Friday, September 27, 2019

Author Life: Playlist Para Penulis

Setiap kali melihat seseorang sibuk bekerja di depan laptopnya di tempat publik, entah itu kafe, taman, atau perpustakaan umum, saya kagum. Soalnya, saya hanya bisa menulis dalam suasana sepi. Saya menulis di kamar, dengan pintu tertutup dan tanpa suara.

Namun, ada waktu di mana otak saya mendadak mampet karena adegan yang sulit, atau dialog yang nggak kunjung pas. Barulah saya berhenti sejenak dan memutar lagu. Ada sejumlah lagu dalam playlist ‘Kram Otak’ di laptop saya, yang bertahun-tahun tidak pernah saya ganti. Isinya juga cuma 10 lagu.

Playlist ini sudah jadi playlist kebangsaan sejak saya masih jadi jurnalis majalah. Menemani saya mengedit tulisan para reporter, menulis beragam artikel berita, dan melewati deadline yang terkadang sampai pagi.

Lalu, mari kita sebut satu lagu andalan dari semuanya itu. Yang judulnya “HOW TO SAVE A LIFE”, dinyanyikan grup musik The Fray. Lagu ini adalah lagu yang menemani saya di masa-masa terendah dalam hidup saya. Menjadi pagar ketika pikiran-pikiran buruk berdatangan. Bagi saya, lirik lagu ini seperti rintihan penyesalan seorang sahabat atau saudara terdekat yang menyesali kematian orang yang disayanginya karena drugs atau bunuh diri.

Terus nih, tiba-tiba saya jadi  kepo dong, sama playlist dua sohib saya yang juga penulis. Devania Annesya dan Helga Rif, saya colek di chat room untuk ditanya-tanya (maklum ya, mantan jurnalis). Dua-duanya penulis novel yang produktif. Karya-karya mereka malah lebih banyak dari saya. Huwow!

Ternyata Helga sama lho, dengan saya. Helga cuma punya satu playlist yang lagunya nggak pernah diganti-ganti. Sesekali bertambah kalau ada lagu baru yang enak, tapi yang jelas isi playlist lama nggak akan disingkirkan. Kata Helga, menulis sambil mendengarkan lagu-lagu yang sudah dia tahu dan hapal itu bikin nyaman.

Tahu nggak, isi playlist tetapnya itu lagu-lagunya Keris Patih semua. Pokoknya, kata Helga, lagu-lagu di playlist-nya mellow semua, yang bikin dia terhanyut waktu menulis.

Jadi, berlawanan sama saya―yang lebih suka senyap, mendengarkan lagu sambil nulis itu buat dia penting dan membantunya supaya fokus. Lagu favorit Helga di playlist-nya itu yang judulnya “DAN TERNYATA”. Ada yang tahu juga lagu ini? Saya lupa. Nanti cari di Youtube, ah. Hehe.

Nah, Anes modelnya beda lagi. Dia nggak punya playlist permanen kayak saya dan Helga. Untuk setiap novel yang sedang dia tulis, dia bikin playlist sesuai tema novelnya. Satu playlist isinya bisa sampai 25 lagu. Ckckck. Rajin banget ni anak.

Dia bilang gini, “Untuk tema pelakor, lagunya juga tentang pelakor.” Dan, saya kebayang muka dia yang lagi riweuh memilih puluhan lagu tentang pelakor. Hahahahahaha.

By the way, saya kadang-kadang juga bikin playlist sesuai tema novel yang lagi ditulis, sih. Ya, tetep aja nggak terlalu banyak berguna karena nulisnya harus sepi. Didengarnya kalau mau tidur biasanya, untuk jaga mood aja.

Kalau buat Anes, bikin playlist untuk setiap novel itu penting. Berguna untuk semacam backsound adegan. Hmm. Backsound adegan saya hanyalah kehampaan semata, guys.

Oh iya, dari puluhan lagu yang jadi playlist-nya, tetep dong Jeng Nenes punya lagu favorit. Itu adalah lagunya Coldplay, “FIX YOU”. Alasannya, mirip sama alasan saya suka lagu How to Save A Life. Liriknya itu kayak seseorang yang lagi memberi semangat untuk orang-orang yang sedang ada di titik terendah hidupnya. Lagu favorit ini nggak selalu masuk ke playlist novel kalau nggak cocok sama tema.

Baiklah. Sampai pada kesimpulan, guys. Jadi, seberapa penting playlist buat penulis? Kalau buat saya dan dua teman saya ini sih lumayan penting, ya. Bahkan untuk saya yang lebih suka menulis dalam sepi, penting juga kok.

Setahu saya, beberapa teman penulis yang lain juga ada yang suka bikin playlist buat nulis, atau punya playlist andalan yang permanen. Eh, para editor juga punya kok. Itu kemarin, Pemred KataDepan, Gita Romadhona, tiba-tiba pengin sharing playlist-nya juga katanya. Hihihi.

Semoga postingan saya ini berfaedah ya, buat orang-orang yang pengin tahu kebiasaan seorang penulis yang sedang berkarya itu bagaimana. Ya bikin playlist untuk menulis salah satunya. Semoga bisa jadi inspirasi juga buat yang teman-teman sedang  belajar menulis, bahwa mendengarkan musik juga bisa jadi obat untuk melancarkan imajinasi kamu sampai ending, lho.

Ciao!

------------------------------

Nara sumber

Devania Annesya, berdomisili di Pemalang, adalah penulis 9 novel:
Ubur-Ubur Kabur, Elipsis, Muara Rasa, X: Kenangan yang Berpulang, Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak, Maya Maia, Februari: Ecstasy, Love You More, Muse.

Helga Rif, berdomisili di Denpasar, adalah penulis 8 novel:
Gara-gara Irana jadi Arini, Menemukanmu-dalam Sebuah Kisah Cinta, Kepingan Cinta Lalu, Melepaskanmu, First Love, Di Bawah Langit yang Sama, Let Me Love You, Rahasia Duma.

Playlist tetap saya:

-How to Save A Life – The Fray
-Look After You – The Fray
-Iris – Go Go Dolls
-Run – Snow Patrol
-With You – Chris Brown
-Boulevard of Broken Dreams – Green Day
-Wake Me Up When September Ends – Green Day
-Demons – Imagine Dragon
-Here Without You – 3 Doors Down
- Apologize - One Republic

Friday, August 2, 2019

Algernon Project: Marie's Letter

Liebe Elinor,

Aku sudah membaca surat-suratmu, dan maafkanlah baru bisa membalas dengan surat lagi saat ini. Meskipun sudah kuberikan beberapa tanggapanku mengenai cerita-ceritamu selama di Würzburg melalui Whatsapp.

Kau tahu, masalah perceraianku sangat rumit karena jumlah pemberian tunjangan yang masih belum menemukan kata sepakat. Si berengsek itu sama sekali tidak mau memberikan jumlah yang kuminta untuk Celia, dengan alasan aku yang minta bercerai. Ayah macam apa yang begitu pelit kepada anaknya?

Dengan segala keruwetan hidupku akhir-akhir ini, aku menjadi sangat merindukan Würzburg. Aku teringat bangunan kokoh kampusku, Julius-Maximilian Universität, yang mirip istana. Lorong-lorongnya yang berangin, suara langkah yang menggema berirama, dan kelas-kelas yang penuh diskusi-diskusi menarik.

Aku teringat malam-malam musim panas yang diisi dengan gelak tawa teman-temanku dan bergelas-gelas bir. Matahari terbenam di cakrawala yang kulihat dari atas benteng Marienberg, dan pemandangan jembatan tua di atas Sungai Main, yang kau bilang kau sukai itu.

Aku yakin kau sudah mengunjungi Würzurg Residenz. Istana itu sangat luar biasa, bukan? Pertama kali aku datang ke sana, aku hampir terjengkang kaget karena keindahan aula-aulanya. Aula dengan lukisan dinding yang sangat besar karya Tiepolo itu, bagaimana pendapatmu? Mulutmu ternganga lebar saat melihatnya, tidak?

Sayang sekali, kau datang setelah Mozartfest sudah berakhir. Itu festival musik klasik tahunan yang seluruhnya memainkan musik-musik gubahan Mozart. Katanya sih, dulu Mozart pernah beberapa kali mengadakan konser pianonya di Würzburg. Ia dan istrinya sangat menyukai kota itu.

Nanti, aku akan mengajakmu juga ke Sommerhausen, sebuah desa kuno yang dikelilingi perkebunan anggur. Kita bisa mencicipi silver wine khas Franconia yang sangat terkenal itu. Mengunjungi beberapa perkebunan anggur dan mencoba untuk belajar memanen anggur di sana. Seru, kan?

Di dekat sana juga ada hutan. Musim gugur di pedesaan Jerman selalu ditandai dengan masakan-masakan berbahan jamur hutan, juga kue-kue labu yang lezat. Kurasa berat badanmu akan bertambah beberapa kilo sepulang dari Sommerhausen, Elie.

Tidak, jangan salahkan aku. Kaulah yang selalu tak bisa menahan diri dari godaan makanan enak.

Sungguh, deh. Aku juga rindu sekali toko-toko tua di Altstadt dan membeli pernak-pernik untuk suvenir. Dan, tentang toko buku bernama Das Wunder yang kau sebutkan di suratmu yang terakhir itu? Hei, aku tahu toko itu, dan kau akan terkejut kalau kuberitahu siapa lelaki tua pemiliknya yang bernama Jurgen. Ah, tidak.

Aku tidak akan memberitahumu melalui surat. Jadi, selamat penasaran!

Namun, ada satu hal yang paling menggelitik perasaanku, Elinor. Jujur saja, aku sangat terkejut ketika kau bercerita tentang mantan teman kuliahku, Algernon Katz. Aku merasa kau menceritakan seseorang yang asing, yang tak pernah kukenal. Bukan temanku Si Jenius Gerry. Apakah ia memang sudah berubah sebanyak itu?

Apa yang kau bilang tentang sikap yang menjaga jarak itu membuatku terheran-heran. Apakah kau salah orang? Namun, kurasa tidak. Sangat jarang orang Jerman bernama Algernon di kota kecil semacam Würzburg. Itu bukan nama Jerman. Tidak, tidak. Aku pasti tidak salah memberi petunjuk.

Algernon Katz yang kukenal adalah seseorang yang hangat dan menyenangkan. Ia pandai berkelakar dan sedikit jail. Cita-citanya waktu kami masih kuliah adalah membangun gedung-gedung moderen di seantero Jerman. Dan, itu sudah terwujud, kurasa.

Ia terkesan sombong dan ambisius, tetapi  bisa dimaklumi karena ia memang berotak cemerlang. Tentu saja, sebagai temannya, aku akan menyangkal bahwa ia sombong hanya karena sebuah sesumbar. Tidak, kok. Ia cukup terkenal di kampus karena kebaikan hatinya. Banyak gadis tertarik padanya, tetapi ia menanggapi mereka dengan biasa saja.

Ia punya dua orang sahabat. Rolf, dari angkatan kami. Dan satu lagi, seorang gadis yang sangat cantik, yang berkuliah di tempat lain. Aku selalu melihat mereka bertiga kemana-mana.

Apakah sudah terlalu banyak perubahan yang tidak kusadari selama ini? Aku terlalu sibuk dengan duniaku yang riuh oleh pertengkaran dan segala upaya untuk menyelamatkan Celia dari semua ini. Kurasa, kau benar, Elinor. Aku harus segera menyelesaikan urusan ini, dan bersama Celia menyusulmu segera ke kota yang pernah menjadi rumah keduaku―Würzburg.

Omong-omong, apakah kau masih belum bertemu lagi dengan Algernon? Kau tampak sangat mencemaskan lelaki itu. Perlukah ia kuhubungi lagi dan mendesaknya untuk setuju membantumu tanpa berbelit-belit?

Memang sangat disayangkan kalau ia tak bisa menjadi narasumbermu. Perjalanannya ke berbagai belahan dunia itu pastilah sangat menarik, karena yang kudengar dari beberapa teman, ia mengunjungi destinasi-destinasi yang berisiko dan berbahaya. Sudah gila dia rupanya.

Oh, ya. Apakah kau sudah bertemu lagi dengan mahasiswi dari Indonesia, yang kau bilang sangat manis dan ingin sekali kau jadikan adik itu? Selalu menyenangkan bertemu dengan saudara setanah air saat kita sedang berada di negeri yang asing dan sendirian. Temuilah gadis itu selagi aku masih belum datang. Aku yakin, ia bisa menjadi narasumbermu untuk artikel yang lain. Tentang kehidupan mahasiswa perantauan, misalnya. Kau kan, banyak ide.

Elinor, aku harus menjemput Celia di rumah ibuku. Aku sudah janji akan mengajaknya berjalan-jalan hari ini. Kuharap kau masih bersabar menunggu kedatanganku menyusulmu.
Dan, tentang Algernon Katz, aku akan mencoba mengiriminya e-mail untuk membujuknya buka mulut. Haha.

Selamat bersenang-senang di Negeri Dongeng, sahabatku sayang!

Xoxo,
Marie

Wednesday, July 17, 2019

Algernon Project: Toko Buku Berpintu Mahoni

Liebe Marie,

Tahukah kau, betapa senangnya hatiku kemarin? Aku menemukan sebuah toko buku kecil yang menarik.

Itu toko buku yang dari depannya saja sudah terlihat unik. Berjendela besar dengan lis-lis hitam, tetapi pintunya terbuat kayu kokoh sewarna mahoni. Ia seperti memanggil-manggilku untuk masuk ke dalamnya. Nama tokonya juga membuatku bertanya-tanya. Das Wunder.

Aku masuk, tentu saja. Bunyi lonceng di atas pintu mengiringi langkahku, dan memunculkan satu sosok lelaki setengah baya berkumis tebal dari balik meja kasir besar.

“Selamat datang!” Senyumnya lebar dan tulus di balik kumisnya. “Silakan melihat-lihat. Mungkin ada satu dua buku yang berjodoh dengan Anda, fräulein.”

Lelaki yang periang dan ramah. Orang Jerman paling periang dan ramah yang pernah kutemui sejauh ini, selain kau tentu saja.

Keramahannya itu membawa kami dalam sebuah percakapan. Ia sangat senang ketika tahu aku berasal dari Indonesia.

“Ah, salah satu pelanggan saya juga seorang gadis Indonesia!” serunya. “Ia sedang berkuliah di sini. Mungkin Anda kenal.”

“Mungkin juga tidak,” sahutku, tertawa. Aku baru beberapa hari di kota ini, dan tentu saja tak mungkin aku pernah bertemu semua orang Indonesia yang tinggal di Würzburg,  maupun yang sedang berwisata. Hanya satu orang setanah air yang pernah kutemui. Gadis yang bertabrakan denganku di jembatan Alte Mainbrücke.

Namun, tak kusangka, si pemilik toko menyebut namanya. “Ah, gadis itu namanya Demitria. Ia perempuan muda yang sangat menyenangkan. Nona agak sedikit mirip dengannya, kukira. Apakah semua gadis Indonesia bermata coklat dan murah senyum?”

Ia bergurau tentu saja. Sedang mencoba memujiku dengan cara Jermannya yang sedikit kaku. Seperti kau, Marie. Aku selalu mengejek humormu garing dan kurang lucu.

“Gadis Indonesia bernama Demitria yang Anda maksud itu, yang senang membaca buku-buku sastra klasik?”

Mata lelaki tua itu melebar. “Ya, dia. Nona mengenalnya rupanya!”

“Kami bertemu tak sengaja beberapa hari lalu, lalu mengobrol sebentar. Anda benar, gadis itu sangat menyenangkan. Saya berharap bisa bertemu lagi dengannya kapan-kapan selagi masih berada di kota ini.”

“Ia bekerja sambilan di sebuah restoran tak jauh dari Alte Mainbrücke, nona. Kalau Anda pergi ke sana, mungkin bisa bertemu dengannya jika sedang gilirannya bekerja. Saya merekomendasikan restoran itu. Namanya Alte Stauss. Pemiliknya salah satu teman karib saya. Tetapi, percayalah. Bukan karena hubungan pertemanan kami, saya memuji masakan di sana. Bagaimana pun, nona harus mencoba beberapa makanan lokal Franconia terenak mereka.”

Makanan! Aku selalu tertarik pada makanan enak. Tolong catatkan untukku, Marie. Siapa tahu aku lupa nama restoran itu. Jika aku tak sempat berkunjung ke sana segera, mungkin kita bisa pergi ke sana setelah kau tiba di sini.

Setelah itu, sikapnya kepadaku semakin ramah. Aku memberitahu namaku, dan ia memintaku memanggilnya Jurgen. Lalu, menuntunku ke rak-rak buku yang menyimpan koleksi terbaiknya. “Orang-orang mengira, merekalah yang memilih buku yang hendak mereka baca. Mereka keliru, Fräulein Elinor. Bukulah yang memilih pembacanya. Ketika kau memegang sebuah buku, ia akan memberikan padamu halaman-halaman yang kau butuhkan atau tidak kau butuhkan. Ketika buku itu diletakkan kembali, buku itu yang menyuruhmu pergi.”

Aku tidak terlalu mengerti apa yang ia katakan, Marie. Aku tidak pandai berfilsafat. Namun begitu, lelaki ini sangat baik hati. Ia bertanya padaku jenis buku kesukaanku. Ketika ia tahu aku tidak terlalu lancar berbahasa Jerman, ia menumpuk buku-buku berbahasa Inggris yang sekiranya sesuai dengan minatku.

“Datanglah ke sini kalau ingin membaca buku, selama dirimu sedang berada di Würzburg, fräulein,” ujarnya sambil meletakkan novel Othello-nya Shakespeare di tumpukan paling atas.

“Oh!” Aku meraih buku itu dan tersenyum lebar. Seorang sepupuku menyukai buku-buku Shakespeare. Suatu hari, Othello miliknya hilang entah dipinjam siapa, dan ia menangis kesal di depanku. Buku ini mungkin akan menjadi oleh-oleh yang membahagiakan untuknya. “Saya ambil yang ini.”

“Pilihan yang bagus,” komentarnya senang. Ia membungkuskan buku itu dengan beberapa buku lain yang kupilih sebelumnya.

“Bolehkah saya bertanya tentang nama toko buku ini? Mengapa namanya Das Wunder? Apa yang begitu ajaib dari tempat ini?” tanyaku di depan meja kasir saat hendak membayar.

“Nona yang baik,” ia tersenyum. “Sebuah buku adalah keajaiban. Di dalamnya tersimpan petualangan-petualangan yang bisa mengubah hidupmu.”

“Wah, tentang itu saya setuju.” Kukatakan itu sembari menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar. “Terima kasih, Jurgen. Menyenangkan mengobrol denganmu. Saya akan datang lagi kapan-kapan.”

“Senang bertemu denganmu juga, Fräulein Elinor. Kedatanganmu kembali saya nantikan. Anda adalah gadis Indonesia kedua yang saya kenal, dan sama menyenangkannya.”

Aku tersenyum dan melambaikan tangan sebelum berbalik dan keluar dari toko buku itu. Di sisi luar pintunya, angin musim gugur yang dingin menerpaku. Aku sangat nyaman berada di dalam sana, dan ingin lebih lama mengobrol dengan lelaki tua itu, jika saja tak punya janji untuk bertemu narasumber.

Si pemilik toko buku itu hangat dan baik hati, tetapi tampak agak kesepian. Apakah ia punya keluarga? Ia seperti seorang ayah atau paman yang penyayang. Aku tak berani menanyakannya, karena ini bukan di negaraku sendiri yang terbiasa dengan keingintahuan pribadi.

Marie, lekaslah kemari. Kurasa, banyak sekali hal yang bisa kuceritakan dan kutuliskan dari kota kecil yang cantik ini. Tidak hanya tentang lanskapnya, bangunan-bangunan kunonya, tetapi juga tentang beberapa orang yang kukenal baru-baru ini.

Sepertinya aku akan makan di Alte Stauss nanti malam. Siapa tahu bertemu Demitria lagi. Aku berharap urusanmu di Berlin segera tuntas. Lekas tendang lelaki itu dari hidupmu, Marie. Aku tak sanggup lagi melihatmu menerima kekejamannya.
Salam sayang dari kota negeri dongeng bernama Würzburg. Akan kusurati kau lagi dengan cerita baru nanti.

PS: Aku belum mendengar kabar apa pun dari teman kuliahmu. Algernon Katz menghilang bagai ditelan bumi, meskipun bukan salahnya juga tak segera mengabari. Kami memang tidak menyepakati tanggal pertemuan berikutnya. Aku harus menunggu. Namun, selagi menantikan kabar darinya, insting jurnalistikku menumbuhkan rasa penasaranku terhadapnya.

Liebe Gruβe,
Elinor

----------

Disclaimer

Hai teman-teman Blogger!
Tahukah kalian bahwa novel terbaru saya "A DAY TO REMEMBER" akan segera terbit?
Yes! Algernon Project mewujud novel dan segera bisa dibaca.

Pre Order-nya sudah dimulai dari 12-26 Juli 2019. Ada special offer lho. Buku bertanda tangan dan tas serut cantik.

Pemesanan bisa melalui saya atau toko buku-toko buku online yang terdaftar. Untuk list toko buku online-nya silakan meluncur ke web, facebook dan Instagram Penerbit KataDepan, ya.

Untuk PO melalui saya, ada HADIAH TAMBAHAN, yaituuu.. jeng jeng!
Satu set (berisi 3 lembar) POST CARD yang didesain khusus oleh Algernon dan Demitria untuk para pembaca tersayang.
Yang ingin mendapatkannya, bisa mengisi form pemesanan di link:
http://bit.ly/PreOrderADTR
Jumlahnya terbatas.

Yuk buruan PO sebelum kehabisan!

Regards,
Enno

Tuesday, September 25, 2018

Algernon Project: Meet Demitria

Liebe Marie,

Kemarin sungguh menyenangkan! Aku bertemu seorang gadis Indonesia saat sedang berjalan-jalan di jembatan tua di atas Main River. Kami berpapasan dari arah berlawanan. Ia hampir melewatiku ketika tiba-tiba setumpuk buku yang dibawanya berjatuhan. Ia berseru dalam bahasa Indonesia, “Aduh!” Dan, aku tanpa sadar berkata, “Ya ampun!”

Sesaat kami saling pandang, lalu sama-sama tertawa.

“Senang sekali bertemu saudara setanah air!” serunya.

Kami akhirnya duduk di teras sebuah kafe, tak jauh dari Alte Mainbrucke, jembatan tua yang cantik itu. Seperti biasa, aku memesan Espresso, sementara si gadis muda memesan Caramel Machiatto.

Marie, gadis ini manis sekali. Rambutnya lurus sepundak dan matanya bulat besar seperti beruang Teddy, di wajah yang mungil berbentuk daun sirih. Kulitnya agak pucat, tetapi itu tidak menghilangkan kesan dirinya yang berkilauan dalam bias cahaya matahari sore. Ada energi positif dalam dirinya yang membuatku merasa hangat.

“Saya Demitria. Panggil saja Demi.” Ia mengulurkan tangan kepadaku. “Sekarang sedang kuliah di Universitas Würzburg.”

“Hebat.” Aku menjabat tangannya. “Jurusan apa? Teknik?”

“Sayangnya, otak saya nggak cocok dengan jurusan itu, Mbak.” Ia menyengir ceria. “Saya ambil Manajemen Bisnis. Mbak sedang melancong di Würzburg, ya? Menyusuri Romantic Road yang terkenal?”

Romantic Road, Marie. Jangan lupa bahwa kau janji akan mengajakku menyusuri rute terkenal itu setelah urusan perceraianmu dengan suamimu yang berengsek itu beres. Kita akan memulainya dari kota kecil yang cantik ini.

“Maunya sih, begitu. Tapi, sekarang prioritas utamanya pekerjaan dulu. Saya wartawan, sedang mengumpulkan bahan tulisan dari beberapa narasumber di Jerman. Salah seorang dari mereka tinggal di kota ini.”

“Mbak wartawan? Wah, keren sekali!”

Lalu, Demi bercerita kepadaku bahwa ia pernah menjadi pengantar koran saat masih sekolah di Bandung.

“Saya selalu berpikir, wartawan-wartawan itu adalah orang-orang yang hebat, yang punya kekuatan untuk mempengaruhi dunia dengan tulisan-tulisannya.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tidak jadi wartawan saja?”

Ia tergelak. “Saya tidak punya bakat menulis, Mbak. Sudah mencoba, tetapi rupanya memang bukan panggilan jiwa. Tetapi, saya tetap mengagumi pekerjaan para wartawan sampai sekarang.”

Marie, gadis ini sangat menyenangkan. Ia terbuka, dan punya banyak cerita. Terutama tentang buku-buku sastra klasik yang rupanya menjadi favoritnya.

“Apa sastra klasik kesukaanmu?” tanyaku iseng. Bukan berarti aku sangat paham dengan topik itu. Aku bukan penggila sastra klasik. Namun, aku punya beberapa buku favorit, terutama karya Edgar Allan Poe.

“The Sorrows of Young Werther.”

“Ah, Goethe!” seruku. Agak sedikit bangga pada diri sendiri, karena bisa mengenali salah satu karya penulis Jerman yang satu itu.

“Mbak juga pembaca sastra?” Ia tampak takjub.

“Tidak juga,” elakku sambil terkekeh. “Hanya kebetulan pernah membaca beberapa. Wartawan kan, harus membaca bermacam-macam buku.”

Kami mengobrol banyak sepanjang sore itu. Sembari menyesap isi cangkirnya dan makan Apfelkuchen, ia bertanya padaku, sampai kapan aku berada di Würzburg. Kubilang, aku sedang menunggu seorang teman yang akan menyusul dari Berlin (yaitu kau), sekaligus menunggu dengan penuh harap narasumberku di kota ini sudah siap bercerita dan segera menghubungiku. 

Kukatakan padanya, bahwa aku punya firasat buruk tentang narasumberku itu. Bahwa aku menyesal memintanya bercerita lebih dalam dari sekedar kisah-kisah petualangan yang biasa. Wajahnya yang tak terbaca itu masih membayang di mataku. Aku takut ia tak akan pernah menghubungiku lagi. Atau, yang lebih parah, aku mendengar kabar buruk tentang dirinya dari orang lain.

Ia tersenyum padaku. “Jangan khawatir, Mbak,” ujarnya. “Kalau dia tak ingin bercerita apapun, sudah sejak awal dia menolak bertemu Mbak. Mungkin dia cuma butuh waktu untuk berpikir. Memilah-milah cerita. Menimbang-nimbang yang paling menarik.”

Aku ingin berkata, bahwa bukan itu kesan yang kudapatkan saat pertemuan kami waktu itu. Namun, kulihat ketulusan di wajah gadis ini. Ia tampak yakin pada ucapannya. Lebih dari itu, ia tampak berharap aku tidak cemas lagi.

Sungguh, Marie, kalau kau bertemu dengan gadis ini, kau pasti akan langsung menyukainya seperti aku. Keberadaannya seperti lampu jalan yang terang dan hangat di tengah kegelapan. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Berharap memiliki adik seperti dirinya. Ah, kurasa ia tak keberatan jika aku memintanya.

Marie, aku menunggu kedatanganmu di Würzburg. Aku punya firasat, kita akan menemukan banyak keajaiban di sini.

Liebe Gruβe,
- E -

....

Catatan:

Demitria adalah tokoh utama dalam novel “A Day to Remember”, yang akan diterbitkan Penerbit KataDepan.

Penggalan adegan dalam post Meet Algernon dan Meet Demitria bukanlah penggalan adegan di dalam novel tersebut, melainkan fragmen untuk mengenalkan mereka berdua kepada pembaca.

Next time, saya akan bercerita lagi tentang novel “A Day to Remember”. Tunggu, ya!

Sunday, September 23, 2018

Algernon Project: Meet Algernon

Liebe Marie,

Aku sudah bertemu dengan lelaki yang kau rekomendasikan itu di sebuah kafe di Altstadt―kawasan kota paling tua di Würzburg. Aku datang sepuluh menit lebih awal dari waktu janjian. Karena, yah, kalian orang Jerman kan punya punktlichkeit alias budaya tepat waktu. Aku tidak mau mencoreng nama bangsa dan negaraku di mata lelaki ini, kalau aku sampai datang terlambat. Jangan sampai ia mengira bangsa Indonesia adalah bangsa yang tidak menghargai waktu (walaupun kadang-kadang, kupikir itu ada benarnya juga).

Pokoknya, kemarin itu akhirnya aku datang ke kafe itu. Mencari-cari sosoknya.

Kau bilang padaku, ia jangkung dan tampan. Ketampanan yang menyolok mata (yang membuatku pura-pura muntah saat kau mengatakannya dengan lebay). Aku berdiri dekat meja bar, menjulurkan leher panjang-panjang ke seantero ruangan (yang untungnya tidak terlalu ramai), sampai seseorang yang duduk di kursi bar, tak jauh dari posisiku berdiri menyapaku dalam bahasa Inggris.

“Are you the Indonesian journalist?”

Aku menoleh, mendapati seseorang lelaki tengah menatapku seraya beranjak dari kursinya. Kakinya begitu panjang dan ketampanannya menyolok mata. Oh, sial, Marie! Kenapa kau tidak bilang dia lebih mirip orang Asia? Matanya sipit dengan alis seperti golok, kulitnya putih tapi tidak pucat kemerahan. Rambutnya hitam seperti bulu gagak.  Sementara, sejak awal, aku mencari-cari sosok lelaki bule.

“Ja bin ich. Bist du Algernon Katz?” Aku harus tengadah saat bicara dengannya. Badan pendek menyebalkan!

Sebelah alisnya terangkat, seolah tak mengira aku menyahut dalam bahasa Jerman. Kemudian, ia mengangguk, dan memberi isyarat agar mengikutinya ke sebuah meja yang jauh dari keriuhan. “Kita bisa bicara di sini. Tidak keberatan, kan? Oh, dan panggil aku Algernon. Tidak perlu bersikap formal.”

Dia sopan sekali, Marie. Soal yang ini kau juga tidak bilang padaku. Kami berdua memesan Espresso. Lalu kukatakan padanya, bahwa sebaiknya aku menjelaskan maksudku menemuinya.

“Ich weiβ das. Marie Schneider sudah bilang padaku di telepon. Katanya, kau sedang mengumpulkan cerita-cerita perjalanan yang menarik dari seluruh dunia untuk bahan tulisanmu.”

“Das stimmt.” Aku mengangguk. “Marie bilang, selama bertahun-tahun kau berkeliling ke banyak negara dan membaur dengan orang-orang lokal. Kau menantang maut dengan mencoba berbagai hal ekstrim di negara-negara itu. Menurutku, itu keren sekali.”

Espresso kami sudah datang. Ia tidak segera menjawab, melainkan memperhatikan isi cangkirnya, Marie. Wajahnya adalah wajah paling tak terbaca yang pernah kulihat, dari begitu banyak orang yang kutemui sepanjang karirku sebagai wartawan. Sekilas aku melihat sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah. Entah kenapa, ada aura kesedihan yang kurasakan dari dirinya.

“Itu sama sekali tidak keren.” Akhirnya dia menjawab. Mengalihkan tatapannya dari cangkir pada entah apa di belakang punggungku. Lalu, aku menyadari sesuatu. Matanya. Mata hitamnya yang menerawang itu, seperti tak memiliki cahaya. Semakin lama aku menatapnya, aku seperti terisap ke dalam terowongan gelap dan sunyi. Megap-megap kehabisan udara. Sihir apa ini?

Oh, hentikan! Aku memarahi benakku yang terlalu tinggi berimajinasi. Jangan menganggap pria menarik ini seperti penyihir!

“Kalau boleh jujur, aku sebenarnya enggan menjadi narasumber. Aku tidak terlalu pandai bercerita tentang diri sendiri, asal kau tahu. Marie berhasil membujukku. Itu memang keahliannya sejak dulu. Ia bilang, kau wartawan yang sudah sangat berpengalaman dan penulis yang handal. Aku mempercayai pendapat Marie. Karena itu, aku setuju untuk bertemu denganmu.”

“Danke,” sahutku. “Semoga tulisanku kelak tidak akan mengecewakanmu. Ceritakan saja padaku perjalanan yang menurutmu paling menarik.”

“Entahlah. Aku sudah pergi ke banyak tempat. Yang terakhir adalah tinggal di Afrika selama enam bulan. Aku tidak tahu apakah itu akan menarik buat orang lain.”

Entah bagaimana, suatu pikiran terlintas begitu saja setelah aku bersamanya selama beberapa menit yang berjalan. Tidak, Marie. Aku tidak ingin cerita-cerita petualangannya. Itu bisa kudapatkan nanti dari narasumber-narasumberku yang lain. Dari lelaki ini, yang dirinya tampak begitu kompleks, aku ingin cerita yang lain. The story behind the adventures.

Ketika itu kukatakan padanya, ia menatapku lama sekali. Kupikir ia akan marah, karena tiba-tiba saja terowongan di matanya menjadi kumparan. Mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuatku menggigil. Aku ingin berkata padanya, ‘hentikan!’ Namun, mulutku seperti terkunci. Kau yakin, mantan teman kuliahmu ini bukan dukun atau penyihir, Marie? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat depresi saat bersamanya?

Lalu ia berkata, “Kurasa, kalau kau ingin cerita semacam itu dariku, kau harus menunggu. Kau ingin tahu kenapa aku melakukan perjalanan-perjalanan berbahaya? Kau akan mengetahuinya, kalau kau sedikit bersabar.”

“Kenapa aku harus menunggu? Kenapa tidak sekarang saja kau ceritakan padaku, Algernon?”

“Kalau tidak begitu, di mana letak keseruannya? Bukankah lebih hebat jika ada unsur suspense di dalamnya? Orang-orang menyukai twist ending, bukan?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu. Berapa lama aku harus menunggu?”

Ia tersenyum. Senyum yang begitu sendu.

Oh, Marie! Tiba-tiba aku mendengar tanda bahaya berdering di benakku. Aku seperti punya firasat buruk saat melihat senyum itu! Suspense apa? Twist ending apa?

Kuharap, tak akan terjadi apa-apa. Kuharap, ketakutanku tak beralasan, karena aku hanya sangat terpesona padanya sampai berhalusinasi. Kuharap, aku tak harus menunggu kabar darinya terlalu lama, untuk mengetahui segala alasan yang ia simpan. Bitte, Gott.

Liebe Gruβe,
- E -

**Catatan Penulis

Algernon adalah tokoh utama pria di dalam novel terbaru saya “A Day to Remember”, yang akan diterbitkan Penerbit KataDepan.

Sungguh menyenangkan, akhirnya mendapatkan judul yang final, setelah selama ini hanya sebagai Algernon Project saja.

Nantikan, tinjauan-tinjauan lainnya tentang A Day to Remember di blog ini. Terima kasih.

Bahasa:
*Ja bin ich. Bist du Algernon Katz? = Ya, saya. Apakah kamu Algernon Katz?
*Ich weiβ das = Aku tahu itu
*Stimmt = benar
* Liebe Gruβe = salam sayang
*Bitte, Gott = Tolong, Tuhan

Wednesday, October 4, 2017

[Allure] Lelaki yang Entah Datang dari Mana

Aku memandangi meja di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya. Ada seseorang duduk di sana, sendirian saja. Cangkir kopi di atas mejanya masih mengepul, baru saja diantar pramusaji. Itu cangkir kopinya yang ketiga.

Kau tahu, aku bukan orang yang suka memata-matai orang lain dan ikut campur urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan diriku, kan? Aku biasanya duduk diam di meja favoritku, di sebuah sudut yang lain yang berseberangan dengan sudut di sana itu. Aku biasa mengabaikan sekelilingku dan menulis kata demi kata di laptop merah kesayanganku.

Namun, sudah seminggu ini, aku tak bisa menghindari pemandangan di sebelah sana itu. Seorang lelaki, yang telah menjadikan meja itu sebagai meja favoritnya di kafe itu, sebagaimana kutasbihkan meja ini sebagai favoritku. Tujuh hari yang panjang, dan ia hanya duduk di sana tanpa orang lain menghampirinya. Yang dilakukannya selain meneguk bercangkir-cangkir kopi adalah mencoret-coret lembaran-lembaran tisue.

Ia akan pergi menjelang senja. Bangkit perlahan dari kursinya, menepuk-nepuk celana jinsnya dan tercenung sejenak sambil menatap ke luar jendela. Bisa kulihat gerak pelan bahunya, seolah-olah ia menghela napas dan menghembuskannya kuat-kuat. Lalu, ia akan menghampiri meja bar dan bertanya apakah ia bisa membeli secangkir kopi dan beberapa muffin untuk dibawa pulang.
Dalam rutenya ke pintu keluar, ia akan melewati mejaku. Mengangguk sedikit kepadaku--karena lagi-lagi aku terlambat mengalihkan tatapanku dari sosoknya. Ia tahu aku memandanginya, dan itu membuatku mengumpati diri sendiri.

Awalnya, aku tak tahu siapa dirinya. Di hari pertama itu, kulihat beberapa pengunjung kafe diam-diam menoleh padanya dan mulai berbisik-bisik satu sama lain. Wajah-wajah penasaran bercampur dengan wajah-wajah kesal dan tak suka. Sungguh membuatku heran.
Memangnya siapa dia? Kenapa orang-orang tampak begitu kesal melihatnya? Beberapa bahkan diam-diam mengacungkan jari tengah ke arah lelaki itu. Aku mengerutkan kening. Dosa apa yang dilakukan lelaki itu sampai harus diperlakukan begitu?

Di hari kedua, aku mendapatkan jawabannya dari beberapa pramusajiku.
"Oh, masa Kakak tidak tahu?" seru mereka. "Namanya menghiasi berita selama dua bulan belakangan ini." Seorang dari mereka menunjukkan laman sebuah situs berita dari smartphone-nya.
"Oh." Cuma itu komentarku setelah membaca isi berita dan mengetahui siapa lelaki itu.
"Seharusnya, dia kita larang datang ke kafe ini. Pengunjung lain jadi nggak nyaman, Kak."

Kau tahu, aku membenci segala bentuk tindakan diskriminasi, kan? Makanya, kubiarkan saja lelaki itu menghabiskan waktunya di kafeku. Aku tidak berhak melarang-larang orang lain menikmati kebahagiaannya, sesepele apa pun itu. Aku memang pemilik kafe ini, kusediakan kafe ini bagi orang-orang yang membutuhkan tempat berlindung dari kejamnya hidup sehari-hari. Kusiapkan apa yang membuat mereka nyaman dan senang. Lantas, jika lelaki itu menemukan kenyamanan dan kesenangannya dengan duduk di sudut sana sambil meneguk bercangkir-cangkir kopi, apakah aku berhak melarangnya? Tentu tidak, bukan? Jadi, kubiarkan saja ia di sana. Pengunjung-pengunjung picik yang merasa terusik boleh mencari kafe lain.

Kau akan merasa keheranan setengah mati, kalau tahu siapa lelaki itu, dan kenyataan bahwa aku malah bersikap lunak kepadanya.
Namun, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Tidak sekarang. Jangan. Belum waktunya. Aku punya firasat, ia tidak seburuk yang dikatakan orang.

"Permisi," sebuah suara membuyarkan pikiranku. Aku mendongak dari keyboard laptopku. Sepasang mata coklat gelap menatap sejajar dengan mataku. 
Lelaki di sudut seberang itu tengah membungkuk dan mengambil sesuatu di dekat kakiku. Diletakkannya benda itu di mejaku. 
"Pulpenmu jatuh."
Aku tertegun sejenak, lalu hanya bisa menjawab, "Oh." Reaksi tolol, yang sedetik kemudian kusesali.
Lelaki itu sudah beranjak, berjalan menuju pintu. Aku tersadar dan memanggilnya.
"Tunggu!"
Ia menoleh.
"Anu..., terima kasih."Aku menelan kegugupanku. Lalu, melambaikan tangan ke arah jendela, yang menyuguhkan pemandangan hujan sore yang berkilau dalam sorot lampu jalan. "Di luar hujan. Kami meminjamkan payung untuk pelanggan setia kafe."

Ia mengerutkan kening. Sepertinya, belum menyadari bahwa aku pemilik kafe ini. Kemudian, ia mengangguk. "Terima kasih tawarannya. Tapi saya suka hujan." Ia meneruskan langkahnya menuju pintu keluar, lalu menghilang ke dalam senja yang berhujan.

Lelaki itu, entah dari mana datangnya dan kemana ia pulang. Semoga ia tidak kena flu. Aku ingin melihatnya lagi besok, duduk di sudut dekat jendela itu.


pic from here

Wednesday, April 5, 2017

Algernon Project: About Their Names

Sebenarnya, pemicu terbesar yang menggerakkan saya langsung menulis tanpa pikir panjang, adalah dua nama yang melekat di otak saya sejak masih kecil.

ALGERNON dan DEMITRIA.

Saya sangat menyukai dua nama itu, terutama Algernon. Itu adalah nama yang unik dan antik. Berasal dari bahasa-bahasa kuno.

Algernon berasal dari bahasa Normandy France, yang artinya 'with beard'.
Meski tak pernah saya membayangkan seorang pria berjanggut saat menyebut nama itu. Yang saya bayangkan, justru remaja  cerdas, tinggi besar agak gendut bernama Frederick Algernon Trotteville, yang dijuluki Fatty oleh teman-temannya.

Yes, pertama kalinya saya tahu nama Algernon dari serial Pasukan Mau Tahu-nya Enid Blyton, penulis favorit yang buku-bukunya menemani saya bertumbuh. Dari seorang anak kecil pengkhayal menjadi cewek remaja tomboy yang doyan keluyuran, lalu orang dewasa yang keras kepala, yang masih tetap pengkhayal dan doyan keluyuran.

Nama Algernon itu klasik, meskipun tidak praktis dilafalkan. Baru saya sadari kemudian, ternyata sejak kecil saya sudah suka dengan segala hal berbau jadul, vintage dan antik. Haha.

Lalu gimana dengan Demitria?

Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mendengar nama itu dan langsung menyukainya. Tapi sekitar 10 tahun yang lalu, barangkali lebih, saya membuat blog terkunci yang isinya adalah bab-bab awal novel dengan tokoh bernama Demitria. Novel itu tidak terselesaikan, karena saya tak bikin outline sama sekali. Terlupakan, tetapi nama tokohnya tetap saya sukai.

Dalam draft Algernon Project juga ada nama Pip. Itu nama yang saya sukai juga. Setiap pembaca setia buku-buku Ibu Guru Blyton pasti tahu siapakah Pip itu.
Kuncinya masih di serial Pasukan Mau Tahu.

Demikianlah, suatu pagi yang dingin berkabut di sebuah kampung (yang bagi saya adalah tempat yang sangat menyebalkan), di sudut Jawa Barat, dua nama yang puluhan tahun mengendap di dalam benak saya itu mengetuk-ngetuk minta keluar.
Seperti saya, mereka sepertinya jatuh cinta pada Würzburg, yang saya baca di internet beberapa hari sebelumnya.

Maka, saya menciptakan takdir untuk pertemuan mereka di sana.
Algernon yang memandang hidup dengan pahit dan Demitria yang selalu optimis.

Sesungguhnya, proses mewujudkan mereka adalah pembelajaran baru lagi bagi saya.

Pertama, saya menulis tanpa outline (dan saya jadi tahu bahwa saya lebih cocok dengan sistem kerja pakai outline).

Kedua, tadinya saya terbiasa menulis berdasarkan mood. Draft ini membuat saya ketat sekali dengan waktu. Menulis tiap hari tanpa menunggu mood. Memaksa memikirkan dialog dan adegan sepanjang hari 24 jam. Dan saya jadi bisa menyelesaikanya 2 bulan lebih cepat dari tempo normal saya.

Ketiga, ternyata inspirasi memang datang tidak terduga. Hanya dari nama, sebuah kisah bisa tercipta.

Tunggu tinjauan berikutnya dari Algernon Project, ya!

Pfiaddi!


Tuesday, March 28, 2017

Algernon Project: A Prolog

I see you,
When on the distant road
The dust rises,
In deep night,
When on the narrow bridge

- Wolfgang von Goethe, "I Think of You"


Apa yang ingin saya ceritakan tentang draft ini, adalah tentang betapa saya mencintai proyek naskah yang satu ini.

Suatu dorongan hati, menggerakkan saya untuk membuka laptop dan menulis di suatu pagi. Tentang sepasang anak muda yang bertemu di sebuah kota, di bagian selatan Jerman.

Dan saya menulis, mula-mula tanpa outline.

Saya menulis sampai malam, hari itu. Di benak saya tergambar jelas sosok kedua tokoh saya. Algernon yang kepengin mati, dan Demitria yang mencintai hidup.
Saya larut dalam dunia mereka. Dunia yang sebenarnya saya ciptakan sendiri.

Selama menuliskan kisah mereka, saya terbenam dalam karakter Algernon yang depresi. Tingkah laku saya sehari-hari jadi sedikit aneh, dan itu saya sadari.

Kenapa saya sangat mencintai proyek ini? Entahlah.
Mungkin karena secara tidak terlalu sadar, saya menuangkan hal-hal pribadi yang merupakan bagian dari diri saya.

Bahwa saya kadang-kadang membenci hidup, sekaligus ingin hidup seribu tahun. Saya menyukai bangunan-bangunan dan kota-kota lama, seperti Würzburg yang menjadi lokasi kisah ini. Saya menyukai warna oranye, merah dan kuning, dan menyukai kabut. Seperti karakteristik musim gugur, musim yang mempertemukan Algernon dan Demitria.
Saya juga menyukai buku-buku dan sastra klasik, yang menjadi benang merah kedua tokohnya. Dan saya, adalah orang yang tidak pernah kehilangan harapan, seperti pesan moral yang disiratkan kedua tokohnya.

Dalam satu bulan, saya merampungkan kisah ini. Benar-benar sebuah rekor, karena biasanya saya butuh waktu paling cepat 3 bulan untuk menyelesaikan sebuah naskah.

Ketika selesai, ada kebanggaan tersendiri dalam hati. Bukan karena, memecahkan rekor selesai 1 bulan.
Ini semacam kebanggaan kepada anggota keluarga.
Dalam hal ini, saya bangga pada Algernon dan Demitria.

Sungguhan, nulis tanpa outline? Tanya seorang teman penulis.
Ya. Saya melaju tanpa outline kali ini. Hanya coretan-coretan dialog atau adegan-ditulis tergesa-gesa di sembarang kertas, yang tiba-tiba pop up di kepala saat sedang tidak bisa membuka laptop.

Bukan berarti saya menyarankan untuk tidak membuat outline saat hendak menulis, lho. Bagaimana pun, outline itu penting.
Dalam proyek ini, saya hanya sedang menantang diri sendiri. Bisakah saya menulis tanpa outline, hanya berdasarkan ide segar, yang langsung ditempatkan di naskah? Ibaratnya ini permainan puzzle.

Ribet? Iya. Pusing? Iya. Bingung? Iya.
Tapi akhirnya saya melewati itu semua. Dan naskah Algernon Project akan segera diterbitkan dan bisa dibaca.

Penasaran?
Sabar.
Sementara sedang diperiksa editor, saya akan bercerita lagi tentang draft ini nanti.

Saturday, December 24, 2016

What I Learn from Pinky Promise

Uhm, well, hello...
Here I am, the owner of this blog. How are you?

Sudah beberapa lama ingin mulai menulis lagi di sini. Terutama mengenai novel terbaru saya, Pinky Promise. Tetapi, selalu saja ada hal-hal lain yang bikin saya menunda-nunda.

Hari ini. tetiba ada sedikit waktu. Kebetulan juga baru isi kuota hehe...

Jadi ceritanya, novel terbaru saya yang judulnya Pinky Promise sudah terbit sejak bulan Oktober lalu. Novel itu diadaptasi dari skenario film berjudul sama, yang ditulis Gina S. Noer. Pernah dengar namanya, kan? Dia bukan penulis skenario sembarangan. Sering mendapat penghargaan perfilman. Selain itu. salah satu filmnya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit mendiang ibu saya.
Omong-omong, film Pinky Promise pun sudah ditayangkan di bulan Oktober.

Trus, kenapa tiba-tiba saya kepengin nulis tentang novel ini, padahal dua bulan sudah berlalu?
Pertama, karena saya belum dengan resmi pengumuman di blog ini, bahwa novelnya sudah cetak dan beredar di toko-toko buku.
Yang kedua, malam ini nggak sengaja saya lihat foto-foto Ria Irawan dan Julia Perez di internet. Mereka sedang menjalani kemo, untuk melawan kanker yang menggerogoti tubuh mereka. Saya jadi ingat malam-malam yang terasa sedih dan mencekam, saat saya menulis Pinky Promise sebagai draft utuh, yang dikembangkan dari dialog-dialog di skenario Gina

Mudah?
Tidak.
Bisa dibilang, ini adalah pengalaman saya menulis novel yang paling menguras tenaga dan pikiran . Tidak hanya secara teknis. tetapi juga secara psikologis.

Mengadaptasi sebuah skenario menjadi novel ternyata nggak segampang yang saya bayangkan.Terutama, jika kamu dituntut untuk mengembangkan plotnya secara utuh. Skenario cuma berisi adegan dan dialog-dialog untuk kebutuhan visual. Jauh bedanya dengan sebuah novel, yang harus bisa membuat pembaca memahami sekaligus bisa mengimajinasikannya.

Saya harus membentuk lagi karakter-karakter setiap tokoh, memberi mereka sejarah dan latar belakang, menciptakan plot-plot penunjang, dialog-dialog tambahan. Sementara itu, kisahnya sendiri menguras emosi kesedihan dalam diri saya.

Tahu nggak, kenapa?

Pinky Promise adalah kisah tentang orang-orang yang berjuang melawan kanker payudara di tubuh mereka. Mereka berjuang untuk tetap hidup. Dan saya, punya seorang sepupu, yang tahun ini meninggal karena penyakit yang sama. Sepupu yang dulu teman bermain saya saat kami masih kecil. Meski, tahun-tahun belakangan hubungan kami menjadi renggang, ketika ia meninggal, saya menangis berjam-jam di kamar. Ia meninggalkan tiga orang anak. Saya mencemaskan mereka.

Perasaan duka itu terungkit lagi ketika saya mengerjakan draft Pinky Promise. Berkali-kali, saya menulis sambil bercucuran air mata. Terlebih karena memang dalam skenario itu, ada dialog-dialog yang menyentuh hati, yang kemudian harus saya jelmakan menjadi plot yang utuh. Membikin saya memahami, mungkin apa yang dirasakan para pejuang kanker dalam kisah ini (Gina melakukan riset dan wawancara dengan para pejuang kanker sungguhan sebelum menulis) seperti itu pula dulu yang dirasakan mendiang sepupu saya.

Saya pun melakukan riset saya sendiri. Mencoba memahami situasi yang dirasakan seorang pejuang kanker. Saya menemukan beberapa blog para pejuang kanker. Favorit saya adalah blog mendiang Sima Gunawan. Mbak Sima almarhum adalah orang yang sangat optimis dan tegar menghadapi kankernya yang sudah stadium 4. Ia sangat mirip dengan karakter Anind yang ceria, dalam novel Pinky Promise. Berkunjung deh, ke blognya. Meskipun Mbak Sima sudah tiada sejak awal tahun 2012 lalu, blognya masih menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kanker lainnya sampai sekarang.

Thank you for inspiring us, Mbak Sima.
May you rest in peace in Heaven.

Sebenarnya, yang mau saya bilang saat memutuskan menulis di sini hari ini adalah, bahwa menulis Pinky Promise memberi saya banyak pelajaran. Pertama, tentu saja teknik mengadaptasi skenario menjadi novel. Saya beruntung, editor saya, Iwied, sabar banget membantu mengoreksi dan memberi masukan-masukan dalam diskusi online kami. Selain Iwied, tim penulis skenario dan production house juga ikut memberi masukan. Kalau boleh jujur, mengakomodir sekian banyak masukan dari banyak kepala itu agak gimanaaa gitu. Hehe. Bikin panik dan bingung mesti gimana menerapkannya. Lagi-lagi, Iwied mengajak saya mendiskusikannya, dan akhirnya saya bisa mengakomodir semua masukan. Selain itu, masukan dari Gina adalah yang saya jadikan summary dari semua masukan lainnya.
Mungkin, karena Gina sendiri adalah penulis, ia mengurutkan kritik dan sarannya step by step dan terstruktur. Thanks, Iwied dan Gina!

Dan memanglah, semua masukan itu jadi membuat novel Pinky Promise ini utuh dan lengkap.

Novel ini juga mengubah mindset saya soal menghadapi musibah. Kita nggak bisa menjauhi dunia ketika hidup sedang kedatangan masalah. Nggak bisa sembunyi atau pura-pura nggak terjadi apa-apa dalam hidup kita. Kadang-kadang, beban itu harus dibagi dengan orang-orang yang peduli dan kita percayai.
Seperti mendiang Mbak Sima. Ia membagi bebannya dengan menulis di blog. Menceritakan penyakitnya, perjuangannya, dan memberi semangat buat orang-orang yang senasib dengannya. Dari blog itu, dia jadi punya banyak teman. Mereka saling berceloteh riang di kolom komentar, mungkin juga ada yang kopi darat dan menjadi teman di dunia nyata.

Berbagi beban bagi para pejuang kanker itu tidak selalu tentang minta dikasihani. Salah banget kalau ada yang mengira begitu. Sejauh riset saya dan selama saya menulis novel ini, saya kemudian paham, bahwa mereka cuma ingin kehidupan mereka berjalan normal seperti biasa. Mereka kepengin didukung supaya kuat dan menularkan kekuatan itu kepada orang lain.

Saya, secara pribadi, sukaaa sekali tokoh Anind dalam novel itu. Tokoh favorit saya. Dan betapa diri saya menginginkan kepribadian seperti dia.

Dan ternyata, saya berjumpa dengan banyak orang seperti dia, saat premier film Pinky Promise.

Saya berjumpa dengan pejuang-pejuang kanker dari Yayasan LovePink Indonesia yang juga diundang untuk menonton tayangan perdana film Pinky Promise. Saya melihat wajah-wajah mereka yang sumringah, dengan senyum dan tawa, dan kegembiraan yang murni. Berkelompok dengan pakaian-pakaian berwarna pink, beberapa menutup kepalanya dengan kerudung atau turban, yang menurut dugaan saya mungkin mengalami efek kemo yang biasa terjadi pada kulit dan rambut.
Ada juga yang didorong dengan kursi roda, atau dipapah dengan tongkat. Wajahnya? Sama saja. Tegar dan berseri-seri.

Melihat perempuan-perempuan yang memancarkan aura ketabahan dan kekuatan sebesar itu, saat itulah saya bersyukur menjadi penulis novel Pinky Promise. Bersyukur diberi kesempatan ikut menginspirasikan kekuatan untuk terus berjuang bagi siapa saja yang sedang terpuruk, apa pun masalahnya, bukan hanya penderita kanker payudara.

Saya belajar dari para pejuang kanker, bahwa sekecil apa pun kesempatan, hidup harus diperjuangkan.






Launching novel Pinky Promise
bersama beberapa pemeran utama film Pinky Promise




Sunday, July 3, 2016

Pinky Promise: The Ladies and The Monster

Miss A.

Aku sudah jatuh cinta padanya sejak ia masih bayi berkulit keriput dan merah jambu. Ia menatapku dari gendongan ibunya dengan matanya yang kata orang serupa mataku. Ketika kusodorkan telunjukku, jemarinya yang mungil dan rapuh menggenggamnya erat-erat.

Ada binar di wajahnya, bibirnya terbuka, seolah-olah berusaha tersenyum padaku.
Sejak itu, aku berjanji akan membimbingnya menjadi perempuan yang tangguh. Perempuan yang menjalani hidupnya dengan bahagia atas usahanya sendiri.

Dan aku sudah melakukannya. Sampai ia dewasa. Berdiri di hadapanku sebagai perempuan muda yang cantik, pandai dan mandiri.
Tapi tugasku masih belum selesai. Ia masih belum bisa menaklukkan ketakutannya sendiri.

Ah, aku sungguh kesal dengan caranya bersembunyi. Jangan diam saja, Sayang. Aku dikejar waktu. Monster itu sudah lama mengincarku.

Miss T.

Bisakah kita tidak membicarakan semua kesialan hidupku? Aku tidak mau orang-orang tahu bahwa aku, yang mereka kenal sebagai perempuan hebat yang sukses dan meraih cita-cita dengan perjuangan sendiri, pada akhirnya harus kalah juga.

Kalian tidak tahu apa yang kurasakan. Apa yang kukorbankan. Dua belas tahun kebersamaan akhirnya menjadi sia-sia.
Kalau begitu, untuk apa aku melakukan semuanya? Untuk apa aku bersusah payah dari nol, jika pada akhirnya aku ditinggalkan dengan rasa sakit yang harus kutanggung sendirian?

Tidak. Aku tidak akan percaya lagi pada apa pun tentang cinta, persaudaraan, persahabatan. Membahagiakan orang lain? Hah. Mana ada ketulusan di muka bumi ini. Aku cuma percaya satu orang saja. Perempuan yang sejak aku lahir menjadi ibu periku.
Kalian selebihnya mungkin hanya manipulator.

Miss K.

Aku sudah melakukan semuanya yang kalian inginkan, ya kan? Aku tidak pernah membantah, meski tak menyukainya.
Aku ingin kalian bahagia, dan semuanya baik-baik saja.

Tapi, tolonglah sekali ini saja. Dengarkan keinginanku.
Aku ingin hidup dengan caraku sendiri. Yang kupilih, meski menyakitkan.

Sudah terlalu banyak yang kusimpan dalam diam. Tidak bolehkah sekarang aku bicara?

Aku melawan monster, dan tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku berharap, dalam prosesnya aku tumbuh menjadi orang yang benar-benar berarti bagi orang lain. Terutama kalian.

Tidakkah kalian ingin aku hidup? Lalu kenapa kalian menekanku, sampai aku sesak?

Dan kau, Tuan Mata Teduh. Bisakah kau buka mata sedikit saja? Tidakkah kau lihat aku putus asa terus berpura-pura?
Tolong jangan melihat ke luar sana. Lihatlah ke dalam hatiku saja.

Miss B.

Kecantikan dan ketenaran akhirnya harus kalah oleh si brengsek satu ini.
Bukan saja waktu yang mengkhianatiku, tetapi sesuatu yang tumbuh dalam diriku. Merajang diriku pelan-pelan menjadi serpihan-serpihan yang dulu dikagumi banyak pria.

Monster itu mengacaukan hidupku. Aku harus menstel ulang dari nol lagi.

Lalu, apa artinya keberadaanku di dunia selama ini, jika akhirnya harus berakhir begini ironis?
Apa yang sudah kuperoleh selama ini oleh kecantikan dan ketenaran?
Kaum pria yang mengantri itu? Atau uang yang bisa kubelikan apa saja?
Nyatanya, semua itu sekejap datang seperti mimpi.

Pada akhirnya, aku hanya seonggok daging yang tak lagi dilabeli harga.
Tapi tak mengapa. Karena pada akhirnya, aku mengerti apa itu cinta.
Hidup membawaku pada sekumpulan orang yang melihatku sebagai manusia.
Yang punya hati, bukan sekedar tubuh sexy.

Monster itu datang lagi. Mereka melindungiku.
Tak apa, kataku pada mereka. Tak apa. Ia sudah tak membuatku takut lagi.

Mrs. V

Dear Suami,
Aku ingin mengatakan banyak hal padamu. Yang selama ini tak sempat terucapkan karena kita sama-sama sibuk bertahan hidup.

Saat kau menatapku, aku tahu isi hatimu.
Kau mencemaskan aku, begitu jelas terbaca di matamu. Kau berharap bertukar posisi denganku, agar aku tak harus menanggung beban melawan monster yang begitu inginnya menguasaiku.
Kau mencintaiku, aku tahu. Meski tak pernah kau ucapkan lagi sejak kita menikah dan punya anak-anak, yang  menuntut seluruh perhatian.

Malam itu aku menangis, Suami.
Menatap tiga tubuh mungil terlelap di larut malam.
Isakku pelan, karena mereka tak boleh tahu aku bersedih.
Aku teringat hari-hari menyenangkan saat melahirkan dan membesarkan mereka. Dan aku tak sudi menukarnya dengan apa pun.
Aku juga menangis setiap kali melihat punggungmu menjauh di gang sempit tempat tinggal kita, menuju tempatmu membanting tulang seharian.
Karena aku tahu, kau pergi dengan harapan menemukan jalan untuk membantuku membebaskan diri.

Suamiku, Allah tahu yang terbaik buatku. Maka aku menerima ini dengan ikhlas, dalam keterbatasan kita.
Aku berjanji padamu untuk tidak mengeluh. Aku juga tidak akan bersedih. Aku pasrah melawan dengan doa.

Dear Suami,
Bagiku, yang penting adalah anak-anak dan kamu, selalu ada di sampingku.
Aku cinta kalian. Itu lebih dari cukup bagiku.

____________

Catatan di atas dibuat berdasarkan karakter-karakter tokoh di novel/film Pinky Promise.

Novelnya masih tahap revisi, dan akan diterbitkan GagasMedia.
Stay tune ya!

Sunday, June 26, 2016

New Project: Pinky Promise

Hai...

Sudah lama banget nggak ngeblog. Yuhuuu!
Apa kabar, semuaaa? *ala penyanyi dangdut*

Eh, berdebu banget ini blog. Sambil nyapu, saya mau ngerumpi ah.

Siapa yang sudah baca novel "Melupakanmu Sekali Lagi"?
Makasih ya yang sudah baca. Yang belum baca, baca dong. *kedipkedip*

Eh iya. Saya sedang menggarap novel baru. Saat ini sedang tahap revisi atas petunjuk editor.
Judulnya PINKY PROMISE.
Cute ya, judulnya?

Jangan-jangan ada yang mikir, ini tentang janjian pake warna pink.
Ish, bukan keles! Wkwkwk.
Pinky promise artinya janji di antara dua orang yang bersifat sakral dan rahasia. Harus dijaga dan ditepati. Disebut juga pinky swear.
Pinky artinya jari kelingking. Jadi saat berjanji, caranya mengaitkan jari kelingking masing-masing.

Novel ini akan sedikit berbeda dengan novel-novel saya sebelumnya.
Pertama, ini novel adaptasi dari skenario film. Skenarionya ditulis Gina S. Noer, yang karyanya sudah sering mendapat penghargaan. Skenarionya, Perempuan Berkalung Sorban, adalah film favorit saya dan mendiang Ibu.
Bisa bayangin kan senangnya saya mengembangkan skenario Gina?

Kedua, ini berkisah tentang persahabatan. Novel-novel saya sebelumnya kan pure romance.
Kali ini, kisahnya akan berfokus pada perjuangan bertahan hidup dan menemukan makna hidup seandainya pun kalah.
Pinky Promise mengisahkan perempuan-perempuan dengan latar belakang berbeda yang akhirnya menemukan persahabatan yang tulus, saat sama-sama melawan ketakutan mereka.
Ada kisah romance-nya juga pastinya sih. Hahaha.

Bikin baper, nggak? Ih, bangeeet.
Ini yang nulis aja sampe nangis-nangis nyesek sendiri. Mana lagi puasa yaelah. Jadi kan nggak bisa minum secangkir teh tarik hangat untuk menenangkan diri. #eh
Wkwkwk

Btw, saya sudah nonton hasil editing offline-nya lhooo.
Pada suatu sore yang agak mendung, ditemani editor saya Iwied dan Resita-pemred GagasMedia. Iya, nanti akan diterbitkan GagasMedia. Jadi cekidot aja akun Gagas. Pada waktunya pasti akan ada cuitannya.

Filmnya direncanakan tayang di bioskop bulan Oktober. Novelnya terbit sebelum itu. Nggak lama lagi kok, insyaAllah. Sudah dapat tanggal naik cetak, edar, dan launching dari Iwied. Nanti di-share kalau sudah naik cetak aja ya.

Oiya, pada pengin tau pemain filmnya siapa? Pemainnya adalah aktor dan aktris yg aktingnya semua nggak diragukan lagi.
Buat penggemar Chelsea Islan dan Derby Romero siap-siap ya. Mereka juga main, lho.
Derby cute banget seperti biasa. Hihi.

Yang seru, nantinya akan ada road show sebelum film tayang. Kata mbak PR prod house-nya, saya diikutsertakan.
Duh, gimana ini? Road show sama artis, ya ampun! Semoga nggak ada yang ngajak saya main film habis itu. Huhu.
Nggak bakal kuat menanggung popularitasnya. *digaplok*

Udah ah, jadi random gini. Entar lama-lama lapar pulak awak.

Buat yang mau kepo tentang PINKY PROMISE, sila kunjungi Instagram @pinkypromisemovie dan Twitter @pinkypromisemov yaaa...

Kalian bisa lihat siapa aja aktor dan aktris kece yang main di film ini.

Kepoin akun saya juga gapapa banget. Harus malah! #maksa :))
Nanti saya akan ngeblog lagi tentang progress novel dan serba serbi kisah ini.
Akan ngetwit juga dan nyetatus di FB.

So, selamat penasaran. Dan selamat berpuasa hari ini. Yang kuat, ya!

Kiss kiss

ENNO


Thursday, February 18, 2016

Antara Cinta dan Tradisi. Jejaring Takdir di Benak Helga Rif.

Om Swastiastu. 

Bali. Apa yang terlintas di benakmu ketika nama pulau itu kau dengar atau kau baca? Pulau dewata yang indah, sungguh. Dengan alam dan tradisinya yang menakjubkan, yang dikenal di seluruh dunia. Bukankah begitu? 

Namun, Bali tidak sekedar tempat dengan alam yang indah, pantai-pantai dengan matahari yang terbit dan tenggelam dengan elegan, penduduk yang sangat ramah, kuliner yang lezat, dan tradisi yang lekat dengan keseharian masyarakat. 

Tradisi, yang kau saksikan itu… 
Pertunjukan Tari Barong di Batubulan, upacara-upara persembahyangan di pura beraroma wangi dupa, rangkaian-rangkaian janur daun kelapa yang indah dan rumit dengan sesaji rupa-rupa buah dan kembang, upacara Ngaben yang mengantar jiwa ke surga. Semua itu hanya akan menyentuh sisi estetikamu saja, jika kau tidak menyelam ke dalamnya. 

Adat istiadat dan tradisi, sesungguhnya adalah norma-norma kehidupan yang disusun para leluhur sejak mula peradaban, untuk menjaga dan melindungi masyarakat. Penentangan terhadap tradisi seringkali dianggap sebagai penentangan terhadap komunitas. Kau tidak akan menyadari hal itu, jika takdirmu bukanlah takdir yang sama yang menimpa Anak Agung Ayu Indira. 

Gung Dira yang selama ini tinggal di luar negeri, tidak pernah mengira, hidupnya menjadi sangat rumit saat ia pulang ke Bali karena neneknya meninggal dunia. Tiba-tiba ia menyadari, bahwa dirinya bukan sekedar seorang perempuan Bali dari kasta ksatria yang sedang jatuh cinta. Dirinya milik keluarga dan puri dengan adatnya yang baku. 

Gung Dira tidak boleh keluar dari puri. Demikian orangtuanya dengan tegas menggariskan. Terlahir dalam keluarga ningrat berkasta ksatria, dibesarkan di puri (sebutan bagi kediaman kaum bangsawan Bali), dan menjadi anak perempuan sulung dari dua bersaudara yang semuanya perempuan, Gung Dira merasa dirinya terjebak dalam adat. Seandainya orangtuanya memiliki anak lelaki, Gung Dira boleh menikah dengan siapa saja, meskipun bukan orang Bali. Namun, bukan itu kenyataannya. Gung Dira wajib meneruskan nama keluarganya dan menikah dengan saudara yang satu purusa–satu garis keturunan–dengan dirinya.

Di sinilah konflik mulai terbangun. Gung Dira sudah memiliki pilihan hati. Ia mencintai seorang lelaki dari negeri jiran, dengan agama dan adat istiadat yang jauh berbeda. Lelaki itu juga mencintainya. Gung Dira terbelit dilema. Ia mencintai orangtuanya, keluarganya, tetapi ia juga mencintai lelaki itu dan tak bisa hidup tanpanya. 

Benturan adat sesungguhnya adalah topik yang klasik tetapi selalu menarik dalam sebuah karya sastra. Kau tidak hanya disuguhi wawasan dan pengetahuan tentang adat istiadat suku lain, yang barangkali berbeda dengan adat istiadat sukumu, dalam kemajemukan Indonesia. Kau juga diajak menjajaki konflik yang terjadi di antara tokoh-tokohnya. Kau mungkin akan ikut menempatkan dirimu dalam kisah itu. Bersimpati, merasa berang, ikut terluka dan mengira-ngira solusi apa yang dipilih para tokoh itu di akhir cerita. 

Helga Rif akan mengajakmu menyelam dalam adat istiadat puri dan membawamu terlibat dalam dilema yang pedih, yang dirasakan seorang perempuan bangsawan Bali dalam novelnya Di Bawah Langit yang Sama. 

Gung Dira merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Saya yakin, ia tercipta dari realita sehari-hari. Bahwa di luar sana, banyak perempuan-perempuan Bali seperti Gung Dira, yang ditakdirkan dengan posisi sebagai pewaris keluarga. Yang mau tidak mau menerima beban tanggung jawab meneruskan tradisi, dan harus mengesampingkan keinginannya sendiri. 

“Aku mengatakan realitas, Ra. Lihat sekelilingmu. Hidup di mana kita? Hidup sebagai apa kamu? Bagaimana posisimu di keluargamu?” 
“Kita hidup di Bali yang menerima perbedaan dengan terbuka.”
“Ya, memang, tapi tidak dengan keluargamu.” 
“Kenapa tidak bisa?” 
“Karena kamu tidak memiliki pilihan untuk menerima orang lain yang bukan berasal dari keluarga kita untuk masuk ke keluargamu.” 
-- (hal 151) 

Tentu saja, di sela-sela segala kerumitan hidup Gung Dira, Helga tak lupa membawamu menyusuri keindahan alam dan budaya Hindu Bali yang terkenal itu. Kau akan ikut serta dalam upacara Ngaben niang ayu–nenek Gung Dira. Mempersiapkan banten, mengikuti perjalanan matur piuning ke pura, upacara pelebon-pembakaran jenazah, sampai melabuhkan abunya di laut. Sementara, kau pun juga akan terus dibuat bertanya-tanya adakah solusi untuk persoalan Gung Dira. 

Sebagai pembaca, saya sangat menyukai seri Indonesiana dari Gagasmedia. Rasanya, seperti angin segar di belantara kisah-kisah yang belakangan nyaris seragam. Unsur lokal dan adat istiadat Nusantara dalam seri ini menjadi penanda yang berbeda di dunia perbukuan. Saya suka seri ini. Saya suka ketika pada akhirnya, Gung Dira dalam kisah ini menemukan takdirnya. 
Semoga kita semua pun demikian. 

Om shanti shanti shanti om.












Image and video hosting by TinyPic

Thursday, December 17, 2015

Tagore and I


Umur  saya sekitar 10 tahun waktu saya menemukan buku lusuh karya Rabindranath Tagore di atas lemari buku, di ruang tengah rumah Kakek. Saya, adalah seorang gadis kecil sakit-sakitan berpakaian lusuh ala anak lelaki, yang sedang berada di kampung halaman Ibu untuk merayakan Lebaran yang sesungguhnya adalah hari yang tidak disukai gadis kecil itu dengan alasannya sendiri.

Saya juga adalah gadis kecil pemurung, yang lebih suka mengaduk-aduk lemari buku tua Kakek untuk mencari bacaan, daripada bermain dengan sepupu-sepupu kaya berpakaian bagus dan baru. Kakek saya seorang guru dan kepala sekolah. Ia punya sejumlah buku, yang biasanya merupakan hibah dari Dinas P dan K (sekarang Diknas). Buku-buku yang kadang-kadang adalah buku untuk perpustakaan sekolah, atau buku-buku lainnya, yang dianggap perlu sebagai bahan mengajar.

Hari itu, saat saya menemukan buku itu, jiwa kutubuku saya menggumam, wow kata-katanya bagus, Itu adalah puisi-puisi Rabindranath Tagore dalam Gitanjali (sekarang saya baru menyadari bahwa itu Gitanjali-karena tadinya saya lupa judul buku itu), yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja, sebelumnya saya tidak pernah mendengar siapa Tagore itu. Nama yang aneh bagi saya ketika itu. Di bagian kata pengantar, ada sedikit keterangan tentang dirinya, berikut fotonya. Yang saya ingat di kemudian hari setelah pulang ke rumah, dia seorang penulis dan penyair dari India, setua kakek saya, dengan jenggot lebat bak seorang petapa.

Rupanya, itulah awal mula saya menyukai puisi dan mulai menulis puisi.
Jiwa gadis kecil saya, si penyuka buku yang pemurung, ingin sekali bisa menulis seindah itu. Sebelumnya, saya suka menulis cerita-cerita pendek di belakang buku tulis sekolah, sampai sering dimarahi Ibu dan akhirnya dibelikan buku khusus untuk coret-coret. Buku itu lantas mulai terisi oleh beberapa lembar puisi ala anak SD. Bukan puisi seindah Tagore tentu saja. Tetapi, saya sudah sangat berusaha menulis seindah mungkin. Topiknya apa saja yang terlintas di kepala. Namun, lebih banyak tentang teman-teman.

Saya tidak punya banyak teman di sekolah. Mungkin, karena saya pendiam dan sering tidak masuk sekolah karena sakit. Salah satu teman sebangku saya, Yayuk, tukang mencontek saya kalau ulangan. Berganti kelas, saya duduk dengan Erna, yang nilainya selalu jelek tetapi untungnya dia baik dan tidak suka mencontek. Berganti kelas lagi, saya duduk dengan Nia, yang culas dan suka mengadu domba, Berganti kelas lagi, saya sebangku dengan Lia. Anak perempuan manis yang pendiam dan lembut. Otaknya sangat cerdas sehingga setiap tahun dia selalu juara umum. Kami sama-sama kutubuku dan penyuka kucing. Dia adalah teman yang paling berkesan dan paling saya sayangi di masa sekolah dasar saya di Bandung. Dan selalu menjadi inspirasi puisi-puisi saya di buku coret-coret.

Sampai tamat dari Sekolah Dasar, puisi-puisi Tagore menemani saya tumbuh. Buku di rumah Kakek itu lenyap entah kemana, untungnya saya sempat menyalin beberapa puisinya yang paling saya sukai. Puisi-puisi dalam Gitanjali tidak berjudul. Biasanya hanya memakai angka romawi setiap ganti topik.
Tagore dalam kesan saya, adalah orang yang religius dan sangat pandai menerjemahkan alam pikirnya ke dalam bahasa sehari-hari dengan cara penyampaian yang indah.

Waktu saya masih kecil, begini kesan saya terhadap Kakek Tagore: dia sayang sama Tuhan dan orang-orang.

Demikianlah.

....................................

Tentang Rabindranat Tagore (1861-1941)

Ia adalah sastrawan India modern paling terkemuka. Seorang penyair, novelis dan pendidik. Menerima hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1913. Dianugerahi gelar kebangsawanan pada tahun 1915, tetapi ia mengembalikan gelar itu sebagai protes terhadap Pembantaian di Amritsar, di mana pasukan Inggris membunuh kurang lebih 400 orang demonstran India. Perannya sebagai seorang pembaharu reformasi politik yang menentang kolonialisme tidak terlalu menonjol dibandingkan reputasinya sebagai penyair. Sayang sekali.

Aku mengemis dari rumah ke rumah di jalanan desa 
ketika kereta emasmu tampak dari kejauhan 
seperti mimpi indah 
dan aku bertanya-tanya siapakah raja diraja ini?

Harapanku melesat tinggi 
dan kukira kemalanganku akan berakhir,
dan aku berdiri menunggu pemberian dan kekayaan
yang bertebaran di setiap jejak kereta.

Kereta kuda itu berhenti di hadapanku 
dan engkau turun sambil tersenyum.
Aku merasa keberuntunganku akhirnya datang 
Lalu, tiba-tiba engkau menjulurkan tangan dan berkata,
"Apa yang akan kau berikan kepadaku?” 

Ah betapa lucu lelucon menengadahkan tanganmu
kepada seorang pengemis untuk mengemis! 
Aku bingung dan ragu,
kemudian perlahan-lahan 
kukeluarkan sejumput biji jagung dari kantongku 
dan kuberikan kepadamu

Betapa terkejutnya aku,
ketika sore tiba aku mengosongkan kantongku
dan menemukan biji emas di antara tumpukan hasil mengemis.
Aku menangis pedih dan berharap
andai saja aku rela memberikan semua milikku kepadamu.

- Rabindranath Tagore, dari Gitanjali


Tagore dan Gandhi
pic from here



Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, December 15, 2015

Anak Ketiga, Melupakanmu Sekali Lagi


Halo...

Saya menulis ini malam-malam, sambil menunggu kantuk. Akhir-akhir ini, saya nggak bisa tidur. Entah kenapa. Bukan karena semacam firasat buruk, tetapi lebih cenderung pada kesalahan si benak yang berpikir terus. Susah disuruh off.

Hikmahnya, saya akhirnya punya waktu menulis blog lagi.

Ini posting pertama di akhir tahun. Nggak ada kabar personal tentang diri saya, kok. Nggak ada perkembangan apa-apa. Saya masih saya. Yang semakin sinis terhadap banyak hal (atau itu memang bawaan lahir), yang masih kecanduan ngetrip, masih kesal dengan berat badan yang turun naik kayak main yoyo, masih malas olahraga, dan... masih mencoba merampungkan utang-utang tulisan saya pada beberapa penerbit di sela-sela tidur-ngetrip-jadi babu rumah-main Instagram.

Iya. Saya lebih sering curcol di Instagram sekarang. Bukan curcol galau, tapi nulis latar belakang perjalanan di setiap tempat yang saya singgahi.

Oh iya, trip terakhir saya tahun ini adalah Malang, Bromo dan Madakaripura. Itu ketiga kalinya saya ke Bromo. Suka sekali gunung ini gara-gara savananya (berarti saya suka savana dink), dan Madakaripura adalah air terjun idaman saya sejak dulu, setelah saya tahu Gajahmada bertapa di sana dan moksa.

Ini kenapa jadi random ya? Hahaha. Kan sebenarnya mau ceritain novel ketiga yang baru terbit bulan Oktober kemarin. Judulnya Melupakanmu Sekali Lagi. Bagian dari serial Love Cycle-nya GagasMedia.

Novel ini temanya Patah Hati. Tapi bukan patah hati yang termehek-mehek gitu. Ini tentang gimana caranya melanjutkan hidup dan petualangan mencari jati diri.

Selain novel Melupakanmu Sekali Lagi, sebelumnya saya ikutan menulis cerpen untuk buku Glenn Fredly 20. Itu adalah buku kumpulan cerpen dari penulis-penulis GagasMedia, dalam rangka memperingati 20 tahun Glenn Fredly berkarya. Cerpen saya di buku itu berjudul: Ketika Hujan Pagi Itu.

Di postingan habis ini, nanti saya ceritain lengkap tentang proses menulis Melupakanmu Sekali Lagi, ya, Sekarang segitu dulu.
Cuma buat laporan aja, gitu. Hahaha,
Ini akhirnya kantuk datang. Bye bye. Doakan semoga mood saya untuk ngeblog akhirnya bergelora lagi.


Image and video hosting by TinyPic

Friday, May 29, 2015

The Broken Journey - Finale



Lanjutan cerita dari Ramayoga (@ramadepp) di blog: www.klikrama.com


Game Over

“Kalian gagal.” Aku bangkit dari kursiku, seraya menatap mereka dengan tajam. Tanganku bersidekap di depan dada. Sementara, orang-orang yang kutatap tengah berdiri sambil menunduk lesu.

“Maaf, Komandan. Semua ini salah saya.” Lelaki muda berambut ikal acak-acakan yang berdiri di ujung paling kiri menyahut. Wajahnya sekusut pakaian yang dikenakannya. Mereka semua belum sempat berganti pakaian ketika diperintahkan untuk langsung menghadapku.

“Ya. Terutama ini salahmu,” sergahku dingin. “Kau yang memimpin. Seharusnya kau bisa mengarahkan timmu untuk memecahkan masalah. Sejak hari pertama, kalian sudah ceroboh. Selalu ceroboh.”

Perempuan muda yang berdiri di sebelah pemimpin mereka terdengar menahan isak. Matanya sembab bekas menangis. Kulihat kakinya yang terluka sempat dibebat oleh tim medis sebelum menemuiku.

“Kalian melibatkan emosi dan masalah pribadi,” ujarku kesal. “Mila, kalau kau masih terus dibayangi kehilangan adikmu, maka kau tidak mungkin bisa melanjutkan misi ini. Kau juga, Hanif. Kau senang menyalahkan diri sendiri, alih-alih mencari solusi.” Aku mendesah dan menoleh pada dua orang lainnya–seorang perempuan muda yang tampak kesal dan seorang lelaki muda bertubuh jangkung. “Rama, saya mengandalkanmu menguji konsentrasi Mega. Saya ingin tahu sejauh mana dia bisa bertahan. Tadinya, saya juga berharap kamu berhasil mencari pertolongan.”

“Saya bisa seandainya masih ada waktu dalam Simulator, Komandan.”

“Kamu tidak fokus,” kecamku. “Helikopternya lewat begitu saja. Padahal kalian bisa membuat isyarat asap atau mencari bagian hutan yang terlihat jelas dari atas.”

Rama mengangguk. Ia menoleh pada Mega. Ada sesuatu di matanya, yang membuatku menyadari, apa pun yang terjadi di antara mereka berdua di dunia buatan, tampaknya bukan sekedar simulasi.

“Komandan, bagaimana... nasib adik saya?” Tiba-tiba, Mila bertanya dengan terbata-bata.

“Sekar?” Aku meliriknya. Ia mengangguk. “Bukankah adikmu tak pernah ditemukan saat kalian tersesat di hutan, lima tahun yang lalu?”

Ia menggeleng. Matanya membelalak panik. “Dia tidak meninggal! Dia masih hidup!”

Aku menekan lencana perak di kerah bajuku. Pintu ruang kantorku bergeser. Seorang anak perempuan dengan pakaian yang juga lusuh berjalan masuk. Ia mengangguk padaku, lalu berdiri di sebelahku. “Ini Gita. Dia yang bersama kalian di Earth Simulator, untuk menguji Mila.”

“Tapi saya bersama Sekar!” Mila berseru kencang. “Saya melihatnya, mendengar suaranya, memeluknya! Sekar masih hidup!”

“Sekar masih hidup dalam duniamu sendiri, Mila,” tukasku. “Imajinasimu yang mengubah Gita menjadi Sekar. Gita adalah Pemicu, untuk mengulang apa yang terjadi padamu dan adikmu lima tahun lalu. Kalian membiarkan Gita terlantar di hutan, karena tenggelam dalam persoalan pribadi kalian sendiri.”

“Ti… tidak mungkin.” Mila terhuyung. Hanif menangkap tubuhnya, menahannya agar tak terjatuh.

Aku mendesah. Tim macam apa ini? Apakah sebagai komandan Divisi Eksplorasi aku telah salah memilih orang-orang untuk menjalankan misi penting ini? Padahal, aku sudah memeriksa hasil tes mereka secara menyeluruh. Sepertinya, ada faktor X yang luput kuperhitungkan. 

“Tim ini dibubarkan,” aku memutuskan. “Simulasi kalian tidak memuaskan. Sangat berbahaya jika saya tetap menerjunkan kalian dalam misi Koloni. Kalian boleh kembali ke asrama sekarang.”

Mereka mengangguk lesu. Memberi hormat padaku, sebelum akhirnya satu demi satu beranjak menuju pintu keluar.

Hari ini, tanggal 29 Mei 2115. Kami tinggal di Koloni Pegasus, Planet Mars. Pemerintah Koloni sedang menyusun misi untuk kembali ke Bumi, sejak ditinggalkan manusia seratus tahun lalu, karena dihancurkan perang nuklir. Para ilmuwan mendapatkan data terbaru, kondisi Bumi telah pulih. Kami berencana membangun kembali planet itu.

Aku menghela napas. Baiklah. Sudah saatnya membentuk tim baru.

___________________

Ditulis sebagai bagian dari Cerita Berantai #TimPatahHati. #LoveCycle GagasMedia 

Pelengkap cerita, sila klik:
Instagram: the_broken_journey
Soundcloud playlist: The Broken Journey




Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...