Tuesday, September 25, 2018

Algernon Project: Meet Demitria

Liebe Marie,

Kemarin sungguh menyenangkan! Aku bertemu seorang gadis Indonesia saat sedang berjalan-jalan di jembatan tua di atas Main River. Kami berpapasan dari arah berlawanan. Ia hampir melewatiku ketika tiba-tiba setumpuk buku yang dibawanya berjatuhan. Ia berseru dalam bahasa Indonesia, “Aduh!” Dan, aku tanpa sadar berkata, “Ya ampun!”

Sesaat kami saling pandang, lalu sama-sama tertawa.

“Senang sekali bertemu saudara setanah air!” serunya.

Kami akhirnya duduk di teras sebuah kafe, tak jauh dari Alte Mainbrucke, jembatan tua yang cantik itu. Seperti biasa, aku memesan Espresso, sementara si gadis muda memesan Caramel Machiatto.

Marie, gadis ini manis sekali. Rambutnya lurus sepundak dan matanya bulat besar seperti beruang Teddy, di wajah yang mungil berbentuk daun sirih. Kulitnya agak pucat, tetapi itu tidak menghilangkan kesan dirinya yang berkilauan dalam bias cahaya matahari sore. Ada energi positif dalam dirinya yang membuatku merasa hangat.

“Saya Demitria. Panggil saja Demi.” Ia mengulurkan tangan kepadaku. “Sekarang sedang kuliah di Universitas Würzburg.”

“Hebat.” Aku menjabat tangannya. “Jurusan apa? Teknik?”

“Sayangnya, otak saya nggak cocok dengan jurusan itu, Mbak.” Ia menyengir ceria. “Saya ambil Manajemen Bisnis. Mbak sedang melancong di Würzburg, ya? Menyusuri Romantic Road yang terkenal?”

Romantic Road, Marie. Jangan lupa bahwa kau janji akan mengajakku menyusuri rute terkenal itu setelah urusan perceraianmu dengan suamimu yang berengsek itu beres. Kita akan memulainya dari kota kecil yang cantik ini.

“Maunya sih, begitu. Tapi, sekarang prioritas utamanya pekerjaan dulu. Saya wartawan, sedang mengumpulkan bahan tulisan dari beberapa narasumber di Jerman. Salah seorang dari mereka tinggal di kota ini.”

“Mbak wartawan? Wah, keren sekali!”

Lalu, Demi bercerita kepadaku bahwa ia pernah menjadi pengantar koran saat masih sekolah di Bandung.

“Saya selalu berpikir, wartawan-wartawan itu adalah orang-orang yang hebat, yang punya kekuatan untuk mempengaruhi dunia dengan tulisan-tulisannya.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi wartawan saja?”

Ia tergelak. “Saya tidak punya bakat menulis, Mbak. Sudah mencoba, tetapi rupanya memang bukan panggilan jiwa. Tetapi, saya tetap mengagumi pekerjaan para wartawan sampai sekarang.”

Marie, gadis ini sangat menyenangkan. Ia terbuka, dan punya banyak cerita. Terutama tentang buku-buku sastra klasik yang rupanya menjadi favoritnya.

“Apa sastra klasik kesukaanmu?” tanyaku iseng. Bukan berarti aku sangat paham dengan topik itu. Aku bukan penggila sastra klasik. Namun, aku punya beberapa buku favorit, terutama karya Edgar Allan Poe.

“The Sorrows of Young Werther.”

“Ah, Goethe!” seruku. Agak sedikit bangga pada diri sendiri, karena bisa mengenali salah satu karya penulis Jerman yang satu itu.

“Mbak juga pembaca sastra?” Ia tampak takjub.

“Tidak juga,” elakku sambil terkekeh. “Hanya kebetulan pernah membaca beberapa. Wartawan kan, harus membaca bermacam-macam buku.”

Kami mengobrol banyak sepanjang sore itu. Sembari menyesap isi cangkirnya dan makan Apfelkuchen, ia bertanya padaku, sampai kapan aku berada di Würzburg. Kubilang, aku sedang menunggu seorang teman yang akan menyusul dari Berlin (yaitu kau), sekaligus menunggu dengan penuh harap narasumberku di kota ini sudah siap bercerita dan segera menghubungiku. 

Kukatakan padanya, bahwa aku punya firasat buruk tentang narasumberku itu. Bahwa aku menyesal memintanya bercerita lebih dalam dari sekedar kisah-kisah petualangan yang biasa. Wajahnya yang tak terbaca itu masih membayang di mataku. Aku takut ia tak akan pernah menghubungiku lagi. Atau, yang lebih parah, aku mendengar kabar buruk tentang dirinya dari orang lain.

Ia tersenyum padaku. “Jangan khawatir, Mbak,” ujarnya. “Kalau dia tak ingin bercerita apapun, sudah sejak awal dia menolak bertemu Mbak. Mungkin dia cuma butuh waktu untuk berpikir. Memilah-milah cerita. Menimbang-nimbang yang paling menarik.”

Aku ingin berkata, bahwa bukan itu kesan yang kudapatkan saat pertemuan kami waktu itu. Namun, kulihat ketulusan di wajah gadis ini. Ia tampak yakin pada ucapannya. Lebih dari itu, ia tampak berharap aku tidak cemas lagi.

Sungguh, Marie, kalau kau bertemu dengan gadis ini, kau pasti akan langsung menyukainya seperti aku. Keberadaannya seperti lampu jalan yang terang dan hangat di tengah kegelapan. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Berharap memiliki adik seperti dirinya. Ah, kurasa ia tak keberatan jika aku memintanya.

Marie, aku menunggu kedatanganmu di Würzburg. Aku punya firasat, kita akan menemukan banyak keajaiban di sini.

Liebe Gruβe,
- E -

....

Catatan:

Demitria adalah tokoh utama dalam novel “A Day to Remember”, yang akan diterbitkan Penerbit KataDepan.

Penggalan adegan dalam post Meet Algernon dan Meet Demitria bukanlah penggalan adegan di dalam novel tersebut, melainkan fragmen untuk mengenalkan mereka berdua kepada pembaca.

Next time, saya akan bercerita lagi tentang novel “A Day to Remember”. Tunggu, ya!

4 comments:

Alethea Yoris said...

Hallo Kak Enno, Salam kenal^^
aku Thea, aku sampe lupa pernah follow blog ini. tadi pas cek2 reading list, ada postingan ini dan jadi mampir deh.
Aku jadi penasaran sama novel A Day to Remember~ mau beli kalo nanti udah terbit :D

widi utomo said...

Hai Enno ....
Dari judulnya saja .... A Day To Remember .... menarik minat untuk dibaca, gak sabar nunggu terbitnya nich

Unknown said...

Halo Kak Enno. Keren sekali. Masih rajin menulis di blog.

Enno said...

@Thea: hai dear makasih masih mampir ke sini... tunggu novelnya ya. Makasih sebelumnyaaa ^^

@widi: hahaha.. sampai ke sini juga pak widi?

@unknown: halo.. siapakah kamu? Hehe iya tapi ga serajin dulu :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...