Friday, March 27, 2009

Solitaire

Di masa kecilku, ada sebuah pohon mangga tua yang besar di belakang kompleks. Menjulang tinggi dan berdaun rindang. Batangnya kokoh, begitu lebar sehingga tak bisa dipeluk.

Aku dan teman-temanku datang ke sana setiap sore untuk berjuntai di cabang-cabangnya yang menjulur ke kiri dan kanan. Kami bercerita tentang film kartun favorit, atau membaca komik.

Selebihnya, pohon itu berdiri sendirian. Tak berteman. Tampak asyik dengan dunianya sendiri. Menikmati hidupnya yang sepi dan persahabatannya setiap sore dengan kami.
Dulu, aku merasa sama seperti pohon mangga itu. Menyendiri. Soliter.

----------

Aku tahu, mungkin kalian tersinggung denganku. Mungkin, kataku. Aku tidak pasti dan berharap itu tidak benar. Maafkanlah aku karena selalu mencari alasan untuk tidak berkumpul dengan kalian. Undangan duduk-duduk sore hari, menikmati kopi di sebuah kafe, sambil bercerita tentang masa lalu ketika masih berseragam sekolah.

Maafkanlah karena aku jarang menyapa kalian di ruang pertemanan. Dan aku lebih sering bertukar salam dan canda dengan teman-teman lelaki. Aku tidak bermaksud sesombong itu. Tetapi beginilah aku.

Aku harus berkata jujur pada kalian. Tak ada chemistry di antara kita, bukan? Bahkan sejak dulu, ketika kita satu kelas, satu sekolah, pulang ke rumah dalam gerombolan yang sama dari pintu gerbang itu.

Kalian semua sejak dulu memang selalu bersama-sama. Sebelum sinetron televisi mempelopori demam geng sekolah, kalian sudah membentuknya. Aku tidak pernah dan tidak berminat bergabung di dalamnya.

Hmm, coba bayangkan jika aku bersama kalian sekarang. Apa yang mesti kita bicarakan? Nostalgia yang mana?

Dulu kita nyaris tidak pernah saling bicara. Hanya saling mengenal nama. Bahkan salah satu dari kalian selalu marah jika nilai ulanganku lebih tinggi darinya. Dan salah satu yang lain mengolok-olokku diam-diam karena aku menyukai anak lelaki yang sama dengannya.
Dulu, betapa herannya aku pada kalian. Selalu saja meributkan hal-hal tidak penting. Bukan salahku jika aku lebih pintar. Bukan salahku juga jika aku menyukai anak lelaki yang sama.

Lihat kan? Betapa rumitnya berteman dengan perempuan. Itu sebabnya aku lebih menyukai teman-teman lelaki.

Hey, sudahlah.
Aku ini terkadang masih soliter, seperti pohon mangga besar di belakang kompleksku dulu. Aku yakin sekali, tidak ada akupun acara kalian tetap akan menyenangkan. Maafkan aku ya.

4 comments:

Meidy said...

bergaul emang harus ada chemistry-nya.. krn kita tdk bisa terus menerus hidup dalam basa-basi dan kepura-puraan. kita berhak memilih kok, jadi ga usah ngrasa bersalah :)

Enno said...

iya... sama sekali bukan dendam kok. cuma memang susah kalo maksain diri kalo dr sananya udah gak ada chemistry...

ceritaeka said...

biasanya yang punya banyak temen cowok itu kece !
ini bukan gue yg ngomong lho, tempo hari ada discussion gitu di Hardrock FM hehehe

Enno said...

masa sih ka? haha itu kan kalo cowoknya mau flirting.

temen2 gue gak ada yg flirting sama gue.
dalam kasus gue, mrk nyaman mungkin karena gue simpel, praktis, easy going dan gak rese haha :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...