Showing posts with label West Java. Show all posts
Showing posts with label West Java. Show all posts

Tuesday, April 28, 2015

Nyalakan Lampu di Lampegan

Sebuah terowongan. Tidak cukup besar. Temaram, dingin, dan memanggil-manggil untuk ditelusuri. Tetapi, saya bergeming saja. Bertahan hanya beberapa meter dari mulutnya.
Masih ada sisa bau asap dan bahan bakar, yang menguar dari bebatuan dan rel besinya yang licin.

Kereta terakhir sudah lama lewat.

Stasiun Lampegan di Cianjur akhirnya saya datangi. Satu lokasi heritage, tidak jauh dari desa di mana Gunung Padang berada. Kami mampir dulu ke Lampegan, sebelum menuju Gunung Padang. Menyempatkan diri melihat terowongan kereta api kuno itu dan membayangkan sejarahnya.
Tidak ada guide di sana. Sayang sekali.

Stasiun itu memang masih berfungsi, meski hanya untuk satu kereta api dengan rute Sukabumi-Cianjur dan sebaliknya.
Stasiunnya bersih. Sudah tertata dengan cat baru dan pot-pot tanaman hias. Terowongannya juga bersih. Mulutnya juga dicat. Mungkin, karena stasiun ini sering dikunjungi peminat sejarah, sehingga mereka berbenah. 
Lampegan memang mendapat perhatian pemerintah. Setelah sempat runtuh di beberapa bagian pada tahun 2001, stasiun ini dibuka kembali dan difungsikan tahun 2010, dengan peresmian oleh Presiden SBY.

Terowongan Lampegan dibangun oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen, pada periode 1879 - 1882. Tahun tersebut tertulis di pintu atas liang terowongan. Sementara itu, ada beberapa pendapat tentang asal kata "Lampegan". Ada yang mengatakan, berasal dari bahasa Belanda ketika masinis kereta melewati terowongan yang gelap dan menyuruh anak buahnya menyalakan lampu. "Lampen aan! Lampen aan!"
Ada juga, yang mengatakan berasal dari perkataan van Beckman, mandor Belanda yang mengawasi pembangunan terowongan. Saat memeriksa dalam terowongan, ia menyuruh anak buahnya memegangkan lampu. "Lamp pegang!" 

Lamp dalam bahasa Belanda berarti lampu, by the way :D

Jadi, seperti saya bilang, saya tidak masuk terlalu dalam. Tidak sempat menemukan ceruk di dinding untuk menepi ketika kereta api lewat sementara kita tengah berada di terowongan. Saya benar-benar nggak berminat menelusur, karena hawa di dalam dingin dan berangin.
Julie dan Adit ada di depan saya, mencoba berjalan sambil menjaga keseimbangan di atas besi rel. Setelah memotret kaki-kaki mereka, saya memanggil mereka untuk keluar.

"Udah, yuk!"
Adit, seperti biasa, paling sudah diajak sudahan. Padahal, saat itu dialah yang saya khawatirkan. Ia masih sibuk mengutak-atik kameranya. Saya kepengin dia segera pergi ke tempat terang.
"Adit!"
"Iya, iya, bentar, Mbak. Kayaknya batere kameraku low ni..."

Di Stasiun Lampegan, masih ada rumah lama yang sepertinya dulu adalah rumah dinas kepala stasiun. Rumah itu sekarang kosong, meski telah direnovasi dan dicat ulang. Tak jauh darinya ada lingkaran dengan bekas tiang, terbuat dari baja. Mirip semacam tuas atau penggerak.
Kata Aries, kemungkinan itu adalah semacam alat penggeser rel jika lokomotif akan langsir.

Rombongan kami tidak terlalu lama berada di stasiun ini, karena masih harus ke Gunung Padanng. Maka, kami pun segera kembali ke mobil, untuk meneruskan perjalanan yang sudah dekat. 

Belakangan, setelah saya kembali ke rumah, seorang teman asal Cianjur bercerita tentang sebuah kisah tentang terowongan itu.

Menurut kisah yang turun temurun di kalangan penduduk setempat, pada tahun 1882, terowongan Lampegan selesai dibangun. Untuk meresmikannya, Belanda mengadakan pesta dan mengundang penari ronggeng terkenal pada masa itu, Nyi Sadea.

Pertunjukan usai menjelang dini hari, Nyi Sadea pulang diantar seorang lelaki melalui terowongan yang baru resmi itu, Konon, sejak itu keberadaanya tidak diketahui. Nyi Sadea tidak pernah kembali ke rumah. Penduduk setempat menganggap Nyi Sadea sudah diperistri oleh penunggu terowongan.

Wallahu alam ya. Namanya juga mitos penduduk. Yang jelas, buat peggemar kereta api, terowongan Lampegan bisa untuk belajar perkereta apian.


Wednesday, April 22, 2015

Kabut di Puncak Bukit Leluhur

Hujan rintik-rintik yang tadi membuat kami terpaksa berteduh di warung, akhirnya berhenti. Saya memberanikan diri keluar dari warung, sementara teman-teman masih duduk mengobrol riuh rendah. 

Benar, hujan berhenti. Namun langit yang tadi cerah saat kami baru tiba kini mendung.
Ayo menjelajah lagi, kata saya dalam hati. Melangkah memasuki area pemujaan kuno itu. Saya masih harus melihat banyak, memotret banyak, mempelajari banyak.
Beberapa teman seperjalanan diam-diam mengikuti saya di belakang.


Tetiba, angin dingin berhembus kencang dan segumpal asap dingin melayang di atas kepala. Semakin lama semakin tebal. Membawa titik-titik air. Kabut! Seru saya. Ini kabut!
Saya tak mengira akan datang kabut. Dan tahukah kalian seperti apa kabut yang datang itu? Ia tebal, pekat, dingin dan basah. Seperti selimut yang memerangkap tanpa bisa dilepas. Sekeliling kami mendadak gelap dan tampak menyeramkan. Saya merasa sedang terjebak dalam sebuah film horor.
"Ayo kita foto rame-rame!" Teman-teman berseru gembira. Sama sekali tak merasa takut. Saya merasa lega. Setidaknya, mereka tidak melihat apa yang saya lihat bermunculan dari balik kabut.

......

Siang itu, kami berada di atas sebuah bukit yang sebenarnya adalah punden berundak zaman nenek moyang. Kami mengunjungi Gunung Padang, Cianjur. Situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara.
Sudah lama saya kepengin ke sini. Tahu kan, saya ini si Reina yang suka banget arkeologi. Syukurlah akhirnya kesampaian juga, setelah berhasil membujuk Julie untuk merancang open trip ke tempat ini. Waktu tahu kami mau pergi ke Gunung Padang, teman termuda dalam grup kami-Adit-kepengin ikut juga. Senanglah hati karena banyak teman.

Tempat ini persis seperti yang saya bayangkan dan saya baca di internet. Bukit dengan anak tangga curam dan terjal dari susunan bebatuan tanpa semen (untungnya sekarang ada besi susuran tangga), teras-teras berundak, dan batu-batu hitam andesit dengan bentuk columnar jointed (pasak tegak) berserakan dan bertumpukan, sebagian lagi tampak membentuk formasi tertentu.
Ketika yang lain mengerumuni guide yang mengantar kami ke atas, saya berkeliling di teras pertama untuk melihat-lihat dan mengambil foto. Alam di sekitar bukit sangat indah, sungguh. Ada beberapa bukit lain di sekitar Punden Berundak Gunung Padang. Konon, di bukit-bukit itu juga ditemukan artefak-artefak yang mirip dengan artefak di Gunung Padang. Ada punden berundak lebih kecil, juga columnar jointed yang serupa.

Saya berkeliling sendiri, tak mempedulikan orang-orang. Tapi masih sempat sih menyuruh si Juleha alias Julie pasang aksi buat difoto. Dia ini model saya (selain Ricky), dalam setiap perjalanan grup traveling kami. Adit juga saya suruh bergaya bak model. Saya suka ekspresi ala anak SMA-nya. Culun, polos, dan setengah bingung. Hahahaha.

Keindahan seluruh situs pemujaan ini baru tampak jelas ketika saya naik ke Teras Tiga. Teras ini ditandai dengan sebuah pohon tua (saya lupa tanya pohon apa). Pohon ini mungkin juga beringin, menilik akarnya yang bertonjolan dari dalam tanah, mencengkeram bebatuan di sekitarnya.

Berdiri membelakangi pohon ini, akan tampak seluruh teras pertama di bawahnya. Tampak susunan batu-batu kuno membentuk segi panjang, yang menurut guide kami adalah tempat mementaskan ritual kesenian. Di luar formasi batu itu, tepat menghadap ke depan ada dua buah batu memanjang yang jika dipukul dengan batu lagi berdenting seperti bunyi gamelan dan memiliki nada. Batu itu mengandung besi, kata Pak Guide. Dulunya berfungsi sebagai alat musik.

Jadi, saya berdiri di situ. Memejamkan mata. Mencoba membayangkan apa yang dulu terjadi. Sekumpulan orang menari, dua orang menabuh batu, dan yang lain menonton. Saya rasa, mungkin ada raja dan para pendeta.

Di Teras Tiga sampai Teras Lima, kami menemukan batu-batu pasak tegak berserakan. Ada yang rebah tapi masih menampakkan formasi sesuatu, ada yang berlubang disebut Batu Tapak Macan (karena ada lekukan seperti telapak macan), yang mitosnya bekas duduk seorang petapa sakti. Ada sisa-sisa jalan setapak dan lantai batu, lalu guide menunjukkan kepada saya sepetak tanah di tepi Teras Lima yang tampak baru saja diratakan, ketika saya menanyakan bekas eskavasi yang dilakukan arkeolog di tempat itu.

"Apa yang ada di dalam, Mang?" Tanya saya.

Kata guide kami, di bawah sana ditemukan susunan batu andesit lain. Semacam lorong atau apalah, yang usianya jauh lebih tua dari artefak di atasnya. Uji karbonnya dilakukan di Miami, Amerika, katanya. Setelah itu lubang eskavasi ditimbun kembali, sampai penelitian lanjutan ditetapkan.
Gunung Padang diyakini sebagai tempat pemujaan dan berkumpulnya para tetua adat Sunda kuno. Tapi umurnya jauuuh sangat tua dari peradaban Sunda yang kita kenal sekarang. Para arkeolog itu memperkirakan punden berundak ini sudah ada antara periode 2.500-4.000 SM. Tapi batuannya berusia 4.000-9.000 SM.
Artinya, situs ini lebih dulu ada 2.800 tahun sebelum Borobudur, dan lebih tua dari Machu Picchu di Peru.
Diduga sezaman dengan piramida Giza di Mesir. Huwow!

Pokoknya situs ini keren banget, buat yang tergila-gila sama arkeologi kayak saya. Bisa belajar tentang arkeologi, tentang benda purbakala, tentang kebudayaan leluhur
.
Sayangnya, zaman kekinian gini, traveler-traveler muda nggak banyak yang niat mengenal sejarah. Banyak anak muda traveling cuma buat numpang foto-foto di tempat bagus, lalu diunggah ke sosial media. Buat pamer kalau udah pernah ke sana ke sini.


Cih! Kayak lo nggak upload aja, No!
Iye, gue juga suka upload di Instagram. Tapi tujuan gue buat ngenalin keindahan Indonesia ke dunia. Makanyaaa, captionnya pake bahasa Inggris, sampe gue dibilang sok gaya.

Soriii kalau saya agak sinis. Tapi memang begitu kenyataannya. Beberapa kali saya traveling, di tempat wisata yang saya datangi, mayoritas orang cuma datang untuk numpang foto dan selfie. Nggak ngerti konservasi, nggak paham sejarah lokasi, nggak peduli soal sanitasi.
Nggak heran kalau banyak gunung dan cagar alam berubah jadi tempat konser (karena berisik) dan sekotor TPA Bantar Gebang

.......

Saya sedang mengamati sebuah lantai batu di Teras Tiga. Tiba-tiba angin basah berkesiur di sekitar. Kabut kembali datang, kali ini lebih tebal, kelabu dan membawa titik air yang lebih rapat. Dingin dan menggigilkan.

Kali ini, teman-teman saya mulai beranjak satu per satu. Lalu seperti ada yang memberi komando meninggalkan teras-teras atas.

"Pulang, pulang! Keburu hujan!"

Mereka turun menyusuri tepi bukit, menuruni tangga semen yang berbeda dengan tangga batu untuk naik.

Saya dan Adit masih berdiri sejenak di tengah kabut. Tempat itu berubah, terasa lebih magis. Kabut membawa bunyi-bunyian dari masa lalu, dari ribuan tahun sebelum saya lahir di sebuah lereng gunung api purba yang kini menjadi sebuah kota bernama Bandung.

Di dieu asal muasal sakabeh anjeun. Di dieu awal kahirupan.
(Di sini asal mula kalian semua. Di sini awal kehidupan)

Pohon tua itu seakan berbisik. Menyuarakan pesan para leluhur.

"Adit, ayo pergi." Saya menggapai lengannya. Ia masih saja berdiri mematung menatap teras bawah di tengah kabut. Di tangannya, action camera-nya dalam keadaan merekam. "Adit!"
"Ya, Mbak?"
"Ayo! Bantuin jalan, ya. Aku lupa nggak pake kacamata".

Kami berdua turun beriringan. Di belakang saya ada Eva, Aldi, dan Aries, yang akhirnya juga turun setelah keasyikan memotret artefak (Aries peminat sejarah juga).

Kabut tidak mengikuti kami. Ia bergulung-gulung di puncak  punden berundak kuno itu, seolah melindungi tempat itu dari mata manusia.
Ada yang berdiri di bawah pohon besar, menatap lurus ke kejauhan. Sosoknya tak jelas, tetapi tampaknya seorang pria.
Mungkin tadi dia yang berbisik itu. Leluhur.

......

FAKTA GUNUNG PADANG, CIANJUR

Lokasi: Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur.

Ketinggian: 885 mdpl

Luas: bangunan purbakala 900 m2, areal 3 ha. Tetapi diperkirakan areal sebenarnya meliputi 25 ha.

Jenis batuan: andesit, basaltik, basal.

Arti kata padang: padang = terang, atau bisa juga dari kata padahyang = tempat agung para leluhur.

Mitos setempat: reruntuhan dan artefak yang ada di sana adalah peninggalan Prabu Siliwangi yang gagal membangun istana dalam semalam.

Laporan tentang keberadaan situs: dokumen penelitian arkeolog Belanda tahun 1914. Tahun 1979, dilaporkan lagi oleh penduduk setempat ke pemerintah setempat.

Tiket masuk: Rp 4.500/orang, parkir mobil Rp 10.000

Pemandangan dari Teras Tiga

Wednesday, May 7, 2014

Singing-Dancing-Screaming

Throwback

Jangan tugasin si Enno ke konser lagi. Plis, jangan. Dia asik sendiri, bukannya liputan.
Lho, itu gue liputan, Nyuk! Harus menghayati dong supaya artikelnya baguuus!
Aduh No, tapi nggak perlu kan pake ikut jejeritan dan bilang I love you! I love you! Sambil ngangkat-ngangkat ketek! Jaim dikit dong sebagai reporter!
Hahaha. Apa sih lo! Gue kan pake jaket! Mana ada ketek gue tampak! Pokoknya, liputan konser adalah domain gue! Nggak boleh di-rolling. Titik.
Terserah lo deh. Paling entar gue pura-pura nggak semedia sama lo. Malu-maluin.
Hih! Punya kolega manis gini kok maluuuu! *sandal jepit melayang*

.................

Kemarin.
"Tebak coy, gue abis dari mana?"
"Dari WC?"
"Ih lo penting banget sih jawabannya!"
"Lo kan biasanya juga gitu, laporan dari WC."
"Gue abis nonton Kampoeng Jazz di almamater lo, Buluk!"
"Aaaah! Sial!" Giri teriak di seberang sana. Ribuan kilometer dari tempat saya tengkurap di atas tempat tidur. Jam berapa sih di Perth? Tengah malam? Ngapain dia teriak-teriak? Bisa dipanggilin polisi sama tetangga. Dasar si bulukan!

Saya tau kenapa dia teriak. Dia kan emang doyan jazz. Dia doyan segala macam musik sih. Dia bisa main gitar, dan untuk saya, yang sering dimainkannya adalah lagu-lagu kesukaan saya yang ngepop, ngerock dan ngepunk. Sementara, kalau lagi sendirian di kamar, dia suka memetik gitar dengan nada-nada jazzy. Katanya, latihan kepekaan batin. Gaya banget! :))

Jadi begitulah. Siang itu, tanggal 3 Mei, saya dan Niken naik angkot dari kosnya di Sekeloa menuju Kampus Universitas Pajajaran, tempat festival Kampoeng Jazz berada. Dasar si Niken, yang nggak pernah ngelayap kemana-mana (giling ya rugi bingit, kos di Bandung nggak pernah ngelayap-kata gue sih hehe), maka ketika naik angkot ke Unpad, masih harus tanya-tanya dulu. Padahal itu kampus sebenernya jalan kaki juga bisa sih dari daerah Sekeloa, kalau kepepet.

"Mang, ini teh lewat Unpad?" Saya dengan logat Sunda tentunya, berhubung Niken mah Jawa tulen.
"Iyah, Neng. Sok naek, Neng!"
Cus, kami naik. Nggak berapa lama, emang deket sih, Unpad yang pintu gerbangnya terlihat heboh pun tampak.
"Kiri, Mang!" Mobil melaju terus. "Ih si Mamang. Kiriii!"
"Sabar atuh Neng, kagok brenti di tengah jalan raya bisi macet."
Angkot pun akhirnya menepi. Saya celingukan. "Eh, ini teh udah boleh turun?"
"Ya terserah Eneng. Mau apa enggak," sahut si Mamang Angkot kalem.
Baru setelah kami berdua turun dari angkot, ironisme itu terasa dan tawa kami berdua meledak.
"Lha, kenapa tadi gue nanyanya bloon gitu ya?"
"Iyaaa. Makanya si mamang angkot tadi jawabnya terserah mau enggak."
Kami ngakak lagi di pinggir jalan sampai diliatin orang.

Di gerbang Unpad, antrian calon penontonnya banyak euy! Mengular. Dan kami berdua berada di tengah-tengah anak-anak mahasiswa-yang semuanya modis dan fesyenebel. Bandung gitu. Bikin daku merasa kumel jadinya.
Pemeriksaan sebelum masuk juga ketat. Kami diraba-raba #eh. Hahaha. Diperiksa apakah membawa senjata tajam atau tidak. Bawa minuman keras atau tidak. Tapi... masa bawa senjata tajam ke konser jazz ya? Mau bacok pemain saksofonnya kalo fals? :))

Dan masuklah kami berdua ke dalam area konser.
Ada dua panggung yang disediakan panitia. Lounge dan Main Stage. Waktu kami datang, Maliq & The Essentials yang diincar Niken sudah di refrain lagu terakhir. Yaaah... Tapi untunglah, di Main Stage, Maliq langsung disambung dengan penampilan RAN.
Aduuuh Rayiiiii! Hahahaha... Senyumnya manis banget dia! Saya langsung sikut kiri kanan biar bisa ke depan, nempel di pagar pembatas dan bisa mengabadikan senyum Rayi. Ya ampun! Emang manis yaaa...
Hahaha. Penampilan RAN oke banget seperti biasa. Saya belum jingkrak-jingkrak tuh. Baru datang, masih pemanasan. Tapi jerit-jerit juga. Dikiit.

Habis RAN, kami bergegas pindah ke Lounge di areal Fakultas Hukum. Niken ngincer Tulus!
Saya sebetulnya agak malas nonton Tulus hiks.. ada beberapa lagunya yang makjleb. Bener aja, sementara kami kegencet-gencet di tengah lautan mahasiswi yang histeris, pada sebuah lagu, Niken bisik-bisik ke saya. "Mbak, lagumu banget ni." Ish! Pedih... :))

Masih tentang Tulus. Suaranya kalo live gitu lebih gimana gitu ya. Nggak heran cewek-cewek jejeritan dan bawel request lagu. Saya sampai nggak bisa motret. Beneran kegencet-gencet, meskipun msh ada ruang sedikit untuk dance. Itu pun barengan sama para abege itu. Huhuhu. Diriku tak bisa berekspresi...
Masih pula ditambah Niken yang ikut jejeritan, pas di kuping saya. Yaoloh... ternyata dia alay juga ya. Wakakak...

Yang lucu itu, ketika Tulus selesai pentas, depan stage-nya langsung ditinggalin rame-rame oleh penonton. Semuanya berduyun-duyun berlalu meninggalkan tempat. Yang tadinya sesak napas, kini kosong melompong. Jadi rupanya semuanya cuma mau nonton Tulus ya? Hihihi.

Saya dan Niken tentunya bergegas lagi ke Main Stage. Kami mau nonton Krakatau. Lapangan di depan stage masih kosong. Saya bisa cari tempat agak lumayan, nggak terlalu pinggir seperti waktu nonton RAN. Saya pengen motret Krakatau soalnya. Dan Krakatau mentas dengan sukses. Lha mereka paling senior dan termasuk band jazz Indonesia yang legendaris. Lucunya, waktu pembawa acara bilang Krakatau mau main sebentar lagi, beberapa mahasiswi di belakang saya bertanya-tanya satu sama lain, "Yang mana sih ya?"
Tapi begitu, pembawa acaranya nyebutin nama Trie Utami, mereka langsung teriak. "Oh, Trie Utami! Mbak Iie!!!" Lalu jejeritan.

Rupanya mereka lebih mengenal Mbak Iie karena suka jadi juri Akademi Fantasi Indosiar, dan terkenal dengan komennya soal pitch control, hahaha....

Sesi terakhir yang manggung, pas jam 24.00 adalah Tompi featuring Monita. Saya dan Niken cuma nonton dua lagu lalu pulang. Anu... ada yang mau kencan besok paginya... hahaha....
Plus, saya juga harus pulang. Cuma bisa menginap semalam di kos Niken, karena banyak kerjaan di rumah.

Kemarin, ngecek hasil foto dan mindahin semua file dari kamera ke eksternal disk khusus foto. Ngedit-ngedit sedikit, cuma sekedar nostalgia zaman masih suka liputan di Jakarta. Dipajang di Instagram beberapa, sekedar curhat-bukan buat pamer.

Itu pun masih ada yang nyinyir bilang foto saya jelek. Hahahaha....
Lucu deh. Ya biar aja foto-foto konser gue jelek. Secara gue penulis, bukan fotografer. Fotografi cuma hobi iseng gue, bukan passion seperti menulis.
Gue motret untuk dinikmati sendiri. Dan untuk bahan riset tulisan. Kalau serius mau jadi fotografer, kamera yang gue punya pasti yang kelas pro. Beli lensa tele sekalian, lengkap dengan segala aksesoris dan tetek bengeknya. Trus gue beli buku-buku tentang fotografi dan ikut kursus sekalian.

Si Oly, kamera mirrorless saya, itu nggak pernah dianggap alat. Dia teman. Partner traveling. Dia membantu saya merekam jejak dan mengingat pesan.

Hehehe...
Secara garis besar, keren lah acara Kampoeng Jazz 6th. Salut buat Fakultas Hukum Unpad. Nggak cuma berkutat sama pasal-pasal dan yurisprudensi ya hidupnya hihihi...
Cuma kalau boleh saran, lain kali kalo ada panitia yang bodinya segede gajah, plis dong jangan biarkan dia berdiri di depan pagar pembatas penonton. Kalo dia juga mau motret sih nggak apa-apa. Lha ini cuma nonton doang. Ngeblok pemandangan, tau gak. Apalagi yang mau motret kayak saya. Sementara mau maju ke bawah panggung mana bisa. Itu khusus buat media. Hiks.

Padahal para fotografer di depan panggung aja, abis motret minggir dulu. Karena tahu, penonton juga ada yang mau motret dari balik pagar...
Lain kali perhatikan ya, adek-adek. Ngeblooook pisan! Sampe nggak terlalu bagus angle foto-foto RAN gue! Hih! :))

Sekian dan terima kasih :D

Trie Utami dan Krakatau Band

Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, January 22, 2014

The Garut Journey on Photographs

Aloha!
*Pake kalung bunga, tari hula hula*

Karena banyak yang penasaran dengan foto-foto mblusukan Garut Selatan kemarin, maka hari ini saya upload beberapa foto.
Berhubung saya sungguh malas mengambil dan mengedit dari si Oly, kamera mirrorless saya. Maka yang saya bagikan ini dari kamera si Mimin, ponsel saya, yes?
Lumayanlah, daripada lu manyun nggak bisa ikutan lihat keindahan alam Swiss van Java. Charlie Chaplin aja dulu kalo tetirah ke Garut, lho.
Eh, mungkin nggak ya, dia juga ngerapiin kumisnya yg legend itu di sini? Secara, orang Garut banyak yang buka barber shop di Jakarta-Bandung, hehehe...

Please, help me. Akyu mulai random.

Oke lah. Ini sedikit foto dari perjalanan kemarin.
Kenapa cuma sedikit? Yah, saya emang lagi pelit.

Ombak memecah di karang Sponge Bob di Cicalobak.
Karangnya keren!

Pantai Cicalobak di sore yang mendung.
Mirip lukisan.

Pantai Cijeruk Indah

Perlalatan tempur sebelum mblusukan

Wisma LAPAN di Pantai Santolo. Nggak nginap di sini kok.
Thanks God. Kata Apis, berhantu :D
Perkebunan Karet di Sancang

Pantai Cicalobak

Jalan menuju Pantai Sayang Heulang

Before sunrise, Pantai Sayang Heulang


Harus melewati tebing rawan longsor seperti itu, yang sisi lainnya adalah jurang.
Di kiri bawah adalah Gunung Wayang yang seperti batok telungkup.
Kanan atas adalah dermaga kuno peninggalan Belanda di Pantai Santolo.
This pict collage is reproduced courtesy of Google.

Enjoy!


Image and video hosting by TinyPic

Wednesday, January 15, 2014

Ke Swissnya Jawa Paling Selatan

"Oy, Mang Ujang! Numpang lewat, Mang!"
"Emang namanya Ujang? Om kenal sama orang tadi?"
"Enggak."
"Heh? Trus kok negur?"
"Biar akrab ajah. Lagian orang kampung mah nggak jauh dari nama Ujang, Asep, Agus, Entis..."
"Jiaaah..."

Perjalanan saya mblusukan Garut Selatan lumayan menyenangkan. Kami berangkat berempat, termasuk Om Sopir (nggak usah sebut nama lah ya), yang kebetulan adalah mantan sopir tante saya, dan kebetulan lagi orangnya bodor banget. Perjalanan dimulai langsung melintasi rute Cikajang ke arah Pameungpeuk, di bagian selatan Garut. Kondisi jalan menembus pegunungan dan perkebunan bekas pengusaha Perancis (di zaman Belanda), yang kini diambil alih PTP Nusantara. Jalannya beraspal dan mulus, namun penuh kelokan tajam. Seolah belum cukup bikin mabuk dan lemas dengkul, itu jalanan masih pula diapit tebing dan jurang ratusan meter yang rawan longsor di musim hujan seperti ini.

Empat tahun lalu, saya pernah ikut tim Depsos meninjau lokasi bencana longsor di daerah Talegong, kawasan dataran tinggi yang sama. Mengerikan sekali melihat rumah-rumah yang lenyap di balik timbunan tanah merah yang menderu dari atas bukit, jalanan yang terbelah seperti kue ulang tahun dan jurang yang melebar belasan meter, memakan jalan beraspal menjadi hanya bisa dilalui sebuah sepeda motor satu arah.

Karena itu, kemarin saya lumayan waswas. Daerah pegunungan di Garut Selatan tak pernah bisa diprediksi di musim hujan. Longsor bisa datang kapan saja, bahkan ketika hujan sedang berhenti sekalipun. Untungnya, perjalanan lancar. Kami selamat sampai di rumah sepupu saya, di Jalan Cilaut Eureun, Pameungpeuk. Meskipuuun... di tengah perjalanan diwarnai dengan acara mabuk darat.

By the way, sepupu saya baru saja ditugaskan di rumah sakit pemerintah di sana. Dia dokter. Jadi, sekarang lumayan banget saya punya tempat menginap kalau jalan-jalan ke Garut Selatan. Plus, kalau nggak enak badan habis mabuk darat, bisa minta diobatin. Hahaha.

Rumah sepupu saya dekat dengan Pantai Santolo. kami makan siang seafood di salah satu rumah makan langganan keluarga. Sayangnya gerimis datang ketika kami mau bermain di pantai. Sunset yang saya dapat tidak sempurna. Hanya semburat kuning yang muncul sebentar sebelum tertutup awan. Tapi itu pun sudah lumayan, meskipun bikin semangat eksplor jadi turun. Padahal saya kepengin nyeberang ke Pulau Santolo dengan perahu nelayan, dan memotret dermaga kuno peninggalan Belanda yang ada di sana. Mungkin lain kali. Toh, rumah sepupu saya selalu terbuka untuk menampung hehe...

Esoknya, subuh-subuh, saya sudah ribut sendiri. Rumah tetangga sepupu saya yang berprofesi tukang ojek digedor untuk mengantar saya ke Pantai Sayang Heulang, memotret sunrise.
Orang-orang kampung di Garut Selatan terbukti lebih ramah dan baik hati daripada orang-orang di kampung saya yang mata duitan. Si bapak ojek dengan senang hati ngebut ke Sayang Heulang demi mengejar sunrise. Dan Allah Maha Baik. Matahari terbangun dengan indah di depan mata saya, dan para pemburu sunrise lainnya di pantai itu. Iya, bukan cuma saya yang menunggu sunrise di sana. Ada beberapa pemuda duduk di atas karang-karang yang terendam air pasang. Begitu matahari muncul, mereka bersorak dan sibuk berfoto dengan latar matahari terbit. Motivasi mereka buat narsis sih ya. Beda dengan saya hehe...

Karena hari sudah terang, saya baru menyadari bahwa jalan menuju Sayang Heulang ternyata indah banget. Menghijau oleh pepohonan dan persawahan. Sejuk sekali mata saya. Baru deh, saya ngajak ngobrol si bapak ojek. Waktu berangkatnya sih diam, karena lagi degdegan nggak dapat sunrise.

"Pemandangannya bagus banget ya, Pak."
"Iya, Neng. Beda sama kota. Eneng teh sodaranya Dokter Lukman? Orang mana, Neng?"
"Saya orang Jakarta." Jangan salahkan saya kalau saya jawab begitu. Memang saya orang Jakarta. Kadang ada tuh orang-orang yang mengira saya jawab begitu biar dianggap keren. Lho? Nggak harus jadi anak Jakarta kalau mau dianggap keren, kali!
"Oh, pantesan pakai bahasa Indonesia."
Yah. Lagi malas pakai bahasa Sunda aja sih, Pak. Mikir buat translate-nya capek.

Begitu saya sampai rumah lagi, sarapan sudah tersedia. Setelah makan, kami berempat meninggalkan rumah sepupu saya untuk melanjutkan mblusukan. Kali ini, kami meminta Om Sopir mengarahkan mobil ke rute yang menuju Tasikmalaya, melalui daerah Sancang, Kecamatan Cibalong.

"Nanti, kalau udah di daerah Sancang, nggak boleh ada yang nyebut maung atau harimau, ya." kata si Om.
"Emang kenapa?" Saya pura-pura nggak ngerti. "Bakal muncul harimau gitu, ya?"
"Iyah. Makanya, nggak usah nyebut-nyebut itu, Mbak."
"Wah malah bikin penasaran. Jarang-jarang kan lihat harimau."
"Duh, si Embak mah suka nyengajain sih orangnya..." Om Sopir ngeluh, putus asa. Hahaha.

Mobil kami sudah menembus jalan lintas propinsi yang ke arah perbatasan Garut-Tasikmalaya. You know what, daerah Sancang itu ternyata keren banget! Saya kepengin teriak-teriak senang rasanya. Jalanannya meliuk-liuk, masih bikin mabuk. Tetapi kali ini, kami tidak mabuk karena disuguhi pemandangan indah di kiri kanan jalan. Kami melintasi jembatan, yang di bawahnya mengalir sungai yang melewati hutan nun jauh di sana. Kami juga melewati perkebunan karet Mira Mare milik PTP Nusantara VIII. Sinar matahari berkilauan menembus sela-sela daun dan dahan karet. Rumputnya hijau seperti permadani, dan ada banyak sapi-sapi sedang santai memamah biak.

Rencananya, kami akan mampir istirahat di rumah kenalan si Om Sopir di sekitar kawasan Mira Mare. Tetapi ternyata, orangnya sudah pindah ke desa Karang Paranje. Kami berputar balik arah. Ajakan saya mampir ke Hutan Sancang dulu, tiada yang menggubris. Pasti takut.

"Takut maung?" Tanya saya sengaja.
Semuanya mendesis mendengar saya mengucapkan dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya itu. Buat yang belum tahu sejarah Hutan Sancang, marilah saya kasih tahu legenda penduduk Garut dan Jawa Barat umumnya. Bahwa hutan lindung bertaraf internasional ini konon tempat menghilangnya Prabu Siliwangi dan para pengikutnya. Menurut legenda, sang Prabu berubah menjadi harimau putih, sementara para pengikutnya menjadi harimau loreng dan sebagian lagi menjadi pohon kayu Kaboa.

Jadi begitulah.
Dalam perjalanan menuju Karang Paranje, kami mampir di Pantai Cijeruk Indah. Tidak seberapa bagus, karena ini pantai muara. Banyak sekali rerimbunan mangrove di sini. Bahkan, menuju pantainya pun, kita harus melalui lorong tanaman bakau.
Di pantai ini ada kejadian tidak enak, yang malas saya ceritakan. Sudah diceritakan di Instagram saya, sih. Jadi, mari kita tinggalkan Cijeruk Indah yang tidak indah menurut saya.

Nah, ternyata....
Saya yang sok berani sama harimau Sancang, malah ketakutan beneran di Karang Paranje. Tempat ini adalah sebuah desa di pinggir pantai yang penuh dengan karang-karang setinggi rumah. Teman si Om berhasil kami temukan, dan kebetulannya rumahnya hanya selemparan batu dari jembatan menuju pantai. Kami dipersilakan kalau hendak main di pantai.

Sambil mengangguk-angguk, saya mengiyakan tawaran main ke pantai. Tapi kok perasaan saya nggak enak? Saya pernah dengar, asal mula nama Karang Paranje ini karena suka ada suara ayam berkokok dari arah karang-karang besar di pantai ini, konon jika bakal terjadi musibah. Itu sebabnya disebut paranje yang artinya kandang ayam.

Karena perasaan saya nggak enak, saya cuma sebentar di pantai ini. Selebihnya menunggu di dalam mobil. Tumben ya, saya takut. Masalahnya, hawa yang saya rasakan itu hawa jahat, cyiiin.
Negatif banget. Pekat. Bikin saya sesak napas. Mirip seperti waktu saya ke ruangan paling atas di Lawang Sewu.

Belakangan, sepulang dari perjalanan, saya dapat informasi, kalau di pantai ini banyak orang bertapa untuk minta nomor togel. Pantaslah. Mahluk halus yang dimintai tolong manusia biasanya jadi belagu, karena merasa dibutuhkan. Padahal, mereka tahu manusia lebih mulia derajatnya. Gimana nggak ge-er, coba?

Jadilah di Karang Paranje kami cuma sebentar, karena saya yang biasanya bikin lama (motret dan mondar-mandir nggak jelas), malah menunjukkan gelagat nggak betah.

Dari Kecamatan Cibalong, kami pindah ke Kecamatan Caringin. Rencananya mau sholat Zuhur dan makan siang di pantai Rancabuaya. Tetapi di pertengahan jalan, mobil kami dihadang onggokan truk yang terperosok di jalan tanjakan berlumpur. Hidung truk terbenam sepenuhnya di dalam lumpur. Gila! Untungnya, ada lho yang nunjukin jalan alternatif. Jalannya ternyata melewati rumah-rumah penduduk yang benar-benar asli, masih panggung dari papan dan kayu. Wah, ini sih namanya beneran mblusukan! Keren!

Sampai di Rancabuaya, kami sholat dan makan siang dengan seafood lagi. Setelah itu, kami beranjak ke Kecamatan Mekar Mukti untuk mengunjungi pantai Cicalobak.
Nggak nyesel ke pantai ini. Pantai teluk dengan karang-karang datar berlubang-lubang seperti kulit spons. Saya bahkan berfoto narsis di sini. Soalnya view-nya bagus hehe.

Sehabis dari Cicalobak, kami pulang. Mengambil rute Kecamatan Bungbulang. Si Om Sopir sengaja tuh. Dia nggak mau lewat kawasan Gunung Gelap di Kecamatan Cisompet, yang selalu berkabut setiap hari. Kabut di sana tebalnya bikin jarak pandang cuma satu meter. Kadang-kadang setengah meter.

"Kita lewat Gunung Wayang aja daripada Gunung Gelap."
Semua terkesiap.
"Kira-kira, jam berapa kita lewat Gunung Wayangnya?"
"Masih sore, masih terang."
"Yakin, Om? Ciyus? Sumpeh?"
"Yakiiin. Deket kok dari sini."
Para cewek degdegan. Padahal lewat Gunung Gelap juga sama seramnya sih sama Gunung Wayang, karena dulu kawasan itu tempat membuang mayat para preman saat pemerintahan Soeharto.

Tapi tetep sereman Gunung Wayang.
Yang disebut Gunung Wayang adalah sebuah bukit batu granit hitam. Mirip batok kelapa yang ditelungkupkan. Dindingnya yang hitam legam dan licin itu menjadi sisi tebing jalan yang dilewati mobil. Itu kawasan yang sunyi dan ada di tengah hutan dan persawahan. Disebut Gunung Wayang, karena jika kita lewat situ malam-malam, suka terdengar suara gamelan wayang sayup-sayup dari arah bukit batu itu. Banyak kisah horor diceritakan orang-orang yang pernah melewati kawasan ini malam-malam. Bahkan, Kapolsek setempat mobilnya pernah ditumpangi hantu! Hahaha.

Kami melewati Gunung Wayang dengan selamat tentunya. Karena masih sore dan terang benderang. Si Om menawari saya berhenti untuk memotret si gunung. Saya menggeleng kuat-kuat. Aura di tempat itu juga nggak enak. Nanti kalau ada yang ikut terfoto gimana? Apalagi, di bawah sebuah pohon yang kami lewati saya melihat sosok perempuan. Dia pakai payung merah di sore nan teduh tak berhujan, cobaaa...

"Kalo nama umum cewek desa Jawa Barat apa ya, Om?"
"Eneng, Euis, Kokom, Popon... Banyak."
"Oh, oke." Saya melambai keluar jendela. "Permisi, ngiring ngalangkung (numpang lewat), Teh Euis!"
"Teh Euis siapa?" Yang lain bertanya sambil nengok keluar.
"Yang tadi di pinggir jalan."
"Nggak ada siapa-siapa dari tadi."
"Oh, masa sih? Oke deh." Saya mingkem. Sementara yang lain jadi galau. Hahaha.

..............................

Rombongan kami tiba di kota jam sembilan malam. Dalam kegelapan hutan, tebing dan jurang, mobil kami merayap menuruni pegunungan selatan Swiss van Java. Bayangkan serunya! :)


Sunrise di Pantai Sayang Heulang, Garut Selatan.
pict by me.



Image and video hosting by TinyPic

Saturday, February 16, 2013

Rain Journey: Catching The Sunset

Tahu nggak, saya dapat sunset yang indah di pantai Ranca Buaya kemarin.
Pernah lihat matahari berwarna merah jambu tua yang bulat sempurna dan besar? Sangat besar dan sangat dekat, seolah-olah bisa disentuh kala kita mengulurkan tangan?

Matahari yang saya lihat kemarin surut dengan anggun ke balik cakrawala. Menyisakan semburat merah jambu dan marun di ufuk barat. Saya dan Wuri berdiri terpaku setelah menjepretkan kamera kami mengabadikan keindahan itu.

"Sampai ketemu lagi, Matahari!" Saya berseru sambil melambaikan tangan. Iya, norak memang. Tapi seumur hidup saya, itu adalah sunset paling bagus dan paling jelas yang pernah saya lihat.

Yup. Saya dan Wuri mblusukan wilaya Garut Selatan beberapa hari yang lalu. Wuri baru pulang dari Gunung Papandayan dan mampir ke rumah. Saya senang karena punya kesempatan 'balas budi.'
Soalnya kalau saya ke Jogja, saya pasti merepotkan keluarga Wuri karena tinggal di sana. Hehe..

Saya itu mana tahu tentan pantai Ranca Buaya, kalau saja tidak disebut-sebut dalam novel Perahu Kertas. Tapi dimasukkannya pantai itu ke itinerary sebetulnya bukan karena saya pura-pura jadi Kugy dan kepengin disusul Keenan (Adipati, susul akuuuh! -prett!). Ranca Buaya sebetulnya letaknya lebih dekat dari kota dibandingkan pantai-pantai lain seperti Santolo, Sayang Heulang, dan lain-lain di Pameungpeuk. Dengan catatan, kita naik angkutan umum rute langsung Ranca Buaya - Garut Kota.

Pukul setengah 10 pagi, waktu kami berangkat dari kota, ternyata kami nggak sengaja malah naik jurusan Pameungpeuk. Berputar-putarlah kami melalui rute-rute 'yang tidak seharusnya.' Pukul 12 siang, mobil elf yang kami tumpangi menyusuri jalan pegunungan di Kecamatan Cikajang yang berkabut tebal. Untungnya, mobil berhenti di rumah makan dan seisi mobil turun untuk makan siang dulu.

Untung saja saya dan Wuri memutuskan ikut makan siang. Karena ternyata perjalanan masih jauh, sodara-sodara! Hahaha...

Kami tiba di Cikelet (masih kawasan Pameungpeuk) sekitar pukul setengah 3 sore. Bayangkan! Jam segitu harusnya saya sudah sampai Jogjaaa!!! Aaarrgghh!
Dan sebelnya lagi, rute ini melewati semua pantai-pantai di Pameungpeuk! Pantai Ranca Buaya malah jadi salah satu yang paling ujung.
Ngiler dong waktu mobil elfnya melewati pantai Santolo dan Sayang Heulang yang landai dengan ombak putih bergulung-gulung. Pengen turuuuun! Tapi kami harus konsisten dengan tujuan awal, sodara.

Ternyata jam segitu sudah nggak ada lagi angkutan yang langsung ke Ranca Buaya, pilihannya adalah ojek. Kami menumpang motor Pak RW setempat yang kebetulan lewat. Karena pangkalan ojek masih nun jauh di Cijayana, katanya. Itu masih di ujung-ujung sana deh pokoknya. Jadilah satu motor butut itu dinaiki bertiga, melewati rute yang naik turun curam dan jalanan yang rusak berat.
Saya curiga Pak RW yang biasa dipanggil Abah itu sakti. Soalnya tanjakan tegak lurus yang harusnya nggak mungkin dilewati motor butut dengan tiga penumpang ternyata bisa ditaklukan juga. Gila euy!

Ngomong-ngomong, pernah dengan tempat yang namanya Puncak Guha?
Si Abah mengajak kami mampir dulu ke situ. Tempat itu berupa puncak sebuah bukit yang menjorok ke laut lepas. Tebing-tebing di bawahnya dipenuhi tonjolan batu karang dan riuh oleh debur ombak. Bukit ini ditumbuhi rumput hijau yang rata kayak sengaja dipangkas tukang kebun. Pemandangannya juga bikin Wuri foto-foto narsis melulu. Haha. Bayangin aja, depan kamu laut lepas dengan ombak memecah di beting-beting karang. sedangkan di kiri, kanan dan belakangmu sejauh mata memandang adalah sawah hijau dan pegunungan. Waktu kami masuk ke sini sih gratis, wong nggak ada pintu masuk atau apa pun. Seolah-olah bagian dari kebun sebelah rumah gitu deh. Hihi. Ada juga emak-emak penggembala kambing yang lagi tidur dan kambing-kambingnya yang berkeliaran di situ.

Setelah dari Puncak Guha, kami kembali meneruskan perjalanan. Dari Cikelet ke Ranca Buaya dengan motor itu sekitar 1 jam. Bokong saya, masya Allah, udah berasa gepeng segepeng-gepengnya nempel di jok motor.

Untungnya, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan unik. Sawah menghijau sepanjang garis pesisir dan sungai-sungai kecil yang bermuara ke laut. Keren, saya nggak bohong.

Kami sampai di Ranca Buaya pukul 4 sore. Agak kecewa dan super capek karena perjalanannya nggak disangka lama dan jauh banget. Tapi agak terhibur waktu Abah bilang, sunset di situ bagus banget. Kami lalu menyewa penginapan murah seharga 100 ribu per malam. Isinya cuma kasur dan kipas angin. Eh, dikasih welcome drink lho, teh manis panas! Hihi..

Kami berkeliaran sambil motret-motret, nunggu sunset yang katanya bagus itu. Dan memang bener. Bagus banget!

Sayangnya, nggak ada sunrise di pantai ini karena tertutup perbukitan. Kami memutuskan pulang pagi dengan angkutan langsung Ranca Buaya - Garut kota. Sopirnya ditelepon lho sama pemilik penginapan. Baik ya. Setengah enam pagi kami dijemput di depan penginapan. Udah kayak naik travel.

Dan tibalah pada bagian menyeramkan dalam postingan ini, sodara.
Rute ini off road habis! Elf sarat penumpang dan barang harus melalui jalan pegunungan yang melingkar-lingkar di bibir jurang. Setiap kali terguncang, mobil miring ke arah jurang. Mana saya duduk di dekat jendela pulak! Sepanjang jalan saya nggak berhenti berzikir, sementara Wuri berusaha tidur, yang mana tidak  mungkin bisa karena bokong kami terlempar-lempar di jok nyaris separuh perjalanan.

Jalan yang kami lalui ini nyaris berupa jalan setapak yang diperlebar sekedar bisa dilalui satu mobil, diperkeras dengan batu-batu dan di tepi jurangnya sama sekali tidak ada pengaman. Sementara sisi satunya lagi adalah tebing yang rawan longsor. Ini adalah jalan peninggalan masa kompeni, yang dulunya dipakai penjajah untuk mobilisasi pasukan dan logistik.

Di wilayah Cikajang, jalanan kembali normal. Tetap berkelok-kelok membelah perbukitan, tapi lebar, dua arah dan beraspal bagus.

Kami turun di depan pintu masuk menuju Curug Orok, karena tempat itu juga ada dalam itinerary (sebelum mblusukan Garut Selatan, kami sempat ke Candi Cangkuang). Setelah sarapan popmie dan segelas susu hangat, kami menuju curug. Dari jalan raya ke curug bisa ditempuh jalan kaki sekitar 500 meter, melewati perkebunan teh dan pemandangan perbukitan yang indah, Ternyata selain Curug Orok, ada juga Curug Kembar di kawasan ini. Kami nggak ke  Curug Kembar karena katanya lokasinya lebih mblusukan dan licin.

Tentang Curug Orok, sila baca postingan Hans yang INI. Curug ini suasananya emang agak spooky sih. Cuma saya nggak bilang Wuri, yang sibuk minta dipotretin dengan berbagai pose.
Kami nggak lama di sini, karena nggak istimewa amat lah. Mana sepi banget. Pengunjungnya bisa dihitung jari selama kami sedang di sana.

Jalan kaki lagi ke jalan raya dan akhirnya menumpang elf jurusan Garut Kota untuk menuju Cipanas. Kami menginap di sana untuk istirahat dan berendam air hangat belerang.

Kalau boleh disimpulkan. Trip kali ini adalah blind trip. Kami benar-benar jalan tanpa persiapan pengetahuan dan mental. Benar-benar nggak mengira harus melewati perbukitan teh dipenuhi kabut tebal yang mematikan jarak pandang, boncengan motor bertiga di jalan yang curam, dan menantang maut di rute off road dengan mulut jurang menganga nyaris separuh perjalanan. Fyuh!

Saya senang punya partner jalan seperti Wuri. Sama sekali nggak terdengar dia ngeluh atau ngomel. Dia hanya terlalu suka berfoto. Hahahaha...

Minggu depan, saya jalan ke Bromo dengan B. Kali ini, saya mau berburu sunrise.
.
Tunggu Rain Journey berikutnya ya!
Kiss kiss!


Pemandangan depan penginapan. Foto-foto lain belum diedit.
 Nyusul yak!  :D


Image and video hosting by TinyPic
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...