Monday, September 6, 2010

Fraulein

1.
Sebuah catatan tertinggal dalam perang ini, yang berusaha kami menangkan. Saat kita berhadapan di garis depan, dalam hujan peluru.

Terkutuklah aku. Menatapmu dingin sambil menggenggam granat itu. Lempar, katamu. Lempar dan habisi kami.

Aku bahkan tak tahu untuk apa saling membunuh. Apa hakekat perang ini bagimu? Kemerdekaan dan harapan? Lalu apa artinya bagiku? Aku tak tahu.

Sebuah catatan tertinggal, fraulein. Hanya tentang kita. Tentang hati yang sembunyi di balik gemuruh roda-roda tank berlapis baja. Tenggelam dalam hingar ledakan mortir dan granat tangan.

Aku berjanji. Akan kubangun jembatan itu. Menghubungkan jiwa kita, melintasi neraka ini. Kita cari negeri antah berantah, dan menanggalkan segala dendam.

Aku cinta padamu, fraulein. Sekarang dan selamanya.

..........

2.
Jujurlah padaku. Siapakah yang kau lihat berdiri di depanmu, menatap matamu yang biru itu? Fraulein, bujukmu. Lupakan siapa kita, biarkan hati bicara.

Tapi tak bisa. Perang ini menghancurkan kepercayaan paling murni dalam hatiku. Sudah kusaksikan setiap sanubari terkoyak bersama daging yang dihanguskan peluru. Haruskah kugadaikan harga diri kebangsaanku demi tiga kata yang tak ada gunanya bagi kemerdekaan kami?

Sejujurnya, aku ingin memaki diriku sendiri. Mengapa kita tak bisa menerima kejujuran sebagai bagian dari perasaan?

Seandainya saja kau tak berdiri di sana, di seberang garis demarkasi. Mungkin akan kuakui, aku ingin kau miliki.

Maafkan aku. Sekarang dan selamanya.
________________

Raden Ayu Pratiwi, seorang perawat di garis depan, bertemu dengan Letnan Sneijder, tentara Belanda berdarah separuh Jerman, saat Agresi Militer Belanda I, Juli 1947. Mereka saling jatuh cinta, namun tak bisa bersatu karena keadaan.

Tulisan ini berdasarkan surat-surat lama berbahasa Belanda, yang pernah dibacakan dan diterjemahkan RA Pratiwi untuk saya saat beliau masih hidup.

Sang kapten memanggilnya 'fraulein' (bahasa Jerman, artinya nona), sebagai tanda hormat karena RA Pratiwi cucu seorang pangeran.

RA Pratiwi, atau saya memanggilnya Eyang Wik, adalah sepupu nenek saya. Kepada saya ia membagi kisahnya.


Foto dari sini


Image and video hosting by TinyPic

6 comments:

Elsa said...

kasihannya... Eyang Wik...
kasih tak sampainya begitu indah seharusnya...

pasti sumur hidupnya Eyang Wik memikirkan hal ini yaa

Desfirawita said...

Keren.

Gogo Caroselle said...

Dalem banget mba enno...,
how sad...
yang kaya gini2 harusnya difilm kan yah, jadi film berkualitas mahal... :)

-Gek- said...

Super duper romantis.......

M. Faizi said...

Di luar pujian untuk lirisme yang mengiris ini, saya acung jempol buat hidangan penutupnya.

KUTIP:
"Tulisan ini berdasarkan surat-surat lama berbahasa Belanda, yang pernah dibacakan dan diterjemahkan RA Pratiwi untuk saya saat beliau masih hidup."

"RA Pratiwi, atau saya memanggilnya Eyang Wik, adalah sepupu nenek saya. Kepada saya ia membagi kisahnya."

Enno said...

@elsa: iya, waktu ceritain kisah ini wajahnya agak sendu... tp katanya beliau ikhlas :)

@desfirawita: thanks :)

@gogo: iya go, bener bagus difilmkan ya... tar aku telpon hanung bramantyo deh *sok kenal* :D

@gek: surat2nya lebih romantis lagi gek :)

@mas faizi: berapa jempol mas? gak boleh satu lho :P

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...