Sunday, March 27, 2011

A Story About The Rookies

Suaranya yang lantang berlogat sunda masih saya hapal sampai sekarang. Bahkan ketika malam tadi, setengah mengantuk, saya menerima telepon itu. Suaranya langsung menarik saya dari alam mimpi.
"Anggi!!! Ini elu, Nggi?"
"Enno! Hehehe... Apa kabar lu?"

Dia mantan kolega saya. Dulu sekali, ketika kami masih lebih muda. Dua orang reporter perempuan yang masih baru. We were the rookies.

"Masih ngajar, Nggi?"
"Masih dong. Lu ngajar juga ya sekarang?"
"Ah, frilens. Nggak kayak lu yang anggota PGRI hahaha..."

Ah, salah. Anggi bukan rookie, tidak seyunior saya. Dia bahkan sudah jadi jurnalis sejak masih kuliah di semester awal. Dulu, ia pernah cerita bagaimana dirinya terjebak dalam kerusuhan Peristiwa Semanggi. Dia sembunyi di got penuh comberan saat peluru-peluru tajam aparat berdesing di udara.
"Ada mahasiswa jatuh depan tempat gue sembunyi, kena tembak. Gue panik banget waktu itu," katanya dulu.

Anggi berhenti jadi jurnalis bertahun-tahun sebelum saya juga berhenti turun ke lapangan dan menjadi editor. Ia memutuskan menjadi guru sesuai dengan ijasahnya sebagai sarjana kependidikan. Ia adalah tulang punggung keluarga dan harus menghidupi keempat adiknya. Katanya, menjadi guru membuatnya punya banyak waktu membimbing adik-adiknya.

Tapi sebelum itu, kami punya banyak pengalaman bersama. Kami sering ditugaskan bersama dan ia adalah partner yang penuh dedikasi. Kami berbagi tugas dan selalu menghasilkan berita-berita yang memuaskan pemimpin redaksi.

Seperti saya, Anggi kuat mental dan punya selera humor. Kami pernah ditugaskan meliput sebuah kasus mutilasi. Ada tumpukan daging manusia cincang di bak cuci kamar mayat RSCM itu, yang diatasnya ditaruh penggalan kepala korban yang masih utuh. Bukannya muntah-muntah seperti beberapa reporter perempuan yang meliput bareng kami, Anggi memotretnya dari dekat dan saya malah kepingin tahu berapa jumlah cincangan daging itu. Sakit jiwa? Berjiwa sadis? Tentu tidak. Kami cuma ingin membuat berita seakurat mungkin.

Waktu peristiwa pemboman Kedubes Australia, saya dan fotografer datang saat TKP masih 'segar.' Cipratan darah dan serpihan daging manusia menempel di trotoar dan semak-semak pinggir jalan. Anggi datang menyusul kemudian, dan ia dengan kalemnya berkomentar, "Busyet! Kita liputan daging cincang lagi nih?"

"No, gue masih tetep satu kosong dari elu ya," katanya sambil terkekeh.
"Masih dong." Saya juga terkekeh.

Itu tentang suatu hari, ketika kantor redaksi kami diancam akan diserbu sebuah organisasi massa gara-gara mereka tidak senang dengan suatu berita yang kami muat di majalah. Pada hari H itu, kantor mendadak sepi. Hanya saya dan beberapa orang dari manajemen yang masuk kerja. Pemimpin redaksi kami pun tidak muncul.
Menjelang sore, tak ada satu serbuan pun yang datang (seperti yang sudah saya duga sebelumnya), sementara saya dengan tenang mengetik di ruang redaksi. Dan muncullah Pemimpin Perusahaan kami, Bang Rudolf, yang baru datang dari luar kota. Ia gusar menemukan kantor nyaris kosong, dan hanya saya jurnalis yang ada.

Besoknya di rapat redaksi, Bang Rudolf marah besar. "Wartawan macam apa kalian begitu pengecutnya!" Katanya dengan logat batak yang kental. "Coba lihat si Enno! Dia datang dan bekerja seperti biasa. Dia perempuan pula! Apa kalian tak malu!"

Gara-gara itu, predikat saya sebagai 'rookie' hilang. Saya mulai diperhitungkan di antara reporter yang lain. Anggi mengaku salut dan menghitung satu-kosong. Hahaha...

"No, gue kangen sama jaman dulu. Enak ya dulu... Nggak mikirin apa-apa selain nyari berita, wawancara sana-sini, ketemu orang-orang pintar dan pejabat negara. Kita jadi ketularan ilmu mereka."
"Inget nggak waktu kita wawancara Pak Yusril Ihza Mahendra habis dia ngasih kuliah umum di UI?"
"Iyaaa! Hahahaha..." Anggi tergelak.

Waktu itu, Pak Yusril yang biasanya 'cool' tumben bergurau. Ia menatap kami berdua dan tersenyum. "Kalian berdua ini beneran wartawan? Kalian ini manis, nggak takut jadi hitam setiap hari di lapangan?"
Tiba di kantor saya langsung bikin pengumuman di depan rekan-rekan cowok. "Woooy! Gue dibilang manis sama Pak Yusril!!!"
Ge-er abis, soalnya saya memang pengagum Pak Yusril waktu itu! Hahahaha...

Malam yang semakin larut menghentikan reuni kami di udara.
"No, diatas semua hal, yang paling gue kangenin itu elu."
"Sama Nggi, gue juga kangen elu."
"Hey, rookie! Keep in touch ya."

Saya bisa membayangkan senyum Anggi yang lebar sampai ke pipi saat ia mengucapkan itu. Di matanya, saya tetap rookie, karena ia merasa lebih dulu terjun jadi jurnalis.

I do miss you, Anggi. I miss all the things we've done in the past :)


foto dari sini

Image and video hosting by TinyPic

14 comments:

Shally said...

emang seru ya mba punya partner yang berubah jadi sahabat sampe kayak sodara sendiri. heheheee

Ra-kun lari-laRIAN said...

wah, saya kok jadi kangen teman SMA kalo baca cerita ini...
anyway, have a nice day ^^

Ceritaeka said...

Kenangan itu selalu menyenangkan buat diinget ya No :)
Plus bikin jiwa kita seger dan kaya warna.

Henny said...

enak tuh kalo ada teman seprofesi yang "klop" sama kita. (biasanya yang begitu kan jarang ketemunya mbak)

aku juga suka (tahi lalatnya) pak Yusril. huehehehe

Ina said...

so sweet

gloriaputri said...

mmmm....q sempet pny mimpi pengen jd jurnalis+reporter pokoknya kerja di dunia media...sounds good....huks2...bulan lalu dpt panggilan kerja di salah satu media terkenal di Jakarta :( tp apa daya....ibu melarang mninggalkan pekerjaan yg sekarang..... "tidak menjamin" begitu katanya...pdhl anak2 dan dunia tulis menulis sptnya mengasikkan ya...seneng deh Enno bs share kaya gn2 :) keep on writing ya No:) anyway thank you 4 comment on my lattest post

eka lianawati said...

temen sejati emang bikin bangga (*lho??? koq jadi tagline iklan)
salah dinkk....
teman sejati emang selalu nganggenin, bahkan bisa lebih deket dari sodara....

Arman said...

jangan lupa tetep keep in touch kalo gitu... :D

Enno said...

@shally: seru banget :)

@ra-kun: kok kamu lari2an sih? hahaha... klo kangen ya reuni dong :P

@eka: iyaaaa.... tapi elunya kapan kesini? :P

@henny: hihihi... suka pak yusril juga dia! :))

@ina: hey thx yaaa :D

@gloria: emang asik bgt... dan menjanjikan jg sih sebenernya asal kita ga setengah2 hehe... ibuku jg sempet ga suka aku jd wartawan :) ur welcome glo, be happy ya ;)

Enno said...

@arman: hehehe... iyalaaah :D

Meida said...

duh, baca tulisan Mba Enno yang ini jadi bikin keinginan saya untuk jadi reporter mencuat lagi... hiks!

keren Mba Enno...

Enno said...

@meida: haha... jgn cuma ingin dong makanya... emang seru kok di lapangan itu ;)

kristiyana shinta said...

kalo udah cerita2 sama temen lama gitu waktu suka berasa sempit yaa,,
kangen seru2 bareng,,,,

Enno said...

iya... bernostalgia itu ternyata seru! apalagi crita2 jaman masih muda *belakangan ini berasa udah nenek2* hahahaha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...