Friday, May 8, 2009

Karena Demikianlah Adanya


Aku masih saja termangu. Di sini. Di depan layar yang berkedip pelan, tak tahu hendak menulis apa.
Lalu aku mulai mengetikkan huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf sambil mencoba merangkainya serupa kenangan yang tertinggal di benak namun sulit diungkap.

Aku hanya ingin menulis dengan bahasa yang bersahaja. Tentang kamu dan aku. Angin dan burung-burung. Dan ilalang di tengah padang yang bunganya serupa sikat botol di atas bak cuci ibuku.

Tadinya aku hanya ingin kamu membaca selarik kalimat saja dengan tanda tanya di ujungnya. Tetapi tak berharap kamu mengirimiku kalimat balasannya, apalagi dengan tanda seru di ujungnya, atau bahkan tanda tanya yang sama. Karena aku tahu, kamu tidak akan melakukannya. Karena barangkali bagimu, perasaanku tak sepenting itu. Karena demikianlah adanya.

Kusingkirkan semua prasangka, ketika kususun paragraf-paragraf ini. Kusingkirkan semua rindu ketika kulihat wajahmu tersenyum di halaman yang kubuka. Kusingkirkan semua ingatan tentangmu hari ini. Hanya hari ini saja. Karena sedihku sedang meraja.

Tetapi tetap saja senyummu yang terang itu menari dalam otakku tak kenal lelah, meski aku berteriak untuk berhenti.
Kenapa aku tak bisa menguasai benak sendiri? Mengapa kamu masih saja tak mau pergi? Aku ingin beristirahat sejenak, berhenti memikirkanmu hari ini. Hanya hari ini saja. Karena rindu tak cukup memberi energi.

Dan aku masih termangu. Dengan jari-jari menari tersendat di atas tombol-tombol pencetak huruf. Mengingatmu. Merindukan percakapan-percakapan yang terangkai dalam almanak yang kini lupa kutandai.

Agenda yang kubawa sudah penuh oleh janji. Janjiku untuk menemuimu segera. Jangan ditunda. Selalu kalimat itu yang kutulis dengan huruf besar berwarna merah dibawah setiap tanggal. Dan aku menunda-nundanya selalu. Mencoba mencari alasan agar tak terpenjara harapan semu.

Jika kamu bercermin hari ini, dan kumohon bercerminlah sejenak saja. Tataplah matamu yang berkilau itu. Di sana telah kutitipkan putik-putik bunga yang kupetik dari jambangan jiwa. Dan ketika kamu berkedip, maka akan bermekaranlah semuanya itu.

Tidak? Kamu tidak mau menyimpannya untukku?
Baiklah. Buang saja. Buang semuanya. Karena hari ini aku akan diam saja. Diam. Seperti wajahmu di halaman itu. Tersenyum kepada semua orang, kepadaku, kepada semua yang datang beristirahat di berandamu.

Aku masih termangu. Tanganku akan kusuruh berhenti mengetikkan kata-kata.
Cukup sekian. Karena nanti aku akan semakin merindukanmu. Karena demikianlah adanya.

5 comments:

denny said...

harusnya ko jadi laki2 mok, biar cewek2 pada klepek2...kaya ikan kurang aer

Adhini Amaliafitri said...

biarkan rindu itu memenuhi rongga hatimu sampe perlahan meredup dengan sendirinya. sometimes, ketika dilanda kerinduan luar biasa. kegiatan menulis jadi lebih mengalir, tumpah ruah!

aku juga kangen mampir ke blog kamu mbak enno! kekekekekk :P

Enno said...

@denny: skrg juga kan bikin klepek2 co.. yeee :P

@adhini: makasih dhini :)

Gil Nocturne, Gillian shie said...

hmmmm, sama ama yang aku rasain sekarang.......


aku jatuh cinta dan aku patah hati...

hmmmm rasanya ga enak

Enno said...

@gil&gillian: ayo semangat! :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...