Saturday, June 29, 2013

Kisah yang Tak Sempurna

[Pada Mulanya]

Di stasiun siang itu.
Seorang perempuan berjalan tergesa ke bangunan tempat pemesanan tiket kereta. Berdiri di sana dengan gelisah, menunggu kereta dari kota yang jauh tiba. Ia tak punya ide penyambutan macam apa yang akan dilakukannya nanti. Ia hanya punya perasaan gugup bercampur senang akan segera bertemu kekasihnya. Seorang lelaki yang tinggal di ujung pulau.

Setengah jam kemudian, terdengar pengumuman kereta yang ditunggunya itu tiba.
"Kamu di mana?" Ia menulis pesan singkat. "Sudah turun?"
"Sudah. Kamu menunggu di mana?" Si lelaki membalas.
"Keluar dulu aja," tulisnya. "Aku di depan gedung pemesanan tiket."

Apakah kalian tahu apa yang biasanya dilakukan dua kekasih yang terpisah jarak saat bertemu?
Mereka mungkin akan berpelukan erat, tertawa, saling merangkul, bergandengan, atau berciuman. Semua itu biasa terjadi, bukan?
Tetapi mereka tidak melakukan itu.

Perempuan itu melihat sosok yang ditunggunya. Lelaki tinggi besar dengan ransel di punggung dan tas kamera terselempang di bahu, melangkah canggung ke arahnya. Ia berlari menghampiri dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan lelaki itu.
"Halo, akhirnya sampai juga!" Sapanya riang.
"Sudah lama nunggunya?" Si lelaki tersenyum.
"Nggak lama. Santai aja. Kita cari taksi yuk!"

Mereka beranjak keluar stasiun untuk mencari taksi. Masuk ke dalamnya, dan si perempuan merogoh tasnya, menyodorkan sesuatu dalam bungkusan plastik pada lelaki itu.
"Mau kue? Aku beli untuk kamu tadi."
Si lelaki tertawa kecil. "Kok kamu bawa kue segala?"
"Kamu pasti lapar. Kan kamu tukang makan."
"Hey! Kamu ya!" Si lelaki tertawa lebih lebar.

Jadi, bagaimana harus kita gambarkan pertemuan itu? Tahukah kalian perasaan mereka berdua saat itu?
Akan kuceritakan pada kalian perasaan si perempuan saja, yang pernah ia bisikkan padaku suatu hari.

Perempuan itu jatuh cinta.
Jatuh cinta yang berbeda dengan jatuh cinta saat pertama kali mereka berkenalan. Kali ini adalah jatuh cinta yang membuatnya melayang dengan seutas tali perak. Kepalanya pusing oleh rasa bahagia. Tenggorokannya tercekat oleh rasa haru. Matanya tak bisa lagi menatap ke wajah lain. Dan di perutnya ribuan sayap halus bergetar. Namun hatinya nyeri oleh kenyataan yang harus segera dikatakan.

"Kamu dan aku punya perbedaan, Sayang. Dan aku tak tahu bagaimana kita menghadapi seluruh dunia. Karena kurasa kamu tak akan mau. Jadi kurasa mungkin kita harus..." Perempuan itu mulai menangis. Mengapa begitu sulit mengucapkan hanya satu kata?
"Berpisah?" Lelaki itu meneruskan kalimatnya. "Kita hanya sampai di sini saja?"
Perempuan itu benar-benar menangis sekarang.
"Hei, kemarilah..." Lelaki itu meraihnya, membawa kekasihnya yang sedih ke dalam rengkuhannya. "Tapi aku mau. Aku mau dan bersedia menghadapi dunia demi kita. Akan kita cari jalan dan menemukan pemecahannya. Kamu dengar, baby? Percaya sama aku. Kita akan berjuang sama-sama."

Dan haruskah kuceritakan pada kalian, bahwa ini bukanlah sepenuhnya kisah yang menyedihkan, meski ada tangis yang kuceritakan?

Ini hanya awal mula.
Sebuah kisah yang dimulai dengan indah. Dengan cinta yang lebih besar dari yang pernah kalian bayangkan.
Tentang seorang lelaki dan perempuan yang bertekad mengalahkan dunia. Yang ditakdirkan memiliki banyak hal yang serupa, bahkan mimpi dan harapan yang sama.

Tentang si Beruang Besar dan si Kelinci Kecil.
Benar. Ini tentang mereka.

I don't need reasons to fall for you, as you know, you had me at hello
- Big Bear

9 comments:

Annesya said...

kaka jangan putus... ehek ehek...
aku ogah baca tulisan patah hatinya kaka enno :P bocen. mau tulisan yg penuh cinta <3 #kabur

Arman said...

is this story about you?
moga2 ada jalan keluarnya yaaa...

Selfish Jean said...

Nooooo :(((

Suci Mine said...

ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya sempurna ^_^
setiap cerita pasti punya akhir, cara kita menyikapi akhir itulah yang menentukan apakah itu happy ending atau sebaliknya... *ceileh bahasanya*

suka dengan quotenya mbak enno ^_^

Rika Priwantina said...

aku enggak bermaksud menyamakan cerita. tapi cerita ini sama kayak aku, kak Enno :')

nunggu di stasiun, pertemuan, taksi, makanan, perasaan yang terasa, setiap detelnya terlalu sama.

dan... Tentang si Beruang Besar dan si Kelinci Kecil itu juga sama :')

Enno said...

@annesya: emang aku bilang ini ttg aku? :P

@arman: jalan keluarnya ya pintu man :D

@momon: lha kamu kenapa mewek? kesindir? ^^

@suci: itu quote si Besar :)

@Rika: Ciyus? Amacaaa? :D

Rika Priwantina said...

ciyus kak, ciyus :p

shinta said...

i know it's you..
yeeaahh it's you...
ahhahahha

semoga si besar akan berbesarhati dan si kecil tak berkecilhati..

*mbuh opo maksutne :p

rindu sekali mampir kesini *peluuukk*

Enno said...

shin...
menuduh itu dosa.
bikin batal.
sini, bayar fidyahnya sama gue! :))

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...