Showing posts with label Barcelona Te Amo. Show all posts
Showing posts with label Barcelona Te Amo. Show all posts

Saturday, May 11, 2013

Kontes Review Barcelona Te Amo & Maksi Bersamaku

Yuhuuu!

Apa kabar? Banyak yang tanya kenapa saya menghilang setelah menelurkan (emang ayam) postingan sendu agak-agak galau sebelum ini. Nggak, saya nggak sedang patah hati. Tenang saja.

Saya sibuk menulis, kakak-kakak.
Nah, sekarang muncul dengan sebuah ajakan yang menggiurkan. Apakah itu?

Jadi begini...
Saya mau mengajak pembaca novel Barcelona Te Amo untuk makan siang sambil mencicipi menu masakan Spanyol, tanggal 18 Mei ini.
Mau dong? Mauuu *dijawab sendiri*

Syaratnya mudah. Teman-teman harus membuat review novel Barcelona Te Amo di blog/tumblr masing-masing, jangan lupa picture-nya adalah novel tersebut ya (boleh covernya aja). Nah, setelah itu, kasih tahu saya via Twitter.
Format mentionnya begini:

Judul review + link blog kamu + mention @kireinaenno @Bukune @nyunyuCOM

Review teman-teman ditunggu sampai tanggal 16 Mei 2013 ya. Akan diumumkan setelahnya.
Karena, butuh sehari sebelum hari H untuk menghubungi pemenang dan konfirmasi kehadiran. Selain itu supaya seleksinya nggak buru-buru.

Saya akan pilih LIMA orang yang review-nya paling oke untuk saya ajak makan siang ala Espanola tanggal 18 Mei 2013, sambil ngobrolin Barcelona Te Amo. Yang mau tanya-tanya tips menulis juga boleh banget. Kita having fun deh pokoknya ^^

Yuk, mau kan? Kan? Buruan bikin review yang paling oke ya! ^^

Barcelona Te Amo di Gramedia Bekasi.
Pict by Rona. Tq! ^^




Image and video hosting by TinyPic

Tuesday, April 2, 2013

Barcelona Te Amo. Manuel's Side

Aku melihatnya sedang duduk di kursi taman, di Placa de Catalunya. Memandangi merpati-merpati yang terbang berputar-putar di langit biru lalu hinggap untuk mematuki remah roti yang disebarkan para pelancong. Aku duduk tak jauh darinya. Mengarahkan moncong kameraku pada kerumunan merpati, namun ekor mataku memandanginya.

Lelaki yang tampan, gumamku dalam hati. Rapi, dengan kemeja lengan pendek dan wajah yang bersih sehabis bercukur. Ada jas sport yang digulung di pangkuannya. Ia duduk seperti patung, matanya menerawang jauh.

Kupikir, akan sangat bagus kalau ia menjadi obyek fotoku sore itu. Kalau ia mengizinkannya, dan aku akan memintanya sebentar lagi.

Langkah-langkahku yang bergegas ke arahnya tak membuatnya menoleh. Ia bagaikan tenggelam dalam dunia di pikirannya.

"Selamat sore, boleh minta izin mengambil foto Anda?"
Ia memandangiku dengan matanya yang sehangat cokelat cair. Mengamati ekspresi memelas yang kutampilkan demi persetujuannya. Tiba-tiba, ia tersenyum.
"Dari Indonesia?"
Aku mengangguk. "Benar, Senor..."
"Saya mengenal gadis yang mirip denganmu di sini. Dia dari Indonesia juga."
"Oh, siapa namanya?"
"Katya. Katya Sadewi. Dia mahasiswi di Universitas Barcelona."
Aku mengangguk. "Oh, Katya. Ya, saya kenal. Kami pernah bertemu di Indonesian Embassy. Ada satu lukisannya terpajang di kantor Duta Besar."
"Sudah saya duga." Ia tak lagi kaku seperti patung. Tubuhnya yang jangkung berguncang oleh tawa kecilnya. "Kamu bilang mau memotret saya? Di sini? Seperti ini?"
"Ya. Kalau Anda tidak keberatan?"
"Tentu," ujarnya. "Tidak masalah selama itu untuk keperluan pribadimu. Kamu bukan wartawan, kan?"
Aku menggeleng. "Saya penulis, Senor..."
Ia mengulurkan tangannya. "Estefan. Manuel Estefan."

........

Sejak itu, ia menjadi temanku. Laki-laki yang matanya seperti cokelat  cair. Yang diam-diam menghabiskan sore di Placa de Catalunya, bersama merpati-merpati liar.
Ia bercerita tentang Katya. Gadis yang kukenal tak terlalu dekat, yang kata Manuel adalah salah satu peserta pamerannya.

"Dia sedang pulang ke Indonesia," katanya. "Saya khawatir, ia terlambat ikut pameran."
"Kamu senang sekali bercerita tentang dia," ujarku padanya.
"Dia sangat berbakat."
"Bukan. Bukan itu maksudku. Kamu bercerita tentang dirinya dengan mata yang berbinar-binar dan senyum yang terlalu lebar."
"Qué quieres decir? Apa maksudmu?"
"Sepertinya ini bukan semata-mata tentang pameran dan pelukis yang berbakat."
"Oh, ayolah. Saya selalu bersikap profesional."
"Sí a la derecha. Usted ha intentado, pero no te. Yeah right, you've try, but you failed. Akui saja, Senor Estefan."

Jadi, demikianlah akhirnya.
Estefan, laki-laki bermata cokelat cair itu menunggu Katya kembali ke Barcelona. Berharap Katya masih sempat ikut pameran, katanya. Tetapi ia tak bisa membohongi aku, tentu saja.

Maka, untuk dirinya pula kutulis kisah ini.
"Kau akan menulis kisah ini?" Tanyanya padaku, setelah kami melemparkan remah roti terakhir pada kumpulan merpati kelabu.
"Kamu keberatan?"
"Tidak. " Ia tersenyum. "Katya dan aku akan bertemu di sini besok. Datanglah, dan duduklah agak jauh sebagai pengamat. Kamu tidak akan menyesal melakukannya."
"Memangnya, apa yang mau kamu lakukan?"
"Lihat saja besok, mi bella amiga. Lihat saja besok."

...............................

Just read my new novel 
"Barcelona Te Amo" 
if you want to know what will happened ;)



Image and video hosting by TinyPic

Sunday, March 24, 2013

Barcelona Te Amo. Novel Kedua Sudah Terbit!


Dear Katya,

Kali ini kisah tentangmu. Tentang jalan-jalan sempit beralas batu berabad lalu, tentang angin di sela-sela pilar gotik yang membawa kabar dukamu. Tentang pengorbanan dan harapan untuk membahagiakan seseorang.

Aku menulis. Menggiring benakku melintasi kota yang di tanahnya ditanamkan pondasi-pondasi para seniman. Di gang itu, di Gothic Quarter, kau tahu, sang maestro Picasso membuka studionya untuk pertama kali. Menunjukkan kepada dunia keahliannya memindahkan keindahan ke atas kanvas. Dan Joan Miro menghabiskan masa remajanya di sepanjang jalan bersejarah dan katedral yang dikunjungi Columbus, sebelum menjadi pelukis terkenal. Aku juga bisa melihat puncak katedral Sagrada Familia, mahakarya sang arsitek Gaudi. Lalu berhenti dan menari bersama air mancur ajaib di pelataran Museum Nasional.

Dan aku mengenal Manuel, Kat. Laki-laki yang menyuruhmu melukis dan melupakan kesedihanmu dengan caranya yang tak kau sukai. Ia baik, tapi kau menganggapnya angkuh dan tak punya hati. Berilah padanya kesempatan untuk menjelaskan.

Katya, bahwa aku menulis semuanya untukmu demi kebaikanmu. Agar kau pahami, bahwa pengorbananmu sudah cukup. Hentikan itu sampai di sini, Katya. Karena kau juga berhak untuk mendapatkan hidupmu lagi.

Alexandra dan Evan punya hidupnya sendiri. Biarkan mereka menjauh pergi.
Kau, seperti juga aku, adalah merpati-merpati bebas di alun-alun Plaza de Catalunya. Mari kita terbang. Langit biru sudah menunggu.

Con amor,

- Kireina Enno -

.............................


Hai guys,

Akhirnya Flamenco Project sudah menjadi novel!
Novel kedua saya "Barcelona Te Amo" sudah bisa didapatkan di toko-toko buku terdekat ya. Yuk serbu!
Ini adalah rangkaian dari seri Setiap Tempat Punya Cerita, yang digagas penerbit Bukune dan Gagasmedia.
Kali ini, ceritanya berbeda dengan novel pertama saya "Selamanya Cinta."
Untuk sinopsis, trailer dan bookshelf, check it out di:
Sinopsis 
Youtube's trailer
Goodreads bookshelf
Semoga kalian suka. Happy reading!




Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...