Friday, July 24, 2009

Dongeng Emak

Satu hal yang selalu kusesali jika mengingatnya, aku belum sempat membelikannya kain kebaya dari gaji pertamaku...

.....

Mei 1982.
Malam itu ia terbangun. Suara-suara orang bercakap-cakap terdengar lamat-lamat dari arah belakang rumahnya. Ia menoleh ke arah suaminya yang masih tidur pulas. Disibakkannya tirai jendela kamarnya yang memang menghadap ke belakang rumah. Jauh sekali, di lereng gunung yang membentang memayungi ladangnya, ia melihat iring-iringan nyala obor yang dibawa orang-orang. Menaiki gunung, entah datang dari mana.

"Pak! Pak!" Ia mengguncang tubuh suaminya. "Pak, bangun!"
Suaminya bergeming.

Ia menghela napas. Kembali memandang keluar jendela. Orang-orang yang berduyun-duyun naik ke gunung semakin banyak. Tampaknya tak ada yang melihat peristiwa itu selain dirinya. Ia tahu sesuatu akan terjadi.

Esoknya, Gunung Galunggung meletus.

Emak menceritakan kembali kisah itu padaku, suatu hari ketika ia sudah mulai sakit-sakitan. Aku sudah besar, kuliah tingkat dua. Kami duduk di sofa tua kesukaannya, di depan televisi yang menyala. Sementara di tangan kami ada segulung benang dan jarum rajut. Pelajaran merajutku yang selalu tertunda dan tak pernah berakhir dengan sukses kembali dimulai pada liburan itu.

Emak adalah nenekku dari pihak Ibu. Cucu-cucunya memanggilnya seperti itu sama seperti orangtua kami memanggilnya.
Tubuhnya langsing kecil dengan sorot mata teguh di balik kacamata bacanya. Ia mirip Ibu, tetapi tak mirip aku. Kata orang-orang, aku lebih mirip nenek dari pihak Ayah. Tetapi aku lebih dekat pada Emak ketimbang nenekku yang satu lagi. Emak yang menumbuhkan rasa ingin tahuku pada alam, buku, dan kisah-kisah masa lalu yang sering diceritakannya sambil mengajariku menyulam, merajut dan membuat kue-kue kampung kesukaanku.

Waktu aku kecil, Emak senang mengumpulkan kami cucu-cucunya di dapur setiap pagi. Ia membuat bola-bola nasi dengan sedikit garam sebesar kepalan tangan lalu membagikannya pada kami satu per satu untuk mengganjal perut sambil menunggu lauk yang lain matang.

Ia yang menjemput kami saat sedang main gulat lumpur di sawah Kakek. Membujuk kami pulang dan memandikan kami satu per satu sampai bersih kembali, tentu dengan sedikit omelan.

Ia meminta kakekku yang kepala sekolah, meminjam buku-buku cerita dari perpustakaan sekolahnya untuk bacaanku selama liburan. Kadang-kadang, ia hanya mengajakku duduk saja. Lantas ia yang bercerita.

Emak cukup terpelajar. Tidak seperti perempuan-perempuan desa di zamannya, ia sempat mengenyam pendidikan dasar karena ayahnya masih berdarah bangsawan dari Cirebon, sehingga ia diperbolehkan bersekolah. Itu sebabnya, ia bisa membantu cucu-cucunya mengerjakan pekerjaan rumah, membacakan kami buku cerita dan mengajari menulis sambung dengan huruf-huruf yang meliuk indah. Kami juga diajari sholat dan mengaji olehnya.

Kakek menikahinya saat ia baru berumur 15 tahun. Sesuatu yang sudah biasa di masa itu. Saat itu Kakek baru berumur 19 tahun dan baru saja menjadi guru. Emak suka bercerita tentang masa-masa awal pernikahannya sambil tersenyum kecil.
"Kakek suka menggendong Emak ke sumur," katanya. "Ia menjunjung Emak di bahunya. Menimbakan air untuk mandi, lalu sholat subuh bersama-sama."

.......

"Jadi yang Emak lihat itu di gunung itu apa?" Tanyaku padanya. "Memangnya di gunung ada perkampungan ya?"
"Itu bukan perkampungan biasa." Ia menyahut sambil memeriksa rajutanku. "Cuma Emak yang bisa melihat. Mereka mengungsi dari Gunung Galunggung, karena sudah tahu gunung itu akan meletus."
Aku, yang sejak kecil sudah biasa melihat hal-hal aneh, mengangguk paham.

Indera keenamku barangkali diturunkan darinya juga.

Tapi Emak tentu saja lebih suka menceritakan hal-hal yang masuk akal. Ia bercerita tentang tentara pemberontak Darul Islam yang mengobrak-abrik kampung, tentang masa kecil anak-anaknya, tentang masa remaja ibuku, tentang kedatangan Ayah untuk melamar Ibu yang baginya amat berkesan.

Ia juga suka mendongeng sebelum tidur. Kisah-kisah ajaib yang didongengkan turun temurun dari leluhurnya, dalam sastra Sunda yang indah.

"Dongeng tentang Kipas Ajaib itu gimana, Mak? Retno lupa."
"Itu kan dongeng anak kecil."
"Hehe biar ah, Retno mau dengar."
Maka, sambil merajut Emak mendongengkan cerita kesukaanku itu dengan suaranya yang lembut. Membuatku ingin membaringkan kepala di pangkuannya seperti masih kecil dulu.

"Zaman dahulu," tuturnya dalam bahasa Sunda. "Ada dua kakak beradik yatim piatu. Yang sulung perempuan, si bungsu laki-laki. Mereka mengembara, hanya berbekal sebuah kipas bambu peninggalan nenek mereka...."

.......

Beberapa bulan sebelum meninggal, Emak masih mengajariku merajut. Dan lagi-lagi berakhir dengan tak sukses.
"Tanganmu itu lebih cocok untuk menulis." Ia tersenyum sambil membelai tanganku yang berkutat dengan jarum dan benang. Emak tak lagi ikut merajut. Ia berbaring di ranjangnya, dan aku duduk di sebelahnya menyandar pada setumpuk bantal.
"Susah, Mak. Habis ini diputarnya ke sini? Atau kesini?" Aku mengeluh.
Ia terkekeh. "Ke dapur saja. Buatkan Emak kue bola ubi. Bisa kan?"

Hari itu tepat seminggu setelah aku diwisuda sarjana. Dan itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku membuatkan ia makanan. Karena biasanya Emaklah yang memanjakan aku, membuatkan aku makanan kesukaanku. Ia memakan kue buatanku dengan lahap. Meskipun aku tahu rasanya tidak seenak buatannya atau buatan Ibu.

"Nanti kalau sudah kerja, Emak mau dibelikan apa dari gaji pertama Retno?"
"Belikan Emak kain kebaya saja."
"Ya. Nanti Retno belikan yang paling bagus buat Emak, ya."

....

Emak meninggal dunia seminggu setelah aku diterima bekerja di sebuah majalah di Jakarta. Hari ini, aku kangen Emak. Kangen suaranya yang lembut waktu mendongeng...


Image and video hosting by TinyPic

13 comments:

maya sitorus said...

senang ya bisa deket ama emak, diceritain dongeng dan di manja
karena emak pasti lebih manjain cucu
apa yang kita mau pasti di penuhi..

jadi belum sempet beliin kebaya buat emak ya?

mmm,,gue wakilin ajah, tapi gue pengen kebaya anna avantie,,hehehhe tetep cari keuntungan

kalo kangen gitu, jadi ngapain dong no?

Sari Maniez said...

Kalo lagi kangen sama Emak, berdoa aja, sampaikan pada Tuhan...
Ini bagian yang paling bikin aku mupeng dari semua ceritamu, "Kakek suka menggendong Emak ke sumur," katanya. "Ia menjunjung Emak di bahunya. Menimbakan air untuk mandi, lalu sholat subuh bersama-sama."
Aku jadi berpikir, besok bisa ga yaa...dapet suami yang bisa menjunjungku, secaraaa...aku rada berat wakakak *kayaknya perlu truk pasir nih*

:D

Azhar said...

nice story,,,,jadi inget nenek gw meninggal tahun lalu

btw lo bisa liat setan ya?

Kabasaran Soultan said...

Hiks-hiks -hiks jadi ingat emak yang jauh dimata.
sebuah cerita yang menggugah ..sungguh.

Enno said...

@maya: kebaya anne avanti? bletakkk!!! :P

@sari: hihihi... mupeng ya? cari suaminya hrs yg lbh besaaaar :P

@azhar: liat setan? bisa... buktinya bisa liat elo hahaha... piss ah!

@kabasaran soultan: cup cup... jgn nangis gitu ah :)

denny said...

aku tak pernah tau rasanya punya kakek atau nenek mok..

fiuh...
pantas gede jadinya gini..

:D

Enno said...

jadi aneh?

ck ck ck.... iya ya, pantas...

:))

Elsa said...

Emak pasti juga kangen sama cucu-cucunya. tapi beliau juga pasti bangga kok

Bintang said...

sayapun sering di dongeng ketika kecil dengan kakek saya, tentang 7 putri cantik dan kura-kura raksasa. diajari shalatpun oleh kakek, dijemput ke surau setiap magrib, berjamaah. tadi malam, sayapun kangen kakek, saya sebutkan namanya di sepertiga malam itu paling pertama, lalu nenek saya, lalu ayah saya, lalu teman saya.


salam kenal mbak retno,


bintang

Arman said...

so sweet...

lilliperry said...

senangnya masih ingat kenangan ma kakek nenek..

saya malah ndak ingat kakek nenek saya, udah meninggal pas saya masih balita *curcol saya.. :D

Enno said...

@elsa: iya, semoga begitu ya sa :)

@bintang: dongeng yang itu blm pernah dengar lho,.. salam kenal juga :)

@arman: makasih :)

@lilliperry: tapi msh byk kenangan indah lainnya kan? don't worry :)

owly said...

hiks. senangnya punya kenangan indah dengan nenek. aku tak punya hiks...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...