Wednesday, May 20, 2009

Si Narsis Itu


: Eka Situmorang


Masih kuingat sebuah malam di depan rumah Pak Jusuf Kalla. Bertahun-tahun yang lalu.
Ingatkah kau? Duduk di bangku taman, di pinggir kolam yang airnya buram. Gorengan atau siomay yang kita makan, aku lupa. Tetapi topik kita selalu sama: cinta.

Kau selalu bicara tentang cinta, katamu sambil mencibir.
Padahal kau pun dulu sama saja. Tentang si hitam dan si putih, itu kisah terakhirmu. Dan akhirnya kau kawin dengan si hitam itu.

Aku masih setia dengan topik yang sama. Tapi kau membuatku canggung. Topik apa lagi sekarang, Eka? Tentang perkawinan? Astaga!

Aku geleng-geleng kepala melihat fotomu bertebaran di halaman-halaman maya. Rok mini, blus tanpa lengan, tungkai yang di-wax dan high heels tujuh senti. Lalu kuingat dulu sekali, kau memang selalu pakai rok. Selalu pakai sepatu bersol tinggi. Selalu tersenyum percaya diri, dengan rambutmu yang keriting seperti mie.

Kau selalu mudah terpesona dengan hal-hal sangat perempuan. Aku ingat kau pernah berkomentar tentang parfumku.
Kau wangi banget sih!
Moonflower Bodyshop, sahutku sambil nyengir. Aku yang selalu memakai celana jins dan sepatu datar. Kau pasti tak mengira aku memilih wangi sefeminin itu ya.

Kau harus mulai membuat blog, kataku. Kau ternyata suka menulis.
Lalu kau membuatnya dan isinya membuatku terkejut dan tertawa.
Cerita apa lagi sekarang, Eka? Tentang seks? Astaga!

Lalu kemarin kau marah-marah karena tak sekalipun aku menulis tentangmu.
Ah Eka, persahabatan kita akan menjadi berlembar-lembar halaman bila kutuliskan. Belum lagi jika kutranskrip setiap percakapan yang pernah kita lakukan.

Kau narsis amat sih, kataku terbahak. Kau lantas mengibarkan bendera perang. Ya ampun Eka. Sudah kawin masih kekanak-kanakan!

Lucu ya kita. Enno dan Eka. Si tomboy dan si feminin. Si praktis dan si narsis.
________________

I miss you, Ka. Ingin kembali ke masa-masa dulu...

9 comments:

Arief Firhanusa said...

Pertemanan, perkariban, perkawanan, persahabatan jika terisi sekumpulan orang-orang berbeda gaya, berbeda sikap, berbeda karakter adalah sukses tersendiri. Pertemanan yang terisi sifat-sifat sama itu biasa, tetapi jika ada beranekaragam warna di dalamnya, maka itulah persahabatan sejati.

denny said...

makanya....

kan udah kukasi tau..

jangan brantam aja..

jangan parbada..

(ini ngasi tau kau atau ito eka ya,, haha...)

Enno said...

@Arief: aih si mas, editorialnya bagus juga... hehe iya bener bgt :)

@denny: pasti yang kau maksud si tante-eka-narsis-yang-punggungnya-perlu-dicurigai-bolong-apa-enggak, ya kan? hahaha :D

Raffaell said...

Mendreskripsikan pertemenan sampe seperti ini, wow... two thumbs

ceritaeka said...

Haa.... !

Oke gue maen sinhi lagi dech,

udah kau bayar lunas utangnya ya No :p

hiks... jadi terharu... inget banget detail2 waktu kita ketemuan dulu hehehhehe

btw gue udh gak pake body shop, skr Victoria Secret :p kan udh dwasa hahahha (dewasa tp ngambek2 hihihi)

jangan pulak kau bilang aku narsis ya, semua foto2 itu mendukung ceritaku tauuuu and catat punggung gue GAK bolong !!! :D

hahahhaha
miz ya miz ya.. kapan kita jumpa lagiiii ????

Enno said...

@raffaell: ah ini kan krn dia yg maksa, pake ngambek2 pula hahaha

@eka: ketawa ya loe skrg... udah narsis ga ngaku lagi... punggung loe gak bolong ya? kok jalan loe ga napak tanah ka? :-P

maya sitorus said...

dulu kita sahabat
teman begitu hangat
mengalahkan sinar mentari

kau jauhi diriku karena sesuatu

itu semua karena ku sayangggg,,,

ahhhh,,inilah si kepompong itu,,
eka dan enno,,,

Enno said...

ahaha enggak ada yg menjauhi satu sama lain kok...
cuma krn sibuk menyibuk aja :)

-Gek- said...

Parfumnya sama!
Tapi sekarang masih ada ga ya?
Habis Body Shop selalu gonta-ganti.. huks.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...