Saturday, September 11, 2010

Ibu, Aku Takut....

Pada pagi hari Tuhan tidak pernah seperti terkejut dan bersabda,
“Hari baru lagi!”;
Ia senantiasa berkeliling merawat segenap ciptaan-Nya
dengan sangat cermat dan hati-hati tanpa memperhitungkan hari.
Ia,

... seperti yang pernah kaukatakan, tidak seperti kita sama sekali.
Tuhan merawat segala yang kita kenal dan juga yang tidak kita kenal dan juga yang tidak akan pernah bisa kita kenal


-Sapardi Djoko Damono-

_______________________

Aku dan Ibu seperti teman. Semakin lama, semakin hari, semakin beranjak umur, kami seperti dua teman lama yang berlayar bersama dalam satu biduk. Aku, yang wajahnya paling tidak mirip Ibu (mirip ibunda ayahku, katanya), adalah anak yang paling dekat dengannya.

Lihatlah kami berdua. Duduk di beranda sambil mengelus kucing-kucing. Ibu akan mengajak bicara si tua Yellow. Aku sibuk menggelitik si putih Pupu. Di antaranya kami mengobrol tentang masa kecilku di kompleks tentara, bertanya tentang anak-anak tetangga dulu sejauh pertemuanku dengan mereka di fesbuk, rencana memberi pil KB untuk si Pupu agar tidak beranak melulu, sampai merencanakan menu masakan untuk esok hari.

Terkadang selalu aku yang diomelinya. Terkadang justru aku yang dibelanya. Terkadang ia membiarkan aku tidur sampai siang sehabis Subuh. Terkadang aku yang membiarkannya tidur siang.

Aku merasa kami adalah teman. Aku dan Ibu. Bertengkar lalu baikan lagi. Atau terbahak-bahak, kompak menertawai ulah Ayah. Sama-sama mengomel kalau ada hal yang tidak pas di hati. Saling mengkritik gaya berpakaian masing-masing. (Lebih cantik pakai jilbab, sindir Ibu. Itu kan bukan keputusan mudah, tukasku).
Aku dan Ibu adalah teman. Selalu begitu pikirku. Sekalipun sedang bertengkar, selamanya akan bersama.

Lalu hari ini, kulihat Ibu terduduk di lantai kamar mandi itu. Tak bisa mengangkat tubuhnya sendiri, sampai aku harus berteriak memanggil adikku. Kulihat ia digotong, dan tubuhnya lumpuh sebelah. Ibu stroke, dan terbaring tak berdaya di tempat tidur. Tangannya menggapai-gapai padaku, mencoba bicara dengan bibir yang mulai kaku. Suaranya tak jelas, tapi aku tahu ia sedang menyuruhku menjaga Ayah.

Tubuhku menggigil seperti kedinginan. Tapi sekuat tenaga menahan air mata. Ibu sangat sensitif dan mudah menangis. Aku tidak boleh menangis di depannya. Ia akan kuat jika melihat kami kuat. Aku, adikku dan ayah di sekelilingnya. Kami menunggu kakakku datang dengan mobil untuk membawa Ibu ke rumah sakit. Tangan Ibu menggapai-gapai pada adikku, lalu menunjuk aku. Air matanya mengalir di sudut mata. Titip kakakmu. Jaga ya. Ia belum menikah, bisiknya.

Kenapa Ibu bilang begitu? Sergahku dalam hati. Ibu tidak akan kemana-mana. Ibu akan ada di hari pernikahanku kelak. Duduk di sebelah pelaminanku bersama Ayah. Kenapa aku harus dititipkan pada adik?

Oh Ibu, jangan menakut-nakuti aku. Kita teman, kan? Kita akan selalu bersama-sama, setidaknya sampai rambut Ibu akhirnya putih semua, gigi Ibu hilang beberapa, tapi Ibu sehat dan bahagia. Saksikanlah anak-anak kami dewasa, seperti Nenek, ibumu, menyaksikan kami tumbuh. Biarkan mereka memanjakanmu dengan membelikan baju baru dari gaji pertama. Biar saja si Pupu itu punya anak banyak ya Bu. Siapa yang peduli, selama Ibu sehat dan masih bisa membelainya sambil duduk di beranda.

Tiba-tiba, saja Ibu menjelma menjadi ibuku. Perempuan yang dulu membawaku ke dokter terbaik meski biayanya menyedot hampir separuh uang belanjanya. Perempuan yang menjual perhiasannya satu per satu demi bisa menyekolahkanku ke perguruan tinggi. Yang tidak malu menjual sebotol shampoo yang belum sempat dipakai ke tetangga untuk ongkos sekolahku hari itu. Yang melahirkanku dengan susah karena kehadiranku ke dunia menyebabkannya sangat kesakitan.

Oh Ibu, maafkan aku, Bu. Maaf... Aku hanya bisa menyusahkanmu.

Hari ini, ketika aku menyaksikannya digotong lagi ke mobil dan dilarikan ke rumah sakit (sementara aku harus di rumah menemani Ayah yang sedang tidak enak badan), aku merasa takut sekali. Bahkan ketika harus mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa, atau masuk gua yang asing, gelap, dalam dan berkilo-kilometer panjangnya, atau menerobos sarang sekawanan laba-laba pohon yang besar-besar, tidak pernah aku merasa setakut ini.

Teman sejatiku kini terbaring di rumah sakit itu. Ya Allah, sembuhkanlah ibuku.

Aku takut, Bu. Aku takut tanpa Ibu....

_____________

Rumah hening dan sepi tanpa suara Ibu. Ayah sudah tidur. Syukurlah, sebab wajahnya muram sejak tadi. Yang sakit itu isterinya yang mendampinginya berpuluh tahun, dalam susah dan senang. Mataku sembab, menangis terus sejak tadi. Aku mau cuci muka, berwudhu dan sholat dulu.

Mohon doa kalian untuk kesembuhan ibuku, ya. Semoga Ibu segera sembuh dan kembali ke rumah ini lagi.



Foto dari sini



Image and video hosting by TinyPic

13 comments:

Arman said...

no... moga2 ibu lu cepet sembuh yaaaa...

denny said...

uwak cepat sembuh ya

Apisindica said...

semoga mamanya mbak enno cepet sembuh yah! amien.

empe said...

cepat sembuh ya bu :)

Galuh Riyadi said...

Cepat sembuh Ibu. Be strong mbak. :)

lilliperry said...

cepat sembuh ya bu..

k i i k i said...

amin kak enno... semoga ibu kakak cepat sembuh ya...

Ina said...

air mataku menggenang membaca postingan ini, aku juga punya ibu yg seperti sehabat, waktu ia sakit aku juga takut sekali kehilangan dia, karena aku sdh kehilangan ayahku. Alhamdulillah Ibu ku sudah sembuh. Aku do'akan ibu Enno juga cepat pulih dan sembuh dari sakitnya.

Poppus said...

sing sabar nya neng :)

rusni said...

Penyakit memang suatu ujian, semoga diberikan yang terbaik dan mendapat hidayah atasNya. aamiin.

Semoga segera sembuh.

kristiyana shinta said...

mama mba enno jangan sakit teruss dong,,, ayo semangattt,, semoga cepat sembuh :)

Enno said...

@all: terima kasih doa dan supportnya ya. aku mrs ga sendirian menghadapi cobaan ini. I love you guys! :)

gloriaputri said...

mbaa...pesennya ibu ke adik km sama kayak pesen papa ke adik aq Demi yg masih kecil itu,
"kakakmu belum menikah, jagai dia ya, gantikan papa jadi ayahnya"

:'(
aq baru denger ini tadi pas mama cerita papa pesen gitu ke Demi waktu di Rumah Sakit

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...