Tuesday, July 14, 2009

The Secret Door

Tengah malam. Sosok-sosok tak dikenal berbaris menuruni gunung, menyusuri jalan setapak menuju perkampungan terdekat.
Kelip obor menerangi langkah-langkah mereka yang bergegas. Memantul pada seragam loreng mereka yang lusuh, bedil-bedil dan golok di tangan, kain sarung yang tersampir di bahu dan kaki-kaki tanpa alas.

......

Ada suara gedoran pintu. Suaranya masuk ke dalam mimpinya. Semakin lama semakin keras, membuatnya tersadar bahwa itu ternyata bukan mimpi. Benar-benar ada yang menggedor-gedor pintu di ruang depan. Ia terbangun.

Di sampingnya, suaminya ternyata telah bangun lebih dulu. Bangkit dan menarik sarung yang terkait di belakang pintu. Ia ikut beranjak mengikuti suaminya ke luar kamar. Suara gedoran di depan pintu kini bercampur suara teriakan.

"Guru! Buka pintunya, Guru!"

Suaminya menoleh padanya. Wajahnya yang tirus tampak tenang.
"Bangunkan anak-anak," bisiknya dengan suara pelan. "Keluar dari rumah dan sembunyi di tempat biasa sampai aku menjemput kalian setelah keadaan aman."
Ia mengangguk mengerti. Membiarkan suaminya pergi ke ruang depan sendirian.

"Guru! Cepat buka! Jangan pura-pura tidak dengar! Buka!" Teriakan di luar semakin keras. Bunyi gedoran semakin ribut.

Ia masuk ke kamar anak-anaknya yang paling besar. Keduanya juga terbangun.
"Bangunkan adik-adikmu," ujarnya pada Ahmad, anak laki-lakinya yang paling besar. Ia menoleh pada Fatimah, si sulung. "Bawa beberapa sarung dan ambil lampu minyak di dapur. Jangan dinyalakan dulu. Tunggu di kamar ujung."

Sebuah kamar di sudut rumah. Sebuah pintu tingkap di lantai kayu. Setelah mengumpulkan semua anak-anaknya, ia menyingkap tikar pandan di lantai agar bisa membuka pintu itu. Anak sulungnya turun lebih dulu. Melompat ke tengah kegelapan di bawah rumah panggung. Lima anaknya yang lain menyusul. Ia yang terakhir sambil menggendong si bungsu. Di ruang depan sayup-sayup terdengar suaminya berbicara dengan orang-orang itu. Intonasinya tenang. Selalu begitu.

"Ke sini!" Ia berbisik, berjalan mendahului mereka. Ahmad di barisan paling belakang, memastikan tak ada adiknya yang tertinggal. Mereka menuju kebun singkong, cukup jauh di belakang rumah. Dekat rel kereta api yang sering mengangkut tentara Siliwangi dari Bandung. Fatimah menyelimuti adik-adiknya dengan sarung supaya hangat. Mereka merunduk di balik gundukan batu besar. Menunggu.

.......

Aku masih ingat pintu rahasia itu. Waktu masih kecil dan rumah Nenek masih berbentuk panggung, aku senang tidur di kamar itu. Membayangkan kembali malam-malam mencekam yang sering dilalui Nenek dan anak-anaknya, saat meninggalkan rumah jika beberapa tentara pemberontak Darul Islam (DI/TII) datang untuk meminta uang, beras dan bahan makanan lainnya.

Untunglah mereka tidak pernah mencelakakan Kakek dan keluarganya. Menurut Nenek, mereka masih menghormati Kakek karena ia seorang guru.

Puluhan tahun kemudian, pintu rahasia itu tak lagi ditutupi tikar pandan. Aku dan sepupu-sepupuku sering membukanya. Melongok ke bawah rumah panggung, memperhatikan ayam-ayam yang mencari cacing dan menaburkan butir-butir nasi sarapan pagi kami untuk mereka.

Waktu masih kecil, karena terpengaruh kisah itu, aku punya tempat rahasia juga. Tak seorang pun tahu, kecuali kucing-kucingku.

Kolong meja makan kami yang besar dan terbuat dari kayu jati. Hahaha.


Image and video hosting by TinyPic

11 comments:

Ade said...

No, tulisannya deskriptif banget! saya berasa ikutan ngerasain deg2an waktu nenek dan anak2nya berjalan menuju tempat aman..

Enno said...

iya uni, emang kata nenek, mencekam banget waktu jaman pemberontakan DI/TII dulu. salah satu basis gerilya mereka di daerah nenekku.

Sari Maniez said...

Weleh..Jeng, kirain beneran punya ruang rahasia bawah tanah gitu, kalo cuma kolong meja siy, aku juga punya hahahah ;p
*dah serius, ternyata...tertipu*

ROSMANA APOLLA PUTERA said...

salam kenal juga! mau tukeran link?

denny said...

ah, mok,
sayang kau gak ada disana ya,
coba ada kau,
udah lari pontang panting DI TII nya
kabur dong liat suketi...

wakakakaka....
ampun mok..
ampun,,

FaLLa said...

cerita ini beneran yah..

salam kenal..

Enno said...

@sari: yeee.. kan versi anak kecil critanya :P

@rosmana: boleh :)

@denny: wah bener juga siy... pasti kabur liat gue.. preman gini! sayang blm lahir... :P

@falla: iya ini cerita nenekku. salam kenal juga :)

ROSMANA APOLLA PUTERA said...

link sudah dipasang!

Enno said...

ok, link kamu juga! thx ya :)

Kabasaran Soultan said...

Wow ....sebuah penggambaran yang renyah dan luar biasa ... aku ikut terhanyut merasakan suasana tegang .... hmmm ternyata diujungnya tentara DI/TII minta makan to.
any way ..aku setuju kalau guru memang mempunyai tempat tersendiri di hati siapapun.
Ia disegani oleh
lawan maupun kawan
penjahat maupun pejabat
orang murtad maupun ustad
anak ingusan sampai tua bangkotan

he-he-he .... very nice story.

Enno said...

Makasih bang, hehehe...

iya setuju banget... guru memang seharusnya dihormati karena sudah mengisi kita dengan ilmu

:)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...