Wednesday, September 8, 2010

Tentang Selamat Tinggal

Saya penasaran dengan puisi yang baru saya temukan itu. Siapa Puja? Namanya masih familiar dalam ingatan saya. Seorang teman di fakultas Pertanian sepertinya. Kampusnya jauh dari kampus saya, fakultas Hukum.

Siapa Puja? Wajahnya hanya samar-samar dalam ingatan. Tapi kenapa saya pernah menulis puisi begitu sedih untuknya? Apakah dulu ia pernah begitu berarti? Maka saya menyusurinya dalam helai-helai buku diary lama. Mencari jejak namanya.

Puja. Dan itu dia! Ternyata terekam dalam diary meski sebentar. Saya bahkan menemukan fotonya dalam album foto lama. Ia duduk bertiga dengan dua sahabat lama saya, Toni dan Ilham yang berpose konyol. Puja duduk di tengah, wajahnya lebih serius. Matanya menatap langsung pada kamera.

Lamat-lamat saya mulai ingat siapa dirinya. Laki-laki bermata tajam yang wajahnya melembut ketika tersenyum. Ia dan saya sama-sama anggota dalam sebuah kelompok mahasiswa. Kami sering mengadakan kegiatan penyuluhan ke desa-desa terpencil di kaki gunung. Menginap satu dua hari di balai desa, mengajari penduduk pentingnya kebersihan, sistem pertanian dan peternakan yang baik dan kesadaran hukum. Ia dan saya menjadi dekat dalam suatu kegiatan pengisi liburan semester, saat kami semua tinggal di sebuah desa di lereng gunung selama dua minggu.

Ia selalu memberikan senyumnya yang hangat itu untuk saya. Menjadi orang yang paling dulu mengulurkan tangannya untuk saya di jalan-jalan licin menanjak saat akan pergi penyuluhan. Ia mengisi hari-hari saya yang saat itu sepi dan merana karena baru patah hati.

Kembali ke kampus, ia selalu terlihat nongkrong di warung pecel langganan para mahasiswa dan duduknya pindah ke sebelah saya yang asyik makan.

Kadang-kadang ia saya pergoki sedang menatap saya. Lalu saya bertanya, "Kenapa ngeliatin aku terus?"
"Habis kamu enak dilihat," katanya sambil nyengir.
Kalau saya berkata, "Ajak teman-teman jalan-jalan yuk! Bosan nih! Penyuluhan lagi kemana gitu."
"Kita jalan-jalan berdua saja," sahutnya.

Hari-hari saya pernah dipenuhi sosoknya. Wajahnya, suaranya, bahkan hanya bayangannya. Ia menjadi pelipur lara. Ia bilang menyukai saya. Saya cuma tersenyum. Belum siap mengatakan hal yang sama.

Intuisi saya selalu benar. Ya, selalu benar. Itu terbukti.

Suatu hari, kami pergi penyuluhan lagi. Kali ini cuma dua hari. Sabtu dan Minggu. Tim saya tinggal di rumah kepala desa, sedangkan timnya tinggal di rumah salah satu ketua RW. Sore itu tim saya pergi ke rumah Pak RW. Kami ingin mengajak yang lain merundingkan rencana kerja.

Di beranda itulah saya melihat mereka. Puja dan seorang gadis duduk berdua. Saya mencari matanya, ingin bertanya tanpa suara. Tapi ia menghindari tatapan saya. Seseorang berbisik pelan di sebelah saya. "Itu pacarnya."

Pacarnya?! Saya nyaris tersungkur karena terkejut. Saya tak pernah tahu, dan ia tak pernah berusaha memberi tahu. Bahkan hanya sedikit sinyal bahwa ia sudah berlabuh pun tak pernah.

Lalu apa artinya saya bagi dia selama ini? Ternyata ia bilang, saya sangat berarti.

Saya ingat percakapan kami yang terakhir kali.
"Puja, kamu punya pacar."
"Itu perempuan yang dijodohkan ayahku. Aku nggak cocok sama dia."
"Jangan bohong, Ja. Aku lihat kalian mengobrol dengan mesra, pegangan tangan pula. Itu yang namanya nggak cocok? Kamu menjadikan aku ini apa? Semacam shelter sementara karena kamu sedang bosan?"
"Nggak seperti itu. Aku suka sama kamu. Sayang sama kamu. Aku tulus."
"Aku nggak percaya. Kamu itu ternyata oportunis. Aku sudah salah menilai kamu."
"Harus bagaimana caranya supaya kamu percaya?"
"Kalau kamu pikir aku akan menyuruhmu memilih, kamu salah. Aku nggak akan menyuruhmu memilih, Ja. Aku sudah lihat wajah pacarmu itu saat menatap kamu. Dia benar-benar cinta sama kamu. Aku nggak akan merusak perasaannya, nggak akan merusak hubungan kalian. Kamu pergi saja dari aku. Atau aku yang pergi."

Dan saya benar-benar pergi, meskipun ia menghalangi. Saya menghindar darinya setiap hari. Dan tak pernah pergi ke warung pecel itu pada jam-jam dimana ia sering nongkrong di sana.

Saya sangat sedih. Merana bahkan. Saya mengira ia dan saya akan menjadi sesuatu yang indah. Ternyata tidak. Berminggu-minggu saya berandai-andai. Berharap itu cuma mimpi dan besok ia akan menunggu saya di tempat parkir seperti biasa, duduk bersama saya di depan perpustakaan sambil menatap wajah saya tanpa berkedip.

Puja memang di sana. Menunggu di atas motornya. Wajahnya resah. Ia bahkan menitipkan surat untuk saya. Isinya tentang rindu. Saya ingin sekali datang ke tempat parkir itu, melihat lagi senyumnya. Mendengar lagi suaranya. Mendapatkan lagi penghiburannya. Tapi akal sehat saya mengalahkan perasaan mengasihani diri sendiri itu.

Saya tidak mau melukai hati orang lain. Apalagi seseorang yang tak saya kenal dan tak bersalah. Saya tidak mau menyelinap diantara mereka berdua, lalu merampas Puja hanya karena saya merasa membutuhkannya. Saya tak berhak, meskipun sangat ingin. Sangat menyukainya. Mulai jatuh cinta padanya. Saya memilih mengucapkan selamat tinggal, meskipun berat.

Selamat tinggal, Ja. Terima kasih sudah mengisi hari-hariku kemarin. Aku baik-baik saja sekarang. Kesepian tanpa kamu, tapi aku bisa mengatasinya. Jangan khawatir. Tidak perlu menjagaku lagi. (cuplikan diary)

Sebulan kemudian, ia baru benar-benar mengerti. Tak pernah lagi mencoba menghubungi saya, mencari saya, menemui saya. Ia menghilang dari hidup saya, dan saya berhasil melupakannya sampai saya menemukan puisi itu. Kenangan tentangnya hanya terpatri dalam sederet puisi itu. Bahwa ia pernah menyentuh hidup saya, tak akan saya ingkari. Saya merasa yang saya lakukan itu sudah benar. Ia hidup bahagia bersama gadis itu, yang menjadi isterinya kini.

..........

Percakapan telepon dengan seorang teman lama.

"Masih ingat Puja nggak, Lis?"
"Puja Rakana? Temen kita kalau penyuluhan itu kan? Anak Pertanian yang matanya keren itu? Masih dong. Hehehe..."
"Dia apa kabarnya ya? Satu kota denganmu kan?"
"Dia kan nikah sama pacarnya setelah lulus wisuda. Cewek yang itu tuh, kita pernah ketemu di desa itu lho. Memangnya kamu nggak tahu? Kalian kan pernah dekat."
"Itu kan dulu, Lis. Dulu sekali...."

.........

Puja, dimana pun kamu berada, kamu harus tahu. Aku tidak pernah menyesal sudah mengambil keputusan pergi darimu. Aku tahu kamu bahagia sekarang. Hari ini tiba-tiba aku ingat kamu. God bless you....


foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

14 comments:

Yessi said...

ah...jadi ingat seseorang :)

Desfirawita said...

Yup. mengingatkanku akan seseorang

-Gek- said...

Remember the things we should forget.. *gek likes this.. huhuhu.

Bagus banget ceritanya Mbak, selalu mengalir.. kapan ya saya bisa membuat cerita se-mengalir ini? :)

Puja Rakana, seperti nama orang Bali?? hmmmm..

Apisindica said...

argh....saya suka sekali sama gaya bertuturnya. Ayo ajarin aku nulis model beginian!

Enno said...

@yessi: sapa? mantan? :)

@wiwit: nah, mantan juga kah? :P

@gek: kamu bener gek, ibunya orang Bali hehe ;)

@apis: ini cara berlatihnya: kamu harus bercerita dulu dlm benakmu, kamu ubah2 susunannya disitu. kalo kamu ga bisa nulis di benak, boleh di kertas oret2. aku suka mengendapkan dulu tulisan di benak :) lama2 kalo udah biasa, nanti bertuturnya jd lancar. coba ya :)

Elsa said...

oooo gitu ya kisah si Puja...

Ladyonthemirror said...

kadang kita harus mengambil keputusan seperti ini, walau berat kita harus mengucapkan selamat tinggal dan melangkah pergi.

Arman said...

good decision... lu gak menyesali kan? :D

btw temen yang duduk di sebelah cubicle gua namanya juga puja lho. orang india. cewek tapinya. :D

chiekebvo said...

bulan lalu saia harus melepas orang yg setahun lebih menempati 1/2 hati saia..
#SoSad.. :((

Enno said...

@elsa: iya begitulah :)

@ladyonthemirror: berat tapi tepat :)

@arman: sama sekali ga nyesel, gue ga pernah menyesali apapun keputusan yg gue buat. btw puja yg ini juga ibunya org Bali... makanya namanya agak Hindu :)

@chie: relakan aja, nanti pasti dapat yg lbh baik chie :)

M. Faizi said...

sedih sekali. bingung mencarikan ungkapan yang tepat.

Enno said...

@mas faizi: ah padahal sayanya udah ga sedih lg kok, kan udah lama berlalu hehe :)

moon said...

hmmm.. kenapa ku ingin meneteskan airmata rasanya... perih ... seperih jika mencintai seseorang tapi takdir tak menggariskan bersama. hiks

Enno said...

@moon: cup cup...jgn nangis :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...