Menguntit Reza

Milikku sedikit dan pengetahuanku sedikit
Tapi apa yang ada pada diriku
Apa kesanggupan dan milikku,
Kuberikan pada kau
Banyak memang tidak
Ya, sungguhpun begitu
Aku jiwa yang hidup, hati dan kemauan
Apa ada yang dapat kau pakai

(Love Letters, Multatuli, 1861)



Setelah Kak Alex lulus, saya tak punya lagi idola. Kalau boleh jujur, mungkin perasaan saya pada kak Alex hanya sekedar kekaguman belaka. Saya tidak jatuh cinta sampai tidak bisa tidur, bahkan enggan menulis surat cinta seperti yang dilakukan pengagum-pengagum Kak Alex lainnya. Saya juga tidak merasa kehilangan dan menangis sesenggukan di acara perpisahan sekolah karena harus berpisah dengannya.

Tetapi suatu hari saya melihat cowok itu, namanya Reza. Ia kelas tiga, dan saya kelas dua. Pertemuan yang tidak disengaja, ketika saya tak sengaja menyenggolnya di perpustakaan, lalu melirik name tag-nya sehingga tahu namanya. Ia tipe yang bertolak belakang dengan Alex yang suka olahraga. Reza pendiam dan sering ‘bertapa’ di perpustakaan. Saya baru menyadari keberadaannya setelah tak ada lagi kak Alex.

Saya suka Reza. Bukan kagum seperti pada Kak Alex. Saya jatuh cinta. Menjadi lebih sering nongkrong di perpustakaan dan pulang lebih dulu dari teman-teman yang biasanya pulang bareng saya, termasuk Abe. Karena saya ingin pulang bareng Reza. Bukan bareng dalam arti sebenarnya. Tapi berjalan di belakangnya sambil memperhatikan ia mengobrol dengan teman-temannya. Itu sudah membuat saya puas dan senang.

Saya jadi punya kehidupan rahasia, dan teman-teman dekat saya mulai curiga. Terutama Abe. Ia sering muncul mendadak di depan saya, di ruang baca perpustakaan. Mencabut sebuah buku dari rak dengan seenaknya, lalu duduk di depan saya pura-pura membaca. Kadang-kadang kakinya menginjak kaki saya di kolong meja. Sengaja ingin membuat saya jengkel.
“Caper banget sih!” Gerutu saya. “Diem dong, gue lagi baca!”
“Ke kantin yuk?”
“Ogah, gue lagi males.”

Jadi Abe akan bertahan di depan saya sambil jam istirahat berakhir dan bel pelajaran berikutnya berbunyi. Ia akan mengikuti saya sampai ke kelas saya, baru pergi ke kelasnya setelah menjahili saya dulu tentu saja. Tengil betul.

Adegan saya berlari-lari sepanjang koridor mengejar Abe menjadi langka. Saya menyadarinya, Abe juga. Usahanya menjadi lebih keras untuk membuat saya jengkel. Tapi saya lebih suka ngeloyor ke perpustakaan dan mengintip Reza yang sedang membaca dari celah-celah buku di rak-rak yang tinggi itu.

"Lu jadi nggak seru," keluh Abe suatu hari. Di suatu momen yang juga langka, yaitu makan bakso bersama di kantin.
"Gue biasa aja deh," sahut saya sambil mendesis kepedasan. "Eh, bakso gue kok jadi pedes gini? Elu ya yang iseng nambahin sambelnya?"
Abe nyengir.
"Elu ya!" Saya menggebuk bahunya. "Kalo gue jadi sakit perut, gue hajar lu!"
"Mendingan lu hajar deh daripada lu cuekin." Ada nada sebal dalam suaranya. "Kenapa sih suka pulang sendiri? Pake banyak alasan lagi! Anak-anak pada nanyain tuh. Lu jadi nggak pernah ikutan seru-seruan pas pulang sekolah. Kemarin kita cabut ke gramed nyari buku dan foto-foto di Blok M, tau!"
"Gue ada perlu."
"Ada perlu tiap hari? Blah!" Abe manyun. Mimiknya lucu. Kalau diingat-ingat lagi, saat merajuk seperti itu dia kelihatan manis.

Saya merasa berhasil menjalani kehidupan rahasia itu. Ah berapa lama ya? Sebulan? Dua bulan? Sampai akhirnya suatu hari saya melihat Reza mulai sering pulang sekolah dengan seorang cewek kelas tiga bertubuh tinggi berambut panjang.

Mereka pulang bareng lagi? Saya mengomel dalam hati, menatap mereka dari jarak sepuluh langkah di belakang. Mereka tampak asyik mengobrol dan tertawa-tawa sementara saya cuma memperhatikan dengan merana.

Oh no, mereka ketawa-ketawa! Sebel! Harusnya gue tuh yang ngobrol sama Reza, omel saya. Siapa sih cewek itu? Kayaknya pernah lihat di kelas tiga. Huh, sok cakep!

Saya mencari tahu dan akhirnya tahu cewek itu teman sekelasnya. Di kantin saya pura-pura menyenggolnya demi bisa melihat name tag-nya. Namanya Christine. Saya jadi mulai sering memperhatikannya juga. Benar-benar berubah menjadi stalker.

Dan Abe masih setia menjadi stalker saya. Juga mulai bawel bertanya kenapa saya jadi sering lalu lalang di wilayah kelas tiga.

"Ke kantinnya lewat sana aja!" Ia menarik tangan saya ke jalan potong yang biasa, di samping kantor kepala sekolah.
"Lewat sini aja!" Saya menolak.
"Kenapa sih jadi suka lewat sini? Lu lagi naksir anak kelas tiga ya?"
Pura-pura tidak mendengar adalah trik terbaik. Karena Abe sangat mengenal saya. Kalau saya membantah justru akan membuat ia tahu yang sebenarnya.

Lalu suatu hari, terjadilah peristiwa itu. Ketika suatu hari, pulang sekolah, di siang bolong yang panasnya membuat perih kulit, hati saya juga perih. Reza menggandeng cewek itu di depan saya. Sepuluh langkah di belakangnya, saya ingin sekali lari kesana dan merenggut lepas tautan tangan mereka. Hahaha. Weird, eh?

Mendadak kesadaran itu menghantam saya telak. Mereka sudah jadian! Oh noooo!!!! Saya kecewa, sedih, kepingin menangis. Lebih baik saya pulang lewat jalan tembus dekat danau itu daripada harus melihat mereka sepanjang jalan menuju jalan raya, lalu melihat mereka saling melambaikan tangan dengan mesra ketika berpisah angkot. Tidak, tidak, tidak. I'm out of here!

Secepat kilat saya memutar badan untuk kembali ke arah sekolah dan mengambil jalan tembus. Brukkk!!! Wajah saya menghantam sesuatu dengan keras. Tubuh saya terdorong ke belakang, nyaris jatuh kalau saja sebuah lengan tidak segera terulur mencengkeram lengan saya.

"Hati-hati makanya!"

Saya mendongak dan melihat wajah yang saya kenal itu dengan perasaan campur aduk. Abe! Pahlawan saya. Saya menabrak dia yang sepertinya sejak tadi membuntuti saya. Tuhan selalu mengirim dia pada saya di saat saya sedang 'menderita.'

Saya mulai terisak-isak, di tepi jalan itu, dengan tangan masih dalam cengkeramannya. Ia menunduk menatap saya. Dan tahulah saya bahwa ia sudah tahu.

Cengkeramannya melonggar, berubah menjadi genggaman yang lembut. Tangan saya diremasnya pelan. "Udah dong, jangan nangis. Ntar orang nyangkain gue yang jahatin elu. Atau lebih gawat lagi kalo kita dikira lagi latihan sinetron." Ia mencoba melucu.

It doesn't work. Saya tetap saja terisak-isak.

"Si Reza ya?" Itu jelas-jelas pertanyaan retoris. "Kenapa nggak cerita sama gue. Kalau gue tau kan pasti gue bantuin biar lu kenal sama dia."

Saya menggeleng. Saya tidak sanggup bilang bahwa saya lebih yakin ia akan meledek saya habis-habisan daripada membantu. Tapi itu memang pikiran buruk. Mungkin saja benar Abe akan menolong saya.

"Udah, udah." Ia menepuk-nepuk pelan bahu saya. Mengulurkan tangannya ke saku rok saya, dan menarik saputangan yang selalu terselip di sana. "Nih, hapus muka lu. Malu. Jadi jelek."

Saya mengambil saputangan itu, mengeringkan muka. Membuang ingus keras-keras.

"Jorok!" Abe tertawa.

Ia, yang badannya semakin tinggi menjulang seperti tiang listrik setahun belakangan itu, melingkarkan lengannya di bahu kurus saya. Merangkul saya, mengajak saya berjalan lagi menuju jalan tembus kami di samping danau.

"Be?"
"Yup?"
"Lu ngikutin gue udah berapa hari?"
"Dari sebulan yang lalu."
"Hah?"
"Sebenernya udah lama gue mau ngaku."
"Rese lu!"
"Elu yang rese kali. Jadi stalker nggak ngajak-ngajak. Kan asik tuh, kayak di film-film. Nah, tuh! Kenapa jadi manyun lagi sih. Udahlaaah... lupain aja si Reza itu. Lagian ya dia nggak cocok sama elu. Elu kebagusan buat dia. Lu tau nggak, si Reza itu keliatannya aja alim. Gue pernah liat dia ngerokok di danau sama temen-temennya. Sok kutu buku lagi! Jangan-jangan stensilan porno dia juga doyan. Trus ya, kata anak-anak, si Reza itu...." Bla, bla, bla.

Siang memang panas. Menyengat kulit. Menyilaukan mata. Tapi hati saya tenang dan hangat oleh keberadaan sahabat yang berjalan merangkul saya sambil mengoceh itu.

Hey, Abraham. If you read this, I wanna say thank you. Again :)



Saya dan Abe? Bukaaaan....! Pict from here


Image and video hosting by TinyPic

25 comments:

Ajeng Sari Rahayu said...

Maaf OOT: sist tanya dong, apa giveaway dari sheilamu udah nyampe? makasih sebelumnya ^^

Shally said...

aaaa.... ada cerita bang Abe lagi heheheeee....
emang mba klo dapet rangkulan dari sahabat di waktu yang tepat bikin jadi tenang. eh tapi kita hampir sama mba, klo mba enno ketemu nya di perpus aku nya di angkot hehehee, klo mba enno jadi rajin ke perpus, klo aku makin rajin naik angkot biar telat bareng hahahaaa :)

honeylizious said...

abeee... So swittt

Nyla Baker said...

owhhh, so sweet sekali :D

Enno said...

@ajeng: udah jeng, udah lama :)

@shally: wiih cinta bersemi di dalam angkot ya? bikin sinetron aja shal :D

@honey: emaaaaang! xixixi

@nyla: meleleh ya? :P

chici said...

Yipiiiii kisah tentang Abe lagi (>o<)/
sukaaa.... sukaaaaa.... sukaaa....

gloriaputri said...

horeee....ABE lagiiii
hahahhahahaha

ternyata mba enno pernah jd stalker juga tah?

Shally said...

sebenernya bukan cinta bersemi di angkot, tapi cinta bersemi dikala ujian kebetulan waktu itu pas ujian jadi satu kelas hehehee... terus pas sadar ternyata sering satu angkot hakakkkkak...
hehehheee jadi curhat ditempat orang :p aku gak mau dijadiin sinetron ah ntar terkenal malah jadi sombong hakakkkakk :D

Wuri SweetY said...

Coba hari gini si Abraham masih deket ma kamu, makin berwarna ya mbak duniamu. Siap jadi kulkas saat panas ati

Apisindica said...

mbak enooooooo, ajarin nulis atuh lah!!!!!

kriww said...

asiiikkk ada kisah abe lagi

sHaa said...

blog kk kereeenn :D

Enno said...

@chici: ga usah jingkrak2 tar keserimpet :P

@glo: hahaha biasalaah namanya juga masih ababil wkwkwkwk

@shally: oh gitu... hihihi diongkosin ga? :P

@wuri: iya ya ... sedap deh dunia kayaknya wkwkwkwk

@apis: kunaon, aya naon? halah cuma numpang tereak doang! itu tulisan kamuh udah bagus, bapaaaaak! :))

@kriww: hahaha iya, byk request neh :P

@shaa: hai deeek! jd malu dipuji sm desainer web wkwkwkwk.... tengkyu dah main2 yaaa.... :P

danan tri yulianto said...

oh stalker ..oh stalker...

Annesya said...

aw... mbak enno... banyak bakat... stalker salah satunya... heeehe...

Arman said...

wahhh bener2 kisah2 abe nya banyak ya no.. dan selalu berasa 'so sweet'... kok lu dulu gak ngeh sih no. duh gregetan gua rasanya. huahahaha.

kalo si abe baca ini, gimana ya rasanya... :D

arik said...

Haiya, cerita Sis Eno bikin gue terbawa ke 20 tahun yang lalu. Menikmati masa indahnya jadi remaja.

Good writing.

Itik Bali said...

Hi mbak Enno
aku sering banget baca blognya mbak Enno (terutama setelah peristiwa pembajakan yang banyak dibicarakeun di kalangan blogger ituh)
tapi ga pernah kasih komen
sekarang kasih komen ah..
soalnya cerita abinya bikin meleleh
Salut buat tulisan mbak enno..

Enno said...

@danan: oh gaptek ... oh gaptek :P

@annesya: hihi iya rupanya wkwkwk

@arman: iya man, bego ya gue? sesal belakangan tiada berguna ya xixixixi

@arik: oh mas arik pernah ababil juga ya? hahaha udah penuh passion blum waktu itu? :P

@itik bali: hai neng itik! aku juga suka main ke tmpmu tp silent hihi... makasih ya akhirnya komen... aku jd pengen komen jg ah di blog kamu :D

arik said...

Waduh ... jujur gue paling malas seandainya disuruh kembali ke jaman-2 gue jadi abg dulu. Ababil banget.

Sempat nulis-2 kesedihan, kemarahan dan cinta terlarang di buku harian. Tapi kemudian gue bakar karena takut 'ketahuan' kalo gue itu gay.

Juga passionnya belum muncul sama sekali. Masih takut-2 pengen gitu. Hehehe ... Tapi udah ada bakat liar juga, sih.

Puteri Daulay. said...

aku baru kai ini baca cerita soal kak abe ^^ tapi dia baiik banget,dia sahabat kak enno ya? uu so sweet :# kepengn punya sahabat kayak gitu. sahabat cowokku mah jauh,dia keluat kota buat sekolah,hehe. eh kak abe itu cewek atau cowok sih,hehe

Lenny said...

woow...so sweet ya :) emg nyenengin klo punya sahabat cowo:)

Enno said...

@arik: bakat liar? ooo pantes wkwkwkwk

@puteri: iya dia baik bgt ya :D dia cowok put hehe...

@lenny: bener, seru! :D

maya said...

lha.. skr item putih jg no. samaan kite.
btw, bukunya udah jd belon :D

Enno said...

hehehe ah maya... jgn ingetin aku soal itu... msh tersendat2 nih...

*ada yg jualan mood ga?*

:))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...