Sunday, December 5, 2010

Aku, Ari & Maut

Orang ini adalah orang yang belakangan menghabiskan waktu pulang kantornya di posko pengungsian Merapi. Menjadi sukarelawan yang suatu hari harus berangkat ke zona rawan 10 kilometer untuk menjemput paksa penduduk yang belum juga mengungsi.

Ia berangkat dalam iring-iringan tiga jip besar, menapaki rute menanjak, lurus ke arah Merapi yang sedang marah. Di sana mereka sibuk membujuk para penduduk keras kepala itu agar mau meninggalkan kampung sampai keadaan aman. Mereka sedang membantu orang-orang itu masuk ke mobil ketika terdengar suara gemuruh dari atas. Langit tiba-tiba menjadi segelap senja, dan sekumpulan awan tebal pekat mendekat dari kejauhan.

"Itu wedhus gembel!" Teriak seseorang. Keadaan mulai panik. Semuanya berebutan masuk ke mobil, yang langsung tancap gas menuruni lereng.

Seumur hidupnya, meskipun ia orang Jogja asli, baru kali ini ia melihat awan panas Merapi dari jarak begitu nyata. Awan itu mengejar di belakang mereka. Bergulung-gulung dengan kecepatan 200 kilometer per jam, seolah kepala domba raksasa rakus yang bernapsu melahap semua yang dilewatinya. Dari kaca spion mobil yang dipacunya, ia melihat pepohonan yang langsung mengering dan tumbang disapu debu vulkanik yang panasnya sampai 600 derajat Celcius itu.

Tuhan, selamatkanlah kami. Tuhan, selamatkanlah kami. Ia belum mau mati. Belum. Tapi rupanya seperti inilah rasanya dikejar maut.

Ban cadangan yang menempel di pintu jipnya meletus karena panas. Kaca
jendela jip retak. Para penumpangnya, terutama wanita, menjerit-jerit. Jipnya dan dua jip yang lain melaju gila-gilaan, menerobos kebun-kebun penduduk. Berusaha berlindung di bawah rimbun pepohonan. Lalu melalui radio, ia mendapat instruksi dari posko untuk mengarah berlawanan dengan arah sungai. Karena awan panas Merapi biasanya mengalir melalui zona lembah sungai, mengikuti arah aliran lava di dasar lembah. Maka ketika tiba-tiba sungai terlihat di depannya, ia banting setir melawan arah.

Tapi masih saja sekumpulan awan panas yang disebut wedhus gembel itu membelot ke arah laju kendaraan mereka, meski akhirnya pelan-pelan menyebar, melenyap ketika mereka sudah tiba di radius aman.

Hari itu orang ini baru saja berkenalan dengan maut. "Halo, saya maut. Apa kabar? Mau ikut?"

Orang ini adalah orang yang begitu ingin segera menolong mengevakuasi penduduk yang masih tertinggal di zona rawan, sehingga ia nekat menyopiri truk tentara yang sejak tadi tidak kunjung melaju karena sopirnya, seorang tentara, pergi dulu entah kemana.

Ia baru menyadari bahwa truk itu ternyata memakai sistem stir kiri, sehingga ia yang tak terbiasa menjadi gamang dan harus menabrak tiga buah motor dulu sebelum akhirnya berhasil menjalankan truk itu keluar dari parkiran posko.

Orang ini ikut menjadi saksi kematian tragis seorang laki-laki tua di pengungsian, yang bunuh diri dengan melompat ke sungai gara-gara ternak sapinya mati semua terpanggang awan panas.

Orang ini adalah orang yang sama, yang malam itu menceritakan semuanya kepada saya. Membuat saya ikut tercekam membayangkan awan panas memburunya, membuat saya sedih oleh kisah bunuh diri itu dan terbahak-bahak membayangkan truk tentara yang menabrak tiga motor di parkiran posko.

Orang ini, yang menelpon saya di sela-sela kesibukannya di posko, menyadarkan saya akan sesuatu yang lebih penting dari dukacita saya ketika ibu saya direnggut sang maut.

"Masih ada ayahmu, No. Kamu belum kehilangan surgamu. Belum kehilangan ladang pahalamu. Urus beliau dengan baik, senangkan hatinya. Bahagiakan dengan ikhlas mumpung beliau masih hidup."

Orang ini, teman saya Ari. Teman yang selalu bersedia dengan senang hati saya suruh menelepon. Yang selalu bilang, tell me if you need a friend to talk to, and I will call you. Dan ia tidak pernah sekalipun mengingkarinya.

____________________

Catatan:

Merapi merupakan salah satu gunung yang paling aktif dan berbahaya di dunia. Memiliki kubah lava dan selalu meletus dalam jangka satu sampai lima tahun. Merapi juga menghasilkan awan panas lebih banyak dari gunung mana pun di dunia.

Gerakan awan panas (
pyroclastic density flow) Merapi mencapai 7 - 13 kilometer dari puncak. Secara umum terdiri dari zat padat yang berbentuk debu vulkanik dengan ukuran mulai ash (lebih kecil dari 2 mm) sampai lapili (2-64 mm). Dalam fase gas, awan ini mengandung karbon dioksida, sulfur, chlor, dan uap air yang bercampur dengan udara.



sumber foto: vivanews



Image and video hosting by TinyPic

10 comments:

Desfirawita said...

*salut*
dibalik cerita selalu terselip berita. keren banget.
dan ceritanya membuatku terharu.
beruntunglah, mbak. memiliki teman seperti itu.

semoga kesedihanmu cepat berlalu, mbak... :D

Nama saya Mitra said...

itu dia mbak terkadang kita larut dalam kesedihan sendiri, dan ternyata masih banyak org yg lebih sedih dari kita hoho..

tetep semangat iaa mbak, nih mi kirim senyum manis dari medan :)

biru langit said...

Ari a.k.a Shin-Kun pasti GR membaca ceritamu, Mba... hehehe.... harus kuakui mataku berkaca2 setelah membacanya, hehe... Btw, knapa Mba ga publish blog ini ke buku? keren loohh... hihi :D

-Putri a.k.a PChan-

kira said...

like it. keren mbak

dhi! said...

mba, keren bgt kalo di-pilm-kan... :D

Enno said...

@wiwit: maklum, jurnalis sih hihi

@mitra: makasih ya, udah diawetkan senyumnya :P

@biru langit a.k.a putri: hai putriiii...pa kbr? kok blognya blum diisi? iya ni ari langsung pingsan saking terharunya hahaha... buku? tulisan jelek2 gini? hehe... jd malu :P

@kira: thx ya dear :)

@dhi: waduh harus segera ngelobi mbak upi avianto di blog sebelah neh! hahaha thx ya :)

kristiyana shinta said...

ceritanya begitu nyata,,,
emang the best banget lah si mba ini klo soal cerita :)

Enno said...

begitu nyata? emang nyata lah shiiin... hehehe

isabella ananta said...

merinding aku bacanya mba....

Enno said...

iya... mencekam ya :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...