Friday, January 4, 2008

Alice di Negeri Ajaib

-Jabberwocky, by Lewis Carroll-

'Twas brillig, and the slithy toves
did gyre and gimble in the wabe.
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.
"Beware the Jabberwock, my son!
The jaws that bite, the claws that catch!
Beware the Jubjub bird, and shun
the frumious Bandersnatch!"
He took his vorpal sword in hand:
Long time the maxome foe he sought-
So rested he by the Tumtum tree,
And stood a while in thought.
As in uffish thought he stood,
The Jabberwock, with eyes of flame,
Came whiffling through the tulgey wood,
And burbled as it came.
One, two! One, two! And through and through
The vorpal blade went snicker-snack.
He left it dead, and with its head
He went galumphing back.
"Has thou slain the Jabberwock?
Come to my arms, my beamish boy!
O frabjous day! Calloh! Callay!
He chortled in his joy.
'Twas brillig, and the slithy toves
Did gyre and gimble in the wabe:
All mimsy were the borogoves,
And the mome raths outgrabe.

***
Swimming

Gue tumbuh bersama dongeng Alice di Negeri Ajaib yang di negerinya Eyang Ratu Elisabeth II berjudul asli Alice’s Adventures in Wonderland, tapi baru kemaren gue nyadar kalo penulisnya adalah laki-laki. Duh, dasar bloon. Kemane ajeee…?
Iya lho, padahal jelas-jelas gue tau penulisnya namanya Lewis Carroll. Lewis kan nama cowok. Kecuali dalam otak gue yang terbayang ejaannya adalah Louise Carol? Bisa jadi gue terjebak.

Gara-garanya gue baca artikel soal Alice di Ruang Baca Koran Tempo edisi 30 Desember 2007. Disitu dibahas soal si Carroll tersebut diatas. Deeeuuhh.. ternyata dikau adalah laki-laki ya hehehe…

Alice and Catterpillar

Tentang Carroll
Nama aslinya Charles Lutwidge Dodgson, lahir 27 Januari 1832 di sebuah desa kecil Daresbury, Cheshire, Inggris. Dia anak ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya seorang pendeta.
Selama bersekolah di sebuah sekolah khusus anak laki-laki, Richmond Grammar School, Dodgson kecil mulai menulis cerita untuk majalah sekolah. Tetapi di sekolah itu dia pernah disiksa oleh murid lain – sebuah pengalaman yang mungkin menjelaskan preferensi kehidupannya atas gadis-gadis kecil.
Alice di Negeri Ajaib awalnya terinspirasi dan ditulis untuk sahabat kecilnya, Alice Liddell, puteri dosennya. Awalnya berjudul Alice’s Adventures Underground. Novel itu selesai tahun 1864, tapi tidak pernah diterbitkan. Namun novel tersebut menjadi dasar bagi novel Alice’s Adventures in Wonderland yang terbit setahun kemudian. Nama samaran Lewis Carroll sendiri sudah dipakai Dodgson sejak 1856. Tahun 1875, sekuelnya berjudul Through the Looking Glass terbit.
Selain sebagai penulis, Dodgson juga dosen matematika dan menekuni fotografi dan menjadi fotografer kenamaan.
Mulai 1930-an, novel Alice banyak mendapat perhatian para kritikus sastra dan psikoanalis. Novel ini dianggap mencerminkan budaya masyarakat Inggris kala itu (abad 19). Alice dialihkan ke dalam berbagai bahasa, selain itu diadaptasi untuk layar lebar, acara televisi dan lagu. Begitu juga puisi berjudul Jabberwocky yang ada dalam novel itu diterjemahkan, meski dengan susah payah. Masalahnya, Dodgson menggunakan istilahnya sendiri dalam menyusun puisi itu.
Namun di balik kesuksesannya, beberapa psikoanalis menafsirkan karya hebatnya sebagai cermin dari orientasi seksual Dodgson yang menyimpang. Unsur-unsur kekerasan dan sadistik dalam novel Alice dianggap sebagai produk neurosisnya.

White Rabbit

Dodgson yang melajang sampai akhir hayatnya, digunjingkan sebagai pedofil heteroseksual yang mengoleksi gadis-gadis kecil sebagai ‘boneka.’
Mundurnya Dodgson dari dunia fotografi dikaitkan dengan gosip foto telanjang gadis di bawah umur. Setelah 1880, dia melanjutkan menggambar mereka telanjang.
Namun orientasi seksualnya itu dianggap menjadi pembangkit motivasi bagi kreativitasnya.

Well, jadi sekarang gue tau apa sebabnya selama ini gue menganggap penulis Alice itu seorang perempuan. Karena, Dodgson memang sangat memahami dunia gadis-gadis kecil yang menjadi sahabatnya…Soal orientasi seksualnya? Whatever lah. Yang penting kan karyanya diakui sebagai karya yang hebat.
--------------------------------

First, she tried to look down and make out what she was coming to, but it was too dark to see anything; then she looked at the sides of the well, and noticed that they were filled with cupboards and book-shelves; here and there she saw maps and pictures hung upon pegs.

(Chapter One-Down the Rabbit Hole)

Catterpillar

Bagian satu yang tentang Alice melongok-longok ke lubang kelinci sempet bikin gue jadi tergila-gila sama segala lubang yang ada di tanah waktu masih kecil.
Kalo liburan di rumah Nenek dan main ke sawahnya, gue selalu menyempatkan diri melongok-longok segala lubang yang ada. Kadang-kadang itu bikin buruh-buruh tani yang lagi ngurusin sawah nenek gue teriak-teriak, “Neng, jangan kesitu, nanti ada ularnya!”
Retno kecil langsung merengut kecewa. Yaaaah… lubang ular! Kirain lubang kelinci. Hehe.

***

1 comment:

Gloria Putri said...

hahhahaha....mau tiru2 Alice malah dibacok ular nanti....ixixixixixi
aq suka filmnya nih........soalnya soundtrack nya jg bagus, Avril gitu lohh...hhahhahahaha

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...