Saturday, July 18, 2009

Hitam

: Samantha


Kemarin tiba-tiba ingat kamu, Sam. Wajahmu yang pias saat berlari menghampiriku. Di dekat serumpun semak yang penuh serpihan daging dan percikan darah.
"No, suamiku di dalam!"
Kamu tampak nyaris pingsan. Wajahmu bercucuran air mata. Kedua tanganmu gemetaran. Kamu menatapku setengah memohon.

Aku menoleh pada Sukma, fotograferku. "Kita bisa masuk?"
Sukma menggeleng. "Nggak mungkin kayaknya. Polisi sudah memblokade TKP."

Sam, kamu menangis terisak-isak. Aku memelukmu. "Tunggu sebentar ya. Kita harus laporkan pada polisi. Ayo!"
Aku membimbing tanganmu. Melupakan sejenak tugas liputanku, karena aku tak bisa membiarkan kamu panik sendirian.

Untunglah polisi yang kita temui sangat baik dan kooperatif. Ia mencatat nama suamimu dan mulai berkoordinasi dengan rekannya di dalam gedung kedutaan.

Kemarin tiba-tiba aku ingat kamu, Sam. Ketika kudengar bom mengoyak lagi Jakarta. Aku bukan lagi reporter. Aku sedang cuti dan berada di kampung halaman. Tak ada telepon dari pemimpin redaksi untuk turun ke lapangan. Tak ada rapat redaksi darurat untuk merevisi topik berita. Aku tercengang di sini, di depan televisi. Menonton hasil liputan teman-temanku sendiri.

Lima tahun yang lalu, aku berada di lokasi yang nyaris serupa. Kedutaan Besar Australia. Bersamamu, Sam, yang menangis tak terkendali. Entah sedih, entah lega, ketika mengetahui suamimu hidup tetapi terluka. Suamimu akhirnya tak jadi meneruskan niatnya bekerja di Australia, karena akibat peristiwa bom itu sebelah kakinya tak lagi sempurna.

Oh Sam, kamu tahu tidak, aku tak akan pernah melupakan kejadian itu. Betapa kagetnya aku mendapatimu di tempat kejadian. Kamu baru saja tiba hendak menyusul suamimu yang datang lebih dulu hendak mengurus visa. Seandainya kamu yang terluka, akulah yang pasti menangis kala itu.

Kemarin, ketika kulihat Jakarta dikoyak bom lagi, aku terpana. Marah, sedih, sesal dan malu campur aduk dalam hatiku. Apa lagi yang harus kujelaskan pada mereka yang bertanya apa sebenarnya yang terjadi? Mereka, yang tahu aku jurnalis dan berpengalaman meliput kasus-kasus teror, pasti akan mulai bertanya-tanya lagi. Teman-temanku yang orang-orang asing dan yang berbeda agama. Mereka akan bertanya.

Surga? Demi masuk surga dan mendapat bidadari, benarkah itu Retno? Tanya seorang teman non muslim. Dan aku, yang tahu bahwa Islam tidak menjanjikan surga bagi pembunuh, ingin melemparkan pertanyaan yang sama pada para teroris itu.

Kenapa mereka begitu membenci orang Barat? Tanya seorang teman, wartawan AFP. Apa salah kami? Kami juga manusia. Ada yang baik, ada yang jahat. Kenapa seolah-olah kami semua jahat dan harus dimusnahkan?
Dan aku ingin bertanya pada orang-orang jahanam yang merakit bom itu.

Puing-puing gedung yang runtuh, tubuh-tubuh tewas dan terluka, ceceran darah, serpihan-serpihan kecil daging. Aku sudah pernah berada di lokasi seperti itu dan kini semuanya kembali melintas dalam benak.

Aku hanya seorang jurnalis, yang sedang cuti. Bukan ahli agama. Bukan analis teroris. Kini tak berdaya menyaksikan semuanya di televisi.

Sam, Jakarta kembali hitam.


Image and video hosting by TinyPic

18 comments:

Elsa said...

gimana kalo pengebom terkutuk itu... kita mutilasi... trus kita buang di sungai gangga????

Enno said...

setuju banget sa... biar mayatnya dimakan burung, terdampar trus dikoyak2 anjing.. seperti dalam foto di blogmu itu!!!

para teroris itu maksud surga? pret!

buwel said...

waaaaahhh ada elsa ya...ngeri juga lihat sungai gangganya.....setuju juga ama elsa...heheheeh

lilliperry said...

teroris tidak dibenarkan di agama manapun...

konspirasikah mbak..?
sial, terlalu banyak kemungkinan.. :)

Brokoli sehat said...

No, gw asli nyesek banget sama kejadian ini! sekali lagi wajah islam yang damai dinodai sama ulah sekelompok orang sakit jiwa!

rco said...

sepertinya mereka ini bukan lagi manusia....

miftahrahman said...

ijinkan aku kasih ucapan selamat, kamu udah menulis sebuah artikel yang keren abis

Enno said...

@buwel: hai... kalo gitu kita bertiga sependapat :)

@lilliperry: ya terlalu banyak kemungkinan, dan semuanya gak ada mendingnya... emang sialan :(

@brokoli: sama, gue juga nyesek, mana gak bisa turun ke lapangan pula! aaaarrgh!

@rco: sepertinya mereka bukan cuma sakit jiwa, tapi emang gak punya jiwa...

@miftarahman: terima kasih :)

Arman said...

gua juga pas liat berita bom kemaren ini langsung keingetan pas kejadian bom di kedutaan australia.

waktu itu gua kantornya di menara imperium. jendela belakang gua itu pas ngadep ke arah kedutaan australi.

pas dibom itu kantor gua sampe kayak mau runtuh. rasanya kayak dari ceiling situ mau runtuh. suaranya kenceng, goyang semua. serem banget.

pas nengok ke jendela di belakang, keliatan asep nya ngebul tebel dan gede banget... serem!!

ampun dah ama teroris2 ini... moga2 pada segera masuk neraka dah!

Azhar said...

cuma ga abis pikir yah ap yang ada diotak 'mereka' saat melakukan hal itu

Enno said...

@arman: wah kebayang ya pas kejadian di kedubes aussie itu. untung aja loe gak kenapa-napa... iya dah pasti mereka masuk neraka. dasar pembunuh!

@azhar: kayaknya sih emang gak punya otak.

denny said...

setujaaaa...

hukuman buat terorisnya :
1. disodomi sama robot gedeg
2. dibunuh sama ryan
3. dimakan sama sumanto
sambil bilang : emang cuma lo yg bisa gini hah???

Enno said...

wah mantabs tuh!
iya bener... hukumannya itu aja

:)

nie said...

sedih nya...
gara2 bom juga aku jaid ga malem mingguan, liburan yang direncanakan musnah sudah..karena sang pacar tiba2 sibuk dipanggil2 komandannya buat patroli kesana sini. uh, aku benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
:D

Enno said...

haha ketauan... pacarnya tentara apa polisi neh?

ya sudahlah, bangga dong... itu kan panggilan tugas demi bangsa dan negara

:P

Sari Maniez said...

Aku liat beritanya saat masih berada di bus waktu mudik kemaren. Cuma bisa berharap, lain waktu jangan bikin bom yang isinya mur & baut, isi aja dengan donat rasa coklat yang empuk kalokena kulit dan cuma bikin kaca-kaca kotor tapi ga pecah *itu kalo mereka ga bisa nahan napsu untuk pengen bikin bom, kalo bisa nahan, itu lebih baik*

Enno said...

hemmm...

ide bagus jeng :)

hanny said...

Mbak Enno, setujuu banget.. Itu pengebom nyebelin semuaaaaaaaaa...Tega bener sih ngebunuh sekian banyak orang... sadistis..

Impactnya, MU jadi batal dateng kesini pula :(

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...