Wednesday, November 27, 2013

The Sea

Ia  tersenyum.
Perempuan itu. Tersenyum dengan bibir terkatup. Matanya memandangi cakrawala nun jauh di tepi lautan. Ia duduk di atas pasir putih yang berkilauan disiram cahaya, sementara matahari bertahta tepat di atas kepala. Terik. Namun, ia bergeming. Setetes keringat bergulir jatuh dari pelipisnya ke bawah dagu. Ia mengusapnya dengan punggung tangan. Senyumnya belum hilang.

"Kau tahu tidak..." Akhirnya ia bersuara. Intonasi yang pelan dan tenang. Sementara matanya menerawang. "Kau tahu tidak, hari itu sebetulnya aku malu."
Aku memandanginya. Menunggu penjelasan dari kalimatnya yang tak berpangkal.
"Oh!" Ia terkekeh. "Maksudku, hari itu, ketika kami pertama kali bertemu."
Ah. Oke. Aku mengerti sekarang, topik apa yang ingin ia bicarakan hari ini. Bernostalgia? Baiklah. Mari kita lakukan. Ceritakan padaku semuanya.
"Aku menjemputnya di stasiun kereta api. Langsung berceloteh riang, sementara ia bahkan tak benar-benar menatapku. Ia hanya tersenyum. Menatap sekilas-sekilas kepadaku. Aku tahu, ia masih canggung. Itu pertama kalinya kami bertemu. Pertemuan yang pertama, setelah kami jatuh cinta duluan. Aneh, kan?"
Aku menggeleng. Tidak. Tidak aneh. Banyak yang seperti itu. Jatuh cinta sebelum benar-benar bertemu. Cara berkomunikasi sudah semakin canggih saat ini. Kita bahkan bisa saling memandang di layar gadget, bukan? Tidak. Tidak ada yang mengherankan lagi.

"Aku memberinya kue. Ia memandanginya sebentar. Lalu memakannya satu. Wajahnya agak merona sepanjang kami duduk di dalam mobil. Aku sudah jatuh sayang padanya sebelum itu. Tetapi hari itu... kurasa, hari itulah aku benar-benar jatuh cinta padanya."
Perempuan itu tertawa kecil. Ia menepis secuil cabikan pelepah kering yang entah melayang dari mana dan mendarat di lengannya.
"Tapi... sebenarnya aku juga malu."
Lagi-lagi, aku hanya bisa memandanginya. Menunggu ia melanjutkan ceritanya.
"Kau pasti tahu. Kalau aku mulai sangat bawel, itu artinya aku sedang menahan perasaan. Jadi hari itu, aku terus saja berceloteh ini-itu kepadanya. Sesekali ia mengacak rambutku dan mengatai aku bawel. Aku malu. Aku malu, karena aku merasa tak cukup baik untuknya."

Kenapa? Aku ingin melontarkan pertanyaan itu kepadanya. Kenapa kau merasa begitu? Kau tidak cacat fisik, tidak cacat mental. Kau tidak bodoh, tidak idiot. Kenapa?
Ia bisa membaca pikiranku tampaknya. Senyumnya mengembang. Manis sekali. Kubayangkan ia sering tersenyum seperti itu kepada si lelaki yang sedang ia ceritakan. Itu senyum yang sarat dengan kebahagiaan.

"Waktu pertama kali melihatnya, aku terpana. Ia tinggi. Jauh lebih tinggi dariku. Oh, tentu saja aku sudah tahu, ia memang tinggi. Ia sudah bilang padaku. Tapi ada sesuatu dalam dirinya..." Ia menghentikan kalimatnya. Wajahnya tiba-tiba melembut. "Ada sesuatu yang kulihat di matanya yang sipit. Di senyumnya yang tenang. Sesuatu yang mengalir melalui kulitnya ke kulitku saat kami bersentuhan. Ia.... baik. Dan ia benar-benar mencintai aku. Aku malu dicintai sebesar itu..."

Kau pantas dicintai sebesar itu. Aku menggeleng-geleng tak habis pikir. Perempuan ini terkadang terlalu menilai rendah dirinya sendiri.

"Dan aku mencintainya. Sama besarnya. Mungkin lebih. Aku melanggar nasehat ibuku. Ibu bilang, perempuan jangan mencintai lebih besar dari yang ia terima. Kita tidak pernah tahu isi hati lelaki."

Well, kurasa ibumu itu ada benarnya. Aku ingin mengatakannya. Namun, akhirnya kusimpan komentar itu di dalam hatiku saja.

"Ia memang baik." Kudengar napasnya dihembus pelan. Aku terpesona dengan intonasinya saat mulai hanyut dalam cerita. Suaranya, yang biasanya ceriwis, kini terdengar pelan dan lambat-lambat. Bukan lembut mendayu-dayu seperti jika kau membujuk seseorang. Ini seperti kekuatan yang ditahan erat-erat. Perasaan yang dikendalikan. Seperti kau ingin menangis, tetapi air matamu habis.

"Ia orang yang lebih banyak diam. Seorang pemikir. Penganalisa. Ia membiarkan aku yang menciptakan suasana dengan suaraku, tawaku, omelanku. Ia hanya akan memandangiku. Tertawa kecil, mengerutkan kening, mengulurkan tangannya untuk memelukku. Ia tidak banyak bicara, dan aku menyukai hal itu. Bukan karena aku takut kalah bicara kalau ia cerewet juga. Tetapi, karena aku tahu, dalam diamnya ia menjagaku. Dalam heningnya, ia mencintaiku. Ia memberiku kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Kau tahu, aku bahkan tak merasa perlu makan dengan rapi jika bersamanya. Jika sebagian cewek berusaha makan sambil menjaga imejnya di depan pria, aku makan seperti kuli kelaparan kalau mau. Atau tak menghabiskan makananku dan menyuruhnya menghabiskannya. Bersamanya, tak ada yang layak ditutupi."

Aku tak percaya. Seorang laki-laki seringkali menuntut beberapa hal dari kekasihnya. Terkadang banyak hal.

"Oh, tentu saja kadang-kadang ia menuntut sesuatu," sergahnya. Perempuan ini sepertinya memang ahli membaca pikiran, aku yakin. "Terkadang ia sedikit mengatur. Tetapi anehnya, aku suka diatur olehnya. Aku lelah mengatur segalanya sendirian selama ini. Memikirkan apa yang harus kulakukan, apa yang sebaiknya kukerjakan. Caranya menuntut tidak membuatku sesak. Itulah hebatnya. Lagipula, apa yang ia inginkan bukanlah hal-hal yang bertentangan dengan prinsipku. Ia cuma minta sedikit ini, sedikit itu. Dan seringkali itu adalah hal-hal yang sesungguhnya kusukai atau kulakukan sesekali. Jadi apa ruginya bagiku? Itu hanya hal-hal kecil, yang akan menggembirakan hatinya."

Aku memperhatikan perempuan itu selagi ia bicara tentang lelaki itu. Senyumnya masih sama. Namun matanya kini berkaca-kaca.

"Membicarakannya seperti ini membuatku rindu."
Astaga. Rindu, katanya. Kau tinggal menghubunginya, Perempuan. Ambil ponselmu, cari nomornya dan sambungkan.

"Ia sudah pergi."
Pergi? Kemana?
"Oh, kisah kami tidak semulus yang kau pikirkan." Ia menggeleng. "Kami harus memperjuangkan sesuatu. Yang bagi beberapa orang tidak masuk akal, tidak layak dipertahankan."
Berjuang? Kalian berjuang? Seperti merebut kemerdekaan saja.
"Kami memang mau merdeka. Merdeka untuk saling mencintai."
Lalu? Apa yang terjadi? Di mana ia sekarang-lelaki yang kau bilang baik itu? Ia meninggal? Atau pergi meninggalkanmu?
Senyumnya tampak sedih sekarang. "Sudah hampir senja," ujarnya seraya bangkit dan menepis pasir dari celana jinsnya. "Kata orang, melihat sunset terbaik harus dari atas karang yang di sana itu. Maukah kau menemaniku?"
Kenapa aku harus tidak mau?
"Ayolah." Ia berjalan mendahuluiku dengan langkah-langkahnya yang riang. "Kulanjutkan kapan-kapan ceritaku. Aku ingin memotret senja." Ia tertawa, mengacungkan tas yang sejak tadi terselempang di bahunya. Aku tahu, di dalam tas itu ia menyimpan kameranya.

"Cepat!" Ia berseru dari jauh. "Nanti senjanya keburu pergi. Aku tidak mau lagi ditinggalkan!"


--------------------------------

Sudah lama tidak menulis komprehensif di blog.
Halo semua! ^^


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...