Thursday, February 28, 2013

Rain Journey: Sebuah Pagi di Atas Selat

Hello guys!

Akhirnya saya menulis lagi. Well, ini akan menjadi catatan yang random tentang perjalanan ke Surabaya, Bromo dan sekitarnya kemarin. Hari dan tempat tidak akan dibuat runut. Saya akan menceritakannya sesuai mood saja. Dan hari ini, saya ingin bercerita tentang jatuh cinta.

Jatuh cinta? Lagi? Bukannya lo punya pacar? Pasti pada nanya begitu. Ya emang jatuh cinta sama pacar saya. Jatuh cinta lagi sama dia. Gara-gara suatu pagi yang dingin, waktu matahari baru saja terbit, dia membawa saya melintasi selat dengan motornya.

Tebak, selat apa?

Jadi ceritanya begini. Dia membangunkan saya di penginapan. Oh, saya sudah pernah bilang belum kalau dia tinggal di Surabaya? Oke, jadi pagi itu, ketika malamnya saya diantar pulang dengan wajah cemberut karena sakit perut (bukan gara-gara dimsumnya, Sayang), paginya dia menculik saya. Menyodorkan helm dan menyuruh saya cepat-cepat naik ke boncengan motornya. Saya tanya mau kemana, dia (seperti kebanyakan cowok yang nggak suka dibantah) bilang: udah, ikut aja.

Saya malas berdebat pagi-pagi dalam keadaan masih mengantuk dan sisa-sisa bad mood. Jadi saya membiarkan dia membawa saya melintasi jalanan Surabaya di hari Minggu yang masih dingin dan sepi. Kemana? Entah. Tahu-tahu, saya merasakan hawa pesisir dan angin laut. Pinggir kota? Okay, I got the clue.

Dan dugaan saya benar ketika saya membaca penunjuk arah berwarna hijau di pinggir jalan. Saya kepengin tersenyum lebar sebetulnya. Tapi berhubung masih jaim gara-gara bad mood, saya bergembira dalam hati.

Dan jembatan yang terkenal itu akhirnya membentang di depan kami. Suramadu! Menghubungkan dua pulau yang sebelumnya dipisahkan perairan dan lalu lalang kapal feri. Saya sudah lama kepengin ke Madura. Sekedar menginjak tanahnya, menghirup udaranya, menatap langitnya, dan bilang ke orang-orang: hei, gue udah pernah ke Madura!
Saya sudah lama penasaran dengan jembatan ini sejak dia dibangun dan diresmikan. Berjalan di atas selat Madura, di atas laut. Bukankah itu keren? Rasanya hampir mirip seperti sihir. Okay, saya lebay. Gimana kalau saya bilang, itu lumayan terkesan futuristik? Dua pulau bisa dihubungkan dengan hanya sebuah jembatan. Lain kali, dua buah planet dihubungkan dengan sebuah penerbangan biasa. Who knows? 

Tiang-tiang jembatannya yang seperti senar harpa, berwarna oranye, berbaris cepat dalam penglihatan saya. Dia sengaja melajukan motornya tidak terlalu kencang, supaya saya bisa menikmati perjalanan dan pemandangan di sisi jembatan. Matahari merah yang masih muda melayang di bahu kanan, sementara kami melaju di sisi kiri jembatan.

"Sunrise-nya malah di sini!" Dia menepuk lutut saya dan menunjuk si matahari. Kami ketawa, mengingat kegagalan kami mendapatkan sunrise di Gunung Bromo, beberapa hari sebelumnya, yang nanti akan saya ceritakan kalau sudah mood. Hehehe.

Kalau kalian pernah menyeberangi Jembatan Suramadu dengan mobil, coba deh sekali-kali menyeberang dengan motor. Pagi-pagi, saat angin dari samping belum kencang dan membuat motormu oleng. Angin laut pagi-pagi itu segar sekali. Pemandangan laut dengan para nelayan yang mencari kerang dan udang di pantai yang lebih dalam juga menarik untuk diperhatikan. Sayangnya, jembatan itu jalan tol, jadi tidak boleh berhenti untuk sekedar mengambil foto. Hehehe...

Again, seperti yang biasa dia lakukan, pacar saya berhasil menghibur saya. Mood saya mencair sudah.
Apa lagi saat kami sudah meninggalkan ujung pantai terakhir pulau Jawa dan benar-benar berada di atas perairan Selat Madura. Ya Allah, ini di atas laut! Pikir saya dengan gemetaran. Saya tegang. Berandai-andai jembatan tiba-tiba runtuh dan kami kecemplung ke laut. Saya nggak bisa berenaaaang! Hiks...
Tapi tetap saja saya merasa exciting. Dan itu membuat saya akhirnya beneran tersenyum lebar dan mulai bawel lagi, mengomentari pemandangan. Hahaha.

Ketika motor yang kami tumpangi akhirnya menjejak daratan pesisir Bangkalan, Madura, saya teriak. Maduraaa!
Dia yang di depan saya ketawa. Sudah tahu kalau saya memang segitu noraknya. Menyusuri akhir jalan itu sampai ujung persimpangan untuk ke lokasi-lokasi lain, akhirnya dia memutar balik motornya menuju arah Surabaya lagi. Huahahaha....

Saya sebal sebenarnya. Saya pikir hari itu kami akan bertualang di Madura. Mengingat dia pernah tinggal cukup lama di daratan ini. Ish! Malah putar balik! Tapi dipikir-pikir gimana mau bertualang. Saya nggak bawa apa-apa. Cuma tas selempang dan bahkan belum mandi. Iya sih saya bawa kamera. Tapi chargernya aja ditinggal di penginapan.

Pulang ke Surabaya, kami melintasi Suramadu lagi. Karena sulit memotret, akhirnya saya memfilmkannya saja. Untuk kenang-kenangan sendiri. Lagipula obrolan saya dengan dia ikut terekam. Tawanya ada di sana. Saya bisa putar lagi kalau sedang kangen :')

Kami sampai lagi di Pulau Jawa bagian Surabaya.
Memotret sedikit kegiatan hari Minggu warga setempat di taman kota di bawah jembatan Suramadu. Pemerintah kota membangun taman ini untuk kegiatan warga berolahraga, jalan-jalan, bahkan mungkin untuk menggalau juga. Banyak yang jalan pagi, stretching, main odong-odong, duduk nongkrong, bahkan pacaran. Boleh juga tuh! Hahaha...

Hari itu masih panjang. Kami melanjutkan acara dengan berburu foto di bagian kota lama, sekitar Kya Kya, pecinannya Surabaya. Itu akan saya ceritakan di bagian lain ya. Karena tulisan ini tentang jatuh cinta.

Maka, kalau ada orang yang masih bertanya kenapa saya bisa jatuh cinta sama dia. Jawabannya cuma satu. Karena dia satu-satunya orang yang selalu membuat saya merasa baik-baik saja. Yes, you are, darling...

........................

Note:

Dear kamu,
Tahukah, jika ada yang bertanya mengapa aku jatuh cinta padamu, jawabannya adalah bukan 'karena kamu baik'? Atau jawaban lain semacam itu, yangmenyiratkan bahwa kamu orang 'baik.' 
Aku sudah lama tak percaya pada laki-laki yang kelihatan baik. Sorry to say, bahwa penampakan luar terkadang sangat mengecoh, bisa sangat menyembunyikan kebobrokan di dalam. 

Suatu ketika, di episode jauh sebelumnya, aku pernah jatuh cinta pada 'orang (yang tampak) baik.' Tapi ternyata hatinya seperti warna tinta yang pekat. Ia membuatku merasa seperti benda yang bisa dipilih, lalu dibuang. Maka sejak itu, aku tak percaya lagi pada orang yang katanya baik. 

Aku jatuh cinta padamu, berkali-kali nyaris setiap hari.
Semata-mata bukan hanya karena kamu baik, melainkan karena kamulah yang membuatku baik-baik saja.

Love you.

The hand that keeps me warm and stronger ^^
(this photo is my personal property)


PS:
Yang ngarep foto-foto perjalanan, di next episode ya. 
Karena ini tentang jatuh cinta, makanya fotonya tangan dia. Hihihi...


Image and video hosting by TinyPic

13 comments:

Anonymous said...

bu penulis...kamu kok pelit bangets sich berbagi foyo si patjar :)...kan penasaran klo cuma baca ceritanya saja :)
tp ceritanya mengandung romantis....


-ika puspita-

Arman said...

ke surabaya makan soto madura dan kupang lontongn gak no? :P *yang dipikirin makanan doang.. *

f4dLy :) said...

Kok gak mampir2 aja dulu di beberapa tempat di madura? lumayan liatin aktifitas orang-orang di hari minggu :)

chiekbvo said...

aku juga mau kesana bulan depan * insya allah* temanya travelling nanti, mengejar sunrise..ihiyyy :D

riyanto perdana said...

Enno, Jembatan Suramadu itu kalo dinikmati berdua saja di malam hari akan terasa lebih romantis. Lampu jembatan yang berwarna-warni, desir angin yang berbisk mesra serta suara gelombang air laut yang mendinginkan hati bakal bikn enno kian mabuk cinta.

Trust me, karena saya org surabaya asli.

Tapi Enno tak tahu ya, ada 'kutukan' disana. Siapapun yang datang dan melintas disana bersama kekasihnya akan putus hubungan dalam wkt yg tak lama.

Waduhhhhhh ....

Enno said...

@ika: dia bukan dari kalangan artis, jd katanya gausah ditampilin. ckp aku aja yang tampil yah :))

@arman: ga tll fokus ke kuliner, man. yg khas sana cm makan lontong balap sama soto pak sadi. selebihnya gimana mood memanggil ajah :))

@fadly: lha itu, si mas langsung puter balik. lagian jadwal di sby padat *gaya*

@chie: mo kemana? ke bromo? mudah2an beruntung ya. klo musim hujan kabutnya bikin pengen nangis gara2 ngalangin matahari haha

@riyanto: yaoloooh mas arik, kutukannya klise amiiit hehehe... kesian lha org madura yg mo ngenalin pacarnya org sby. piye nyebrangnya? berenang? :P

daun sirsak ace max said...

jadi penassaran deh nunggu episode selanjutnya

cara mengobati kelenjar tiroid said...

asiikk so sweet banget

Selfish Jean said...

Just want to clear the throat.

EHEM.

:D

riyanto perdana said...

Kan ada penyeberangan lewat kapal di perak sby. Yaa semoga cursenya tdk berlaku buat enno ya ...

Enno said...

heuheu... mas arik mah hari gini masih percaya kutukan jembatan. ampuun! :))

Fenty Fahminnansih said...

ennooo .... kok ke surabaya gak bilang2 siih, kan pengen kopdar, huhuhuhu ....

Rona Nauli said...

apa? pagi2 lewat suramadu n ga turun? aturan turun ajaaaa, mumpung sepi :p

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...