Saturday, April 11, 2009

Sahabat Terbaikku

Dia sudah menunggu di dekat halte busway itu. Bersandar pada motornya, dengan helm di tangan. Melambai pada gadis yang baru saja turun dari tangga jembatan penyeberangan sambil menoleh ke kiri dan ke kanan.

"Hey!"
Ah, disana! Gadis itu tersenyum lega. Berjalan menghampiri.
"Menunggunya terlalu jauh, tahu!"
Lelaki itu hanya menatapnya sambil tersenyum.
"Tumben bawa motor?"
"Lagi kepingin saja."
"Jadi kita mau kemana?"
"Ke Tanah Abang kan? Katamu di sana ada rompi yang aku cari."
"Oke. Ayo berangkat. Eh, mana jaketnya? Aku nggak bawa dari rumah, habis kamu nggak bilang bawa motor. Kalau nggak pakai jaket nanti aku jadi hitam..."
"Kamu ini!" Lelaki itu mengetukkan telunjuknya ke kepala si gadis sambil tertawa. "Aku bawa kok." Dibukanya jok motornya, sebuah jaket parasit tipis diserahkan.
Sungguh jaket yang tidak modis! Tapi gadis itu memakainya juga sambil tertawa.

Di Tanah Abang, rompi yang dicari akhirnya berhasil dibeli. Harus pula gadis itu yang mengusulkan warna, sekaligus menawar harga.
"Betul mau yang itu?"
"Yang bagus menurutmu yang mana?"
"Ya yang itu."
"Ya sudah. Aku menurut saja."
"Awas ya kalau nanti di rumah menyesali warnanya..."
"Nggak, ini memang bagus kok."

Lelaki itu mengantarnya pulang ke rumah sepupunya. Gadis itu sedang menginap di sana selama akhir pekan yang panjang.

Sepupunya, teman lama lelaki itu, mengajaknya mengobrol dulu di teras rumah. Gadis itu hanya ikut mendengarkan.

"Kok sekarang kamu jadi puitis?" Kata sepupunya.
"Ketularan si ini nih!" Lelaki itu menunjuk si gadis yang langsung tergelak.
"Hahaha iya, dia ketularan aku."

Lelaki itu meraih sebatang rokok dari tasnya.
"Merokok terus!" Si gadis melotot.
"Baru satu, hari ini."
"Bohong!"
"Iya betul. Ini yang kedua."
Gadis itu mencoba meraih rokok, lelaki itu berkelit menjauh sambil terkekeh.
"Huhhhh!!! Menabung penyakit tahu!"

Ketika pamit pulang, lelaki itu tersenyum padanya. Gadis itu menyeringai lebar.
"Rompinya bagus kan?"
"Iya, bagus."
"Syukur deh."
"Pulang dulu ya. Makasih sudah ditemani."
"Hati-hati lho."
"Iya."

Gadis itu melambaikan tangan sambil menjulurkan lidah, lalu tertawa.

"Sudah pulang dia?" Tanya sepupunya.
"Sudah."
Gadis itu menatap sepupunya, menunggu pertanyaan yang tampaknya tidak jadi diucapkan.
"Mau ditanyakan tidak?"
Sepupunya angkat bahu.
"Dia sahabatku." Jawab gadis itu atas pertanyaan yang tak terucapkan. "Sahabat terbaikku."

8 comments:

ochi said...

bagus ceritanya.
udah dibikin edisi cetak blom nih?
hahaha...

kak_ega_punya cerita said...

mmmm.... bagus ceritanya... walo agak2 mencerna maksudnya :)

Fenty Fahmi said...

loh mau dikenalin sama sepupunya ya ?? :p

Enno said...

@ochi: wah, belum tuh...doain aja biar jadi :)

@kak ega: makasih... mohon gak dicerna di lambung, nanti kembung ;)

@fenty: bukan fen, mereka malah udah temenan lama... haha

-og!- said...

hhmmm...
tapi koq aku merasakan sesuatu yg beda ya..??
kayaknya lebih dari seorang sahabat deh ;). TTM maybe...?? atau..??

Enno said...

hahaha iya byk yg salah sangka... enggak kok. cuma memang udah kayak sodara... :)

ceritaeka said...

Ada getar2 lain mungkin No ? ;)
takut persahabatan rusak jadinya rasa ditahan? :p hehehe

Enno said...

eka, jangan mulai bergosip ah! ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...